Senin pagi itu, suasana kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Hana berdiri di dekat jendela, membiarkan pandangannya menyusuri hiruk-pikuk kota Seoul di balik kaca. Namun, pikirannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu di lobi TigerLab—langkahnya yang terburu-buru, tubuhnya yang kehilangan keseimbangan, hingga tangan seorang pria yang menyentuh pinggangnya.
Selama ini, Hana terbiasa menjaga batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Ia tetap bisa berjabat tangan atau melakukan kontak fisik seperlunya dalam batas profesional. Namun, sentuhan yang terjadi di lobi TigerLab berlangsung begitu cepat hingga ia tidak sempat bereaksi.
Kini, ingatan itu muncul kembali. Hana menundukkan wajah. Tatapannya jatuh pada jalanan di balik kaca, tapi bayangan tangan pria itu masih terasa di pinggangnya. Detak jantungnya semakin cepat hingga membuatnya mengalihkan pandangan.
“Tenang ...” bisik Hana pelan.
Hana menjauh dari jendela dan menarik kursi, lalu duduk sambil menyandarkan punggung dan memejamkan mata sejenak hingga pikirannya kembali tenang. Kemudian, ia meraih segelas air di atas meja dan meneguknya, meletakkan kembali gelas itu sambil mengembuskan napas panjang.
Baru saja Hana hendak kembali bekerja, derap langkah kaki terdengar tergesa dari lorong dan semakin mendekat ke arah ruangan. BRAK! Pintu ruangannya terbuka lebar, membuat Hana spontan menoleh.
“Hanaaaaa-ya!”
Hana memutar kedua bola matanya. “Ada apa, Miyeon-ssi?”
Miyeon mengangkat map tebal yang digenggamnya. “Akhirnya!”
Hana mengernyit. “Apa?”
“Cyber Tyrab resmi mengajukan proposal kerja sama sesi konseling dengan Harmony Psychology!”
Mata Hana membulat. “Benarkah?”
“Benar!”
Miyeon segera menyodorkan map tersebut. Hana menerimanya dengan kedua tangan, lalu membuka halaman pertama. Matanya bergerak menyusuri setiap baris yang tercetak di sana, memastikan nama TigerLab, nama Cyber Tyrab, serta nama Harmony Psychology tercantum dalamnya.
Senyum kecil muncul di wajah Hana. Ia membalik beberapa halaman untuk memastikan isinya, lalu menutup map itu. “Miyeon-eonnie,” suaranya bergetar hebat. “Ya Allah, akhirnya.”
Miyeon tertawa lebar. “Aku sudah bilang, kan? Kita akhirnya bisa bekerja sama dengan Cyber Tyrab!”
Hana mengangguk beberapa kali dengan mata berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara, ia segera memeluk. “Alhamdulillah.”
Miyeon membalas pelukan sambil tertawa. “Setelah semua proposal yang kita kirim dan rapat yang kita lewati, akhirnya sampai juga di tahap ini.”
Hana melepaskan pelukan itu. Pandangannya kembali jatuh pada map di tangannya. Senyum di wajahnya belum juga hilang.
Selama ini, kerja sama dengan TigerLab bukan sekadar sebuah proposal bagi Harmony Psychology. Ada banyak waktu, tenaga, dan pembahasan yang telah dicurahkan untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Kini, setelah melalui proses yang panjang, proposal itu akhirnya benar-benar berada di tangan Hana.
“Akhirnya, kerja sama kita dengan Cyber Tyrab benar-benar terjadi,” ucap Hana lirih.
Miyeon mengangguk puas. “Selamat, Sajangnim.”
Hana tersenyum kecil sambil mengusap sudut matanya yang sudah basah. Pandangannya kembali tertuju pada map di tangannya. Kali ini, senyum di wajahnya tak lagi disembunyikan.
***
Di bawah terik matahari, Hana berdiri tegak di depan gedung pencakar langit megah TigerLab. Jantungnya kembali berdebar kencang karena kegugupan sekaligus kebahagiaan yang meluap. Hari ini menjadi puncak dari target ambisius perusahaannya yaitu menjalin kerja sama sesi konseling dengan Cyber Tyrab.
Sebelum melangkah masuk, Hana berhenti terlebih dulu. Ia memeriksa dokumen yang dibawanya dan memastikan semuanya tersimpan rapi di dalam tas. Setelah itu, jemarinya merapikan blazer merah muda yang dipadukan dengan kemeja putih bersih. Ia turut merapikan celana wide-leg dengan warna senada.
Hana menarik napas dalam-dalam. Hari yang telah lama dinantikannya akhirnya tiba. Ia menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat, lalu melangkah menuju pintu utama TigerLab.
Begitu pintu kaca besar itu terbuka, embusan udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyentuh kulitnya. Hana melangkah masuk dan mendapati lobi TigerLab terbentang luas di hadapannya. Desain minimalis modern dengan aksen metalik mendominasi ruangan, menciptakan kesan mewah dan elegan.
Sepatu hak tinggi Hana menapak di atas hamparan marmer putih yang dipoles hingga berkilau seperti cermin. Cahaya dari lampu kristal di langit-langit memantul di permukaan setiap kali ia melangkah. Di tangan kirinya, sebuah kotak kardus berisi cupcake buatannya sendiri tergenggam erat. Hadiah kecil itu, sengaja ia siapkan untuk mencairkan suasana saat bertemu staf manajemen Cyber Tyrab.
Hana mengarahkan pandangan ke deretan lift berlapis krom di ujung lobi. Jemarinya terasa sedikit dingin begitu menekan tombol lantai teratas. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dengan suara halus. Hana melangkah masuk dan berdiri di dalam ruang sempit itu sambil tetap menjaga kotak cupcake agar tidak bergeser.
Pintu lift kembali tertutup. Beberapa saat kemudian, deru mesin terdengar pelan saat lift mulai bergerak menuju lantai manajemen Cyber Tyrab.
Ting!