Evermore

Dear An
Chapter #9

Pembicaraan Terselubung

Cahaya matahari masuk melalui dinding kaca, menerangi meja di antara Hana dan Jihoon. Buku catatan serta beberapa lembar berkas tertata rapi di hadapan Hana, dan suasana ruangan terasa begitu tenang.

Hana membuka buku catatannya. “Kalau begitu, mari kita mulai, Choi Jihoon-ssi.” Ia mengangkat wajah. “Bagaimana keadaan Anda belakangan ini?

Jihoon mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Jadwal saya belakangan ini cukup padat, Hana-saem. Hampir tidak ada waktu di antara syuting, promosi, dan konser.”

Hana mengangguk sambil mencatat beberapa poin di buku catatan. “Selain aktivitas sebagai idola, Anda juga mengelola TigerLab. Bagaimana Anda membagi waktu untuk keduanya?”

“Tidak mudah.” Jihoon menyatukan jemarinya di atas pangkuan. “Saya harus mengawasi operasional perusahaan, mengurus manajemen Cyber Tyrab, menghadiri rapat, sampai mengambil keputusan untuk jangka panjang.”

“Lalu, kapan Anda punya waktu untuk beristirahat?” tanya Hana sambil mencatat jawaban sebelumnya.

“Biasanya, setelah semua pekerjaan selesai,” jawab Jihoon singkat.

Hana menghentikan gerakannya dan menatap Jihoon. “Lalu, kapan pekerjaan itu selesai?”

Jihoon mengernyitkan alis. Jemarinya yang bertaut di pangkuan sedikit mengerat. “Maksud Anda?”

“Ketika Anda sudah meninggalkan kantor, apakah Anda bisa berhenti memikirkan pekerjaan?” Hana meletakkan pena di samping buku catatannya. “Atau, pikiran Anda masih dipenuhi pekerjaan yang belum selesai?”

Pertanyaan itu membuat Jihoon terdiam. Ia sempat membuka mulut, tapi urung. Selama ini, ia menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawab yang dijalani.

“Kadang, saya masih memikirkan pekerjaan,” jawab Jihoon akhirnya. “Tapi, bukankah itu wajar? Saya tidak bisa begitu saja mengabaikan tanggung jawab, hanya karena jam kerja sudah selesai.”

“Tentu saja, saya tidak meminta Anda mengabaikan tanggung jawab.” Hana menyandarkan punggungnya. “Saya hanya ingin tahu, apa Anda masih bisa menikmati waktu di luar pekerjaan?”

Jihoon menggeser posisi duduknya. Entah mengapa, pertanyaan itu terasa lebih sulit dijawab daripada yang ia bayangkan. “Saya masih bisa.” Ia mengalihkan pandangan dari Hana. “Kalau, memang ada waktu.”

Hana memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi Jihoon. “Lalu, apa yang biasanya Anda lakukan saat memiliki waktu luang?”

“Beristirahat. Kadang berolahraga atau melakukan hal lain.”

“Apakah itu membuat Anda merasa lebih baik?”

Jemari Jihoon saling mengusap. Ia berusaha mencari jawaban, tetapi tak kunjung menemukannya. “Saya tidak tahu,” katanya setelah beberapa saat. “Saya tidak pernah memikirkan hal itu.”

Hana menganggukan kepalanya beberapa kali. “Tidak apa-apa, kita tidak harus menemukan semua jawabannya sekarang.”

Jihoon mengangkat wajah, menatap Hana dengan penuh rasa ingin tahu. “Apakah Anda selalu mengajukan pertanyaan seperti ini kepada klien, Saem?”

“Pertanyaan seperti apa?” Hana balik bertanya.

“Pertanyaan yang membuat seseorang memikirkan hal-hal yang selama ini bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya.”

Senyum tipis muncul di bibir Hana. “Saya hanya mencoba memahami apa yang sedang Anda alami. Kadang, seseorang sudah terbiasa menjalani rutinitasnya, sampai tidak menyadari bagaimana keadaan itu mempengaruhi dirinya.”

Jawaban itu membuat Jihoon kembali berpikir. Ia sudah beberapa kali menjalani sesi konseling bersama psikolog yang mendampingi Cyber Tyrab. Biasanya, pembicaraan mereka berfokus pada tekanan pekerjaan, cara mengelola stres, dan menjaga kesehatan mental. Namun, sesi bersama Hana terasa berbeda. Perempuan itu tidak terburu-buru memberikan solusi atau memaksa menceritakan sesuatu. Ia justru mengajukan pertanyaan yang membuat Jihoon menyadari, betapa jarang ia memikirkan keadaannya sendiri.

“Belakangan ini, bagaimana kondisi tidur Anda?” tanya Hana setelah memberi jeda.

Lihat selengkapnya