Kiara Juno membangun hidupnya di atas satu keyakinan, yaitu cinta hanya akan menghancurkan segalanya, seperti pada kehidupannya di masa lalu saat orang tua Kiara meninggalkanya bahkan saat ia belum benar-benar mengenal seisi dunia.
Ditinggalkan oleh masa lalu yang tak pernah benar-benar bisa membuatnya sembuh, Kiara memilih untuk tidak memberi ruang bagi siapa pun di hatinya. Hidupnya sudah ia susun rapi—tanpa distraksi, tanpa romansa, hanya satu tujuan besar: yaitu masuk ke Cambridge.
Dan lolos beasiswa untuk menempuh pendidikan di salah satu sekolah bertaraf internasional di Jakarta seharusnya menjadi awal yang sempurna untuk hidup Kiara.
Dan Kiara sudah siap menghadapi tekanan, persaingan, bahkan kesepian—selama itu membawanya lebih dekat pada mimpinya.
Yang tidak ia siapkan… adalah perasaan.
Di sekolah barunya, banyak yang mencoba mendekat.
Dan setiap pendekatan serta pernyataan cinta yang hendak merangkak meraih hati Kiara, selalu berhasil Kiara tepis dengan berbagai cara.
Karena sekali lagi, Kiara tidak akan pernah memberi kesempatan bagi siapapun untuk memiliki hatinya.
Baginya, jatuh cinta itu klise.
Menyakitkan.