Sepasang roti panggang, peanut butter, warm milk, dan salad sayur tampak kesepian dan acak-acakan di meja makan. Pisau untuk mengoles kacang teronggok di atas piring dan mengotorinya. Raya menengoknya sebentar lalu ke dapur, mengambil kotak bekal dan mengisi botol minumnya. Ia kemudian mendekati kompor dan mematikan api kecil yang tetap dinyalakan, padahal sang koki sedang berkeliaran entah ke mana. Nasi goreng kecap yang belum teraduk sempurna itu masih belum diangkat dan mengepulkan asap beraroma gosong. Raya kemudian memindahkan ke piring dan membawanya ke meja.
Normalnya orang lain akan celingak-celinguk mencari keberadaan penghuni rumah, tapi keluarga ini tidaklah normal. Raya sudah mendapat jawabannya tanpa perlu bertanya-tanya.
Gadis yang mengurai rambutnya itu duduk sendirian, menikmati roti kosong yang pinggirannya telah dikupas. Ia menatap lurus ke arah kamar Raga, menanti Bima dan Aruna keluar karena semestinya mereka di sini juga. Ia sudah menghabiskan dua potong roti, tapi masih tak kunjung muncul. Ah, mungkin seharusnya memang tidak ditunggu, pikirnya, mengingat ia-lah yang kemarin terakhir kali bersama Raga dan menyadari sarapannya kali ini tak mungkin sunyi tanpa penyebab. Namun, saat hendak beranjak, Raya mendengar suara boots papanya. Ia kembali duduk, mengambil roti lagi, dan menggigitnya hingga tersisa tiga perempat.
"Pagi, Sayang," sapa Bima. Ia mendekati Raya dan mencium kening putrinya sebelum duduk dan menyantap nasi goreng favoritnya.
"Pagi juga, Pa."
"Makasih ya, Ra. Maaf tadi Mama buru-buru jadi main tinggal aja." Aruna menyusul dan segera membersihkan kekacauan di dapur. Ia menaruh wajan di wastafel dan mengisinya dengan air, lalu mengelap kompor dan dinding yang terciprat bumbu masakan.
"Nggak apa-apa, Ma. Diberesin entar aja. Raya bantuin."
"Nggak usah, nanti telat."
Bima mengangguk. "Bener kata Mama. Kamu cepat habiskan sarapan kamu terus berangkat. Naik ojol nggak apa-apa, kan? Papa mau ngantar Mama dan kakakmu ke rumah sakit."
"Sekalian titip surat izin ya, Ra," tambah Aruna.
"Iya, Ma."
Raya lekas meminum susu hangatnya yang tak hangat sama sekali. Ia menggigit bibir, memainkan roknya, dan mengentak-entak lantai konstan. Aruna sudah menyelesaikan urusannya dan kini duduk bersama mereka. Raya ingin bersuara, selagi ada kesempatan, tapi takut merusak suasana. Ia juga takut ditolak, lagi. Ia terus-terusan menunduk dan menghitung kancing baju, mengulang keberuntungan apakah ia harus mengungkitnya atau tidak.
Menyadari gelagat aneh putrinya, Aruna pun bertanya, "Ada apa, Ra? Ada yang mau kamu omongin?"
Masih maju mundur, Raya refleks menelan ludah. "I-itu, Mama dan Papa inget nggak, ini tanggal berapa?"
Aruna dan Bima langsung saling pandang. Keduanya tampak clueless dan mencari jawaban dari arti tatapan masing-masing, tapi nihil. Mereka mulai gugup, takut mengecewakan karena tak tahu apa-apa, meski kalau tahu pun belum tentu mereka bisa memuaskan putrinya. Aruna bersiap hendak meminta maaf namun Raya tetaplah Raya. Ia lebih dulu menggenggam tangan orang tuanya dan tersenyum manis.
"Lupa, ya? Nggak apa-apa. Nanti sore Raya ada seleksi di klub, buat pemilihan delegasi ke turnamen UBC."
"Oh iya." Bima sontak mengusap wajahnya. "Maaf, Papa lupa, jadi nggak ambil libur, Nak. Hari ini tetep harus kerja."
"Maaf juga, Sayang, Mama hari ini—"
"Jagain Raga di RS, ya. It's okay." Raya melepas genggamannya lalu memasukkan kotak bekal yang ia isi sendiri ke bagian belakang tas.
Aruna melirik Bima sekilas dan mengembuskan napas kasar. Raut mukanya penuh rasa bersalah. Ia segera menyentuh lengan putrinya hingga Raya bergeming. "Mama janji, nanti pas turnamennya pasti nonton kamu."
"Iya, Papa juga."
Raya manggut-manggut kecil. "Aamiin, semoga aja lolos."
"Pasti lolos." Aruna tersenyum sambil mengusap kepala Raya. "Anak Mama pasti lolos. Semangat ya, Sayang."
Tak ada lagi yang Raya ucapkan. Ia segera pamit dengan alasan driver ojek online-nya sudah menunggu di depan, padahal ia belum memesan. Gadis itu lebih memilih berjalan hingga halte terdekat—sekitar dua ratus meter—dan menaiki bus yang baru datang setelah ia menunggu selama lima menit. Untung hari masih pagi, jadi ia tidak takut terlambat.
Raya tak kebagian tempat duduk. Ia berdiri sambil menatap jendela di depannya hingga pikirannya berkeliaran, memikirkan 'jawaban alternatif' yang mungkin saja terdengar lebih baik, seperti "kalau bisa pulang lebih awal nanti Papa sempatkan ya" atau "nanti kalau Raga sudah tidur dan ada ners yang jagain Mama sempatkan ya", tapi buat apa pula merancang skenario sendiri seperti ini? Sejak awal, Raya bukanlah tokoh utama dalam cerita papa dan mamanya.
Selama di sekolah, gadis itu hanya melakukan apa yang harus dilakukan: menyerahkan surat izin Raga ke wali kelasnya, mendengarkan ocehan guru, menagih uang kas, mengerjakan tugas, dan makan siang di warung Mbok Jami. Ia menyimpan energinya agar bisa bertanding dengan maksimal.