Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #3

Chapter 3 - Pain That We Share Together

Kehadiran Raya tidak pernah disambut. Ia tiba di rumah sakit saat senja sudah menghilang. Aruna hanya bertanya apakah Bima sudah di rumah atau belum. Perihal ia makan apa, kapan, dan di mana, atau ia ke sini naik angkot atau ojek online, tidaklah terpikirkan. Ia lantas duduk di samping Raga yang masih tidur, menggantikan mamanya yang kini menghirup udara segar di luar kamar. Andai ini di teras rumah mereka sendiri, sudah pasti wanita itu duduk menikmati malam bersama secangkir kopi, rokok, dan lamunan yang tak pernah Raya ketahui.

"Lo udah dateng."

Suara serak sang kakak sontak menyadarkan Raya. Ia pun mengangguk. "Mau minum?"

Raga menggeleng dan tersenyum. "Pesenan gue mana?"

"Ah, iya."

Raya segera mengangkat tote bag-nya dan menaruh di atas kasur. Ia lalu mengeluarkan ponsel, novel Paper Town karya John Green, headphone bluetooth, dan lampu baca yang ia ambil dari reading zone Raga—sebuah perpustakaan kecil di sudut kamar. Ia juga membawa pouch transparan berisi index notehighlighterpen, dan beberapa stiker vintage, barangkali Raga mau melanjutkan anotasinya—sudah ada beberapa catatan di halaman-halaman awal. Kini hanya tersisa dompet koin dan tumbler 350 ml di dalam tasnya.

"Thanks, ya." Rona muka Raga memerah dan ia terlihat lebih baik hanya dengan menghidu aroma buku yang telah menguning itu.

Raya bernapas lega. "Nevermind. Dari Laura lagi, ya?"

"The one and only."

"Emang dia nggak marah kalau bukunya lo 'apa-apain'?"

"Enggak, kan buku yang dikasih ke gue nggak bakal dia minta lagi. Minjem di kamus kita tuh berarti udah jadi hak milik."

"Dih!"

Raga tertawa saat melihat reaksi adiknya. Lalu, tak ada percakapan lanjutan di antara mereka. Raya beranjak dan berbaring di sofa, menatap gedung mewah melalui jendela sebelum akhirnya memejamkan mata. Semula Raga ingin melanjutkan rasa penasarannya terkait seleksi sang adik siang tadi, tapi melihat energi Raya yang seolah drop hingga tersisa dua puluh persen, ia no comment. Sebagai makhluk Tuhan yang hidup berdampingan dengan rasa lelah, ia bisa memaklumi itu dan bersimpati.

"Eh, Mama nge-chat."

"Apa?"

"Katanya …," Raga sedikit ragu, "dia ada urusan jadi baru bisa balik ke rumah sakit besok pagi."

"Oh, oke."

Raya pun mendengkus. Pesan yang datang seolah-olah cukup menjelaskan apa yang sedang terjadi itu memiliki maksud tersirat, yaitu ia harus menginap, menggantikan mamanya dalam menjaga Raga karena tidak ada kalimat lanjutan bahwa papa mereka akan ke sini. Padahal, ia tidak merencanakannya sama sekali.

"Lo juga pulang aja, gih."

"Nope. Gue tidur sini. Udah lo baca aja sono. Gue mau merem."

"Tapi Ra—"

"Night."

Raya segera memunggungi Raga. Pulang di saat seperti ini sama saja cari mati, meski sebenarnya yang Raya dapatkan hanya pertanyaan-pertanyaan klasik, seperti kenapa kakaknya dibiarkan sendirian, memang kamu tega, kalau ada apa-apa bagaimana, dan lain-lain. Jadi, walaupun hal yang Raya lakukan cuma tidur di sofa dengan kaki menggantung dan selimut supertipis, ia tetap tinggal.

Raga pun terdiam. Ia lekas mematikan lampu utama agar Raya bisa terlelap. Dalam gelap itu, ia mengandalkan lampu baca yang menyinari sepetak halaman yang ia sorot dan melanjutkan petualangannya bersama Q dalam memecahkan misteri hilangnya Margo hingga selesai. Sesekali ia terbatuk di balik bantal, menyembunyikan suaranya sebisa mungkin, kemudian mengecek gerak-gerik Raya yang kerap memukul betis dan memijat lengan. Setidaknya, ia tetap terlelap, meski terganggu dan tidak nyenyak, batinnya.

Ponsel Raga tiba-tiba bergetar dan hampir jatuh dari atas nakas. Untunglah refleksnya bagus, jadi adiknya tidak terbangun dan panggilan jauh itu tetap diangkat tepat waktu.

Lihat selengkapnya