“KI! KEMANA AJA, SIH? Capek banget gue telfon sampe lima belas kali baru diangkat sekarang!”
Suara Dimple melengking tajam, menembus gendang telinga bahkan sebelum Kiara sempat mengucap kata ‘Halo’.
Kiara menjauhkan ponselnya sejenak, meringis demi melindungi pendengarannya, sebelum ia kembali menempelkan benda pipih itu ke telinga.
“Kan gue udah pernah bilang, Di, gue kalo udah di rumah sakit tuh jarang pegang ponsel. Hari ini aja shift gue tuh penuh banget sampai tengah malam. Ini pun gue baru selesai nanganin pasien di IGD. Ada kecelakaan beruntun di daerah King County, di bawanya ke Washington Memorial. Lima belas orang patah tulang dan cedera berat, butuh penanganan ekstra. Mana bisa gue megang ponsel ditengah orang-orang lagi kritis begini.”
Kiara menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa, membiarkan gravitasi sekaan mengambil alih tubuhnya yang remuk redam. Ia mengatur napas yang terasa pendek-pendek, sementara di ujung telepon, Dimple mendesah penuh penyesalan.
“Yah, sorry, Ki. Gue suka lupa kalau lo tuh sekarang sudah jadi dokter. Sesering apa pun kita kontak-kontakan, meski belum ketemu juga nih sampe sekarang, gue tetep ngerasa lo itu temen SMA gue yang sibuknya cuma belajar, belajar, dan belajar.”
Kiara terkekeh hambar. “Emang lo pikir jadi dokter sekarang gue nggak belajar lagi? Gue ini residen, Di. Belajarnya dokter residen tuh jauh lebih gila daripada waktu kita jadi murid di SMA.”
Tawa Dimple pecah di seberang sana. “Ya udah maaf maaf, anyway, lo udah dapet E-Invitation dari Reva belum?”
Kiara mengusap wajahnya yang terasa suntuk serta agak lengket sambil melempar tanya. “E-Invitation? Dari Reva? Undangan apaan?”
Dimple langsung berdecak gemas. “Ih, tuh kan. Belum berarti. Coba lo cek email lo sekarang.”
Dengan gerakan enggan, Kiara menjauhkan ponsel. Jemarinya bergerak lambat membuka lampiran email. Begitu di-refresh, di antara tumpukan email medis dan administrasi rumah sakit yang masuk ke kotak masuk, sebuah nama tak asing muncul. Dari teman lama Kiara di British School Jakarta dulu, mengirimkan sebuah undangan reuni.
Kiara kembali menempelkan ponsel ke telinganya. “Di, ini beneran sekolah kita mau ngadain reuni? Di Bali?”
Dimple bergumam mengiyakan, dengan suara kasak-kusuk di latar belakang.
“Iya, Ki. Dua minggu lagi. Ya cuma angkatan kita aja. Tapi Reva rencananya mau bikin acara reunian nya nggak monoton gitu. Lo tahu kan dia dari dulu jenius dan agak unik? Dia mau kita semua kumpul dan menginap di satu tempat yang sudah dia sediakan di Bali. Ya, sekitar dua harian lah. Guna nya katanya buat saling life update gitu atas pencapaian-pencapaian yang sudah kita lakukan setelah lulus dari BSJ. Lo baca aja detailnya, kayaknya bakal seru banget.”
Sebenarnya, ini bukan soal seru atau tidaknya acara itu. Menurut Kiara juga, buat apa juga reunian untuk saling tukar life update pakai ada acara Slumber Party segala.
Masalahnya, sudah bertahun-tahun Kiara seperti kehilangan keinginan untuk kembali terbang ke Indonesia—tempat dimana ia lahir dan di besarkan. Meskipun rasa rindu akan tanah kelahirannya itu sering kali hadir, Kiara tahu bahwa tidak ada lagi yang tersisa di Indonesia yang membuatnya jadi ingin pulang kesana.
Sadar akan jeda panjang yang menggantung di udara, Dimple kembali bersuara dengan nada yang kali ini lebih pelan.
“Nggak ada James kok, Ki.”
Suntuk yang menggelayuti pikiran Kiara sejak tadi seketika sirna. Kantuk yang hampir menutup kedua matanya langsung menguap begitu saja saat nama itu meluncur dari bibir Dimple.
Untuk satu detik yang terasa fatal, Kiara seakan kehilangan keseimbangan untuk berpikir jernih. Namun, detik berikutnya, realita menyeret Kiara kembali menapak bumi.
“Emang kenapa juga kalau ada dia?” tanya Kiara, berusaha terdengar acuh tak acuh.
Hembusan napas mengejek Dimple terdengar sangat jelas di seberang telfon.
“Ki, nggak usah berkilah deh sama gue. Nggak mempan!” Dimple menjeda, memberi Kiara ruang untuk mencerna. “Lagian, dia itu sekarang pasti sibuk banget. Ya gimana, produser film Blockbuster gitu. Mana bisa dilawan level kesibukannya di samain dengan budak korporat dan pebisnis lokal kaya kita gini? Ngarepin dia datang ke reuni kecil-kecilan kaya gini mah sama aja kayak ngarepin Christopher Nolan ikut dateng ke reunian angkatan kita. Which is, nggak mungkin banget! Gue yakin, tuh Gentleman British nggak bakal mau nongol di acara sepele kayak reuni sekolah.”
Kiara hanya bisa terkekeh pelan di sela letih yang nyaris membuatnya limbung ke lantai ruang kerjanya. Dimple ini memang selalu punya cara untuk mencairkan suasana disaat topik yang mereka sedang bahas ini sama sekali tidak menyenangkan.
Kiara ingin sekali mengingatkan Dimple kembali, agar sahabatnya itu tidak perlu menyebut seseorang dari masa lalu Kiara, yang jika namanya disebut, selalu berhasil membuat setiap sel dalam tubuh Kiara melemah.
Namun kelelahan fisik serta batin membuat Kiara bahkan tidak bertenaga hanya untuk sekadar menyanggah. Jadi, dibiarkannya Dimple menyerocos tanpa tahu yang mendengarnya saat ini tengah menekan dada nya kuat-kuat, guna menghalau degup jantungnya yang kembali berpacu tak menentu.
Ternyata, menyingkirkan diri selama bertahun-tahun sampai ke seberang benua, demi mencegah hati Kiara robek kembali saat dirinya mendengar nama ‘itu’, tetap tampak sia-sia saja.
Mendengar nama itu disebut lagi, dengan cara sesederhana apapun, tetap terasa mengusik luka lama Kiara.
Kiara menengadah, menatap langit-langit ruang kerja nya dengan tatapan menerawang.
Kebungkaman Kiara membuatnya hampir lupa bahwa Dimple masih menunggu jawabannya di seberang telfon.
“Ki? Masih hidup, kan? Belum pingsan gara-gara gue nyebut nama tuh cowok?”
Tawa Kiara kali ini menyembur.
Dasar Dimple.
“Di, gue ini di Seattle. Dari Seattle ke Bali tuh bukan kaya dari Senopati ke Cempaka Putih. Nggak deket, Di. Dan lo kan juga tahu sendiri, jadwal shift ini gue segila apa? Besok gue kirim aja deh lewat email, jadwal shift gue beserta kegiatan apa aja yang akan gue lakukan sebagai residensi Ortopedi, biar lo lihat sendiri, kalau dalam beberapa bulan ke depan, gue bahkan nggak punya waktu buat ambil cuti tiga hari aja.”
“Ki, tapi gue juga tahu kalau sejak hari pertama lo jadi residen, lo belum pernah ambil cuti sama sekali,” balas Dimple telak. “Ronald itu kepala rumah sakit di Grace Hospital. Gue bisa minta dia kasih referensi ke kepala residensi di tempat lo buat ngasih izin cuti seminggu. Just a week, Ki. Lagian, lo nggak mau lihat bisnis kafe kita di Bali? Lo rajin jadi donatur doang sih, tapi nggak mau ngecek perkembangan bisnis lo sendiri sekarang sesukses apa.”