(8 years ago...)
Hari itu merupakan hari keempat belas Kiara bersekolah di British School Jakarta. Selama dua minggu itu pula, sebuah rutinitas baru resmi terbentuk dalam jadwal paginya sesaat setelah ia baru keluar dari halte busway rute Bintaro.
Tepat 300 meter dari pemberhentian halte busway, Kiara akan selalu menyempatkan diri memesan segelas es cokelat di satu kafe dekat sekolahnya. Bagi Kiara, rasa es cokelat di kafe kecil tersebut benar-benar surgawi, suntikan semangat untuk memulai harinya di sekolah. Selain harganya yang masih ramah di kantong Kiara yang pas-pasan, rasanya pun luar biasa lezat.
Kiara memang bukan pecinta kopi. Satu seruput kafein saja bisa membuatnya terjaga semalaman suntuk. Sedangkan cokelat bagi Kiara adalah terapi penenang sebelum ia harus berkutat dengan gunungan tugas akademis di sekolah.
Ia merasa sangat beruntung, dengan berjalan kaki sejauh 300 meter dari BSJ ke halte busway membawanya menemukan ‘harta karun’ tersembunyi di dekat sekolah elitnya tersebut.
“Look, i’ve said it thrice now! You better listen fucking carefully before i throw this whole thing right to your face.”
Suara lantang di depan kasir menyentak Kiara dari fokusnya membaca buku. Kiara tatap punggung lebar seorang cowok berperawakan tinggi menjulang di depannya yang sedang sibuk mengomel di depan kasir dengan kening berkerut dalam.
Seorang cowok bule. Dilihat dari belakang, rambutnya berwarna cokelat terang dengan aksen British yang kental tidak berhenti mengomel dengan nada kasar. Suaranya berat, dengan penekanan konsonan yang tajam pada setiap katanya yang terucap untuk pelayan didepannya.
“I’d like a double-shot, oat-milk decaf flat white, pipping hot, with a spot of honey. Not sugar. Honey! H-O-N-E-Y, do you follow? Come on, mate. It’s not a rocket science.”
Dari balik punggung cowok itu, Kiara bisa melihat sang pelayan mengerjap bingung. Jemarinya gemetar, menggantung ragu di atas layar tablet pesanan.
“Anu… Mas, eh, Mister, I… no, talk, english, Mister. Double kopi hitam? Pakai… gula? Sugar?”
“NO! Honey! Holly calf, i even spelled it out for you. H-O-N-E-Y! Honey! Are you deaf or stupid?”
Cowok itu menggebrak meja kasir. Tidak terlalu keras memang, namun cukup untuk memicu atensi Kiara sepenuhnya hingga buku A Brief History of Time karya Stephen Hawking yang sejak tadi menemaninya untuk mengantri di kafe jadi menggantung di tangannya begitu saja, karena sekarang Kiara berubah geram dengan intonasi arogan cowok didepannya.
“If you can’t get a simple order right, maybe you shouldn’t be behind the till!”
Sebenarnya, Kiara adalah tipe orang yang paling anti ikut campur urusan orang lain. Namun, melihat wajah pelayan yang sudah merah padam karena malu bercampur takut menghadapi kasarnya intonasi ucapan cowok bule itu, hati nurani Kiara akhirnya memaksanya untuk mengambil tindakan insiatif.
“Excuse me, maybe i could help you to transl—”
“Hey, i don’t need your help! Could you shut the fuck up and do your own thing!? I can handle a bloody coffee order for myself, thank you very much.”
Kiara tersentak, luar biasa kaget melihat kemarahan cowok itu kini jadi meluap padanya bahkan sebelum Kiara sempat menyelesaikan niat baiknya.
Untuk satu detik yang terasa panjang, cowok yang kini berputar arah menatap Kiara tidak berkutik.
Kiara mendongak, menatap gurat emosi dan kerutan yang berlipat ganda di kening si cowok British di hadapannya. Matanya berwarna abu-abu kehijauan, sangat tajam dan dingin tanpa senyuman.
Namun, untuk sesaat, Kiara merasakan mata tajam itu memindai sosoknya sedikit lebih lama. Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik.
Cowok itu tiba-tiba berdeham, membuang muka dengan kikuk saat menyadari Kiara tidak gentar sedikit pun saat mata mereka bersinggungan lebih lama daripada yang seharusnya.
Sementara itu, sang pelayan masih berdiri kaku ketakutan. “Aduh, i’m sorry, Mister. Can you… repeat… repeat lagi… aduh, gimana ngomong bahasa Inggrisnya, ya?”
Keheningan yang memalukan kembali menyelimuti area kasir. Cowok di depan Kiara memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya yang mancung. Bahunya yang tegang perlahan meluruh, sebuah tanda bahwa ia mulai menyerah pada keadaan.
Dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh, cowok itu kembali berbalik menatap Kiara. Kali ini, tatapannya tidak setajam tadi, melainkan penuh kekesalan yang bercampur pasrah.
“Fine. Tell him. Translate it,” gumam cowok itu sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Kiara ingin sekali memutar bola matanya, atau bahkan yang lebih ekstrem, menghantamkan buku tebal Stephen Hawking di tangannya tepat ke hidung si cowok itu sampai patah.
Namun, Kiara juga yakin ekspresinya yang datar saat ini sudah cukup mewakili rasa muaknya terhadap tingkah arogan cowok itu.
Sambil melangkah maju ke meja kasir, Kiara mencondongkan tubuh ke arah si kasir.
“Dia pesen Flat White susunya ganti susu gandum aja, Mas. Oatmilk. Tahu, kan? Kopinya yang Decaf. Buatnya juga harus yang panas banget. Terus pemanisnya pakai madu ya mas, jangan gula putih.”
Wajah pelayan itu langsung cerah seketika. “Oh, kopinya pakai susu gandum tanpa kafein dan pakainya madu, ya? Oke, siap, Kak! Beres!”
Cowok di samping Kiara terpaku. Ia menatap Kiara dan pelayan itu bergantian dengan bingung.
“That’s it? You sure he understood about the detail of my order?”
Kiara kini mengganti ekspresi datarnya tadi dengan tatapan 'Lebih-Baik-Kubunuh-Saja-Kamu-Sekarang-Juga'.
Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa keduanya sejak kecil, Kiara menatap berani manik tajam di hadapannya.
“Aksen Cockney atau Estuary kamu itu tidak akan membantu apapun di sini. Kalau mau pesan kopi di Jakarta, turunkan sedikit ego kamu atau setidaknya gunakan bahasa inggris yang lebih sederhana dan mudah di pahami. Zaman sekarang semuanya sudah serba canggih. Tanpa perlu pakai emosi, kalau orang yang kamu ajak bicara tidak mengerti bahasa Inggrismu, yang perlu kamu lakukan cukup dengan buka Google Translate di ponsel mu yang aku yakin sudah canggih sekali itu. Di sini, pelayannya tidak akan paham istilah ‘piping hot’ atau ‘dregs’ yang kamu ucapkan. Sekali lagi, ini Indonesia. Kamu tidak bisa berharap seenaknya mengucapkan semua keinginanmu dengan bahasa yang kamu bawa dari negara asalmu lalu bersikap semua orang di dunia ini harus paham sendiri apa yang kamu mau."
Cowok itu terdiam seribu bahasa, benar-benar terpaku. Sebelum ia sempat membalas, si pelayan kasir menyerahkan nota pemesanan kepada cowok itu dengan tangan masih sedikit gemetar.
“Mbaknya yang cantik mau pesan es cokelat lagi ya, yang kaya kemarin?” tanya pelayan itu ramah.
Kiara memutus kontak mata dengan cowok itu dan tersenyum pada sang pelayan sambil mengacungkan jempol. “Saya bayar cash ya, Mas.”