Setelah menempuh perjalanan dari Seoul, Hana akhirnya tiba di Donggang Riverview Natural Recreation Forest, Gangwon-do, bersama Haejun dan Jiyoon. Udara pagi yang sejuk langsung menyambut kedatangan ketiganya.
Di hadapan Hana, Sungai Donggang mengalir tenang dengan permukaan air yang berkilau diterpa cahaya matahari pagi. Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan air, sementara pepohonan rimbun di sepanjang tepian sungai menguarkan aroma tanah basah dan pohon pinus.
“Wah!” seru Jiyoon dengan mata berbinar lebar
Jiyoon langsung melonjak turun begitu pintu mobil dibuka. Jaket merah cerah yang dikenakannya berkibar ketika ia berlari kecil menuju area lapangan.
“Jiyoon-ah, jangan jauh-jauh!” seru Hana sambil membuka bagasi.
Baru beberapa langkah, Jiyoon sudah berjongkok di bawah pepohonan, sibuk mengumpulkan ranting-ranting kecil yang berserakan di tanah. Melihat tingkah putrinya, Hana hanya menggeleng kecil, lalu mulai menurunkan barang-barang dari bagasi.
Di sisi lain, Haejun turun dengan ransel yang ukurannya hampir menyaingi tubuhnya. Ia memasang wajah serius, lalu berjalan menuju tenda.
“Haejun-ah, sini. Biar Mama bantu,” ujar Hana sambil mengulurkan tangan.
“Aku bisa sendiri, Ma.” Haejun menggeleng cepat sambil kembali mencengkeram tali ranselnya.
Baru beberapa langkah berjalan, tubuh Haejun terhuyung ke samping. Dengan cepat, Hana meraih bagian belakang ransel dan menahannya agar tidak jatuh.
Hana menyipitkan mata sambil menahan senyum. “Katanya bisa sendiri?”
Haejun mengangkat dagu. “Tadi aku bisa, Ma.”
Tawa kecil lolos dari bibir Hana. Ia berlutut dan melepaskan ransel itu dari pundak. “Lain kali bilang kalau butuh bantuan, ya.”
Haejun menatap ranselnya yang berada di tangan Hana, lalu mengangguk kecil. “Baik, Ma.”
Tak lama kemudian, Hana mulai menyiapkan tenda. Ia menoleh kepada Haejun dan Jiyoon yang berdiri tak jauh darinya. “Haejun-ah, bantu Mama pasang pasaknya, ya. Jiyoon-ah, kamu bantu bentangkan terpal.”
“Siap!” Haejun langsung mengambil palu plastik kecil yang sudah disiapkan Hana. Ia menggenggamnya dengan kedua tangan dan mulai memukul pasak dengan wajah penuh konsentrasi. “Berhasil!” serunya setelah pasak tertancap cukup kuat.
“Aku juga siap!” Jiyoon segera mengambil ujung terpal dan menariknya ke sisi lain. Namun, baru beberapa langkah, salah satu kakinya menginjak tanah yang masih basah. “Aduh!”
Hana yang melihatnya langsung berbalik dan menghampiri. “Jiyoon-ah!”
“Aku tidak apa-apa, Ma!” Jiyoon buru-buru mengangkat kedua tangannya sambil tertawa.
Hana menghela napas lega. “Hati-hati, Sayang.”
Jiyoon mengangguk cepat. “Oke, Mama.” Ia meraih tangan Hana, lalu bangkit dan kembali mengambil ujung terpalnya.
Setelah memastikan semuanya terpasang dengan baik dan kokoh, Hana membereskan beberapa barang yang masih berserakan, lalu mengajak keduanya berjalan menyusuri jalan setapak di tepi Sungai Donggang.
Haejun beberapa kali memperlambat langkah ketika melihat kupu-kupu beterbangan di antara dedaunan. Sesekali ia berlari kecil mengejar salah satunya, lalu kembali menyusul Hana yang berjalan di depan. Sementara itu, Jiyoon sibuk mengumpulkan batu-batu pipih di pinggir sungai. Satu per satu batu itu dilemparkannya ke permukaan air, membuatnya bersorak setiap kali berhasil memantul. Hana tersenyum melihat tingkah putrinya, lalu melanjutkan langkah sambil sesekali menoleh untuk memastikan keduanya tetap berada di dekatnya
Mereka terus menyusuri tepian sungai, sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan dan bermain di sekitar. Ketika matahari mulai meninggi dan udara terasa semakin hangat, Hana mengajak kedua anaknya kembali ke tenda untuk beristirahat sekaligus menyiapkan makan siang.
Sesampainya di tenda, Hana mulai menyiapkan makanan. Aroma kimchi, japchae, dan sup ayam ginseng perlahan memenuhi udara, sesekali pandangannya tertuju pada kedua anak yang sedang bermain bersama beberapa anak lain di lapangan. Haejun berlari mengejar teman barunya, sedangkan Jiyoon sesekali berputar kecil sambil tertawa mengikuti anak-anak lain.
Hana tersenyum kecil. Pandangannya mengikuti Haejun dan Jiyoon yang berlarian bebas di hadapannya. Namun, senyumnya memudar ketika melihat Jiyoon berlari semakin jauh.
“Jiyoon-ah! Pelan-pelan!” teriak Hana panik.
Bruk!
Tubuh kecil Jiyoon menabrak seseorang yang berdiri di tepi sungai. Pria itu sedikit terhuyung ke belakang, lalu Jiyoon kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas rumput.
“Aduh!” Jiyoon meringis sambil memegang lututnya.
Hana segera meletakkan sendok kayu yang dipegangnya dan berlari menghampiri. Begitu juga dengan Haejun yang berada di lapangan.
“Jiyoon-ah!” teriak Hana dan Haejun bersamaan.
Pria yang ditabrak Jiyoon segera berjongkok di hadapannya. Ia menatap Jiyoon khawatir. “Kamu tidak apa-apa?”
Jiyoon mengusap lututnya yang mulai memerah. “Lututku sedikit sakit, Ahjussi.”
Begitu sampai, Hana segera berjongkok. Tangannya berpindah dari bahu hingga lutut. “Yang sakit cuma lutut?”
Jiyoon mengangguk. “Iya, Ma.”
“Tidak ada yang lain?” tanya Hana memastikan.
“Tidak.”
Hana memeriksa lutut itu sekali lagi , lalu menghembuskan napas lega. “Syukurlah.”
Jiyoon kemudian bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya, lalu menghampiri pria yang tadi ditabraknya. “Maaf, Ahjussi,” ucapnya sambil membungkuk kecil.
Pria itu terdiam sejenak. “Tidak apa-apa. Yang penting kamu tidak terluka.” Tangannya terangkat, lalu mengusap puncak kepala Jiyoon dengan hati-hati.
Hana ikut berdiri dan membungkuk sopan. “Maafkan anak saya. Dia terlalu bersemangat kalau sedang bermain.”
“Tidak masalah.”
Hana mengangkat wajah. Pandangannya sempat bertemu dengan kacamata hitam pria itu, lalu ia melirik putrinya. “Sebagai permintaan maaf, maukah Anda bergabung makan siang bersama kami?”
Pria itu tampak terkejut. “Anda serius?”
Hana terdiam sejenak. “Kalau Anda tidak keberatan,” ucapnya sambil tersenyum.
Belum sempat pria itu menjawab, Jiyoon sudah lebih dulu meraih tangannya. “Ayo, Ahjussi!”
“Jiyoon-ah …” panggil Hana sambil mengulurkan tangan. Namun, Jiyoon sudah lebih dulu menggenggam tangan pria itu dan menariknya menuju tenda. Hana menghela napas, lalu segera menyusul keduanya.
“Maaf, dia memang seperti itu,” ucap Hana tersenyum canggung.
Pria itu tertawa tipis. Sementara Jiyoon terus berjalan di sampingnya menuju tenda, Haejun memperlambat langkah dan mendekat kepada Hana. Sesekali, ia melirik tamu itu dari samping dengan tatapan curiga.
“Ma,” panggil Haejun setengah berbisik.
Hana menoleh. “Hm?”
“Bagaimana kalau dia orang jahat?”