Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #4

Chapter 4 - Pain That We Wish Never Happened

Setelah seminggu dirawat dan mengantongi lampu hijau dari dokter, Raga diperbolehkan pulang. Flunya sudah mendingan dan ia tak lagi demam. Meski begitu, Raya tetap kurang percaya. Melihat betapa lemas dan pucat kakaknya itu sekarang seolah-olah asupan tidur dan infus berhari-hari masih belum cukup. Namun, mau bagaimana lagi. Sesering apa pun Raga mengatakan ‘baik-baik saja’, ia akan tetap geleng-geleng dan meragukan segala hal. Menurut Raya, kata-kata semacam itu hanya frasa yang belum ada buktinya hingga saat ini.

“Lo bisa diem nggak, sih? Biar gue yang beresin.”

Belum ada lima detik masuk ruang rawat Raga, Raya sudah berkacak pinggang dan berjalan cepat ke arah kakaknya yang sedang menata baju. Ia telat datang dari perjanjian mereka karena harus mengurus administrasi kepulangan lebih dulu. Mamanya juga kelamaan tarik uang di ATM minimarket yang superantre, jadi semuanya serbalambat. Mood Raya makin berantakan karena Niki terus-menerus mengirim pesan. Setelah ini ia harus ke tempat latihan. Secepatnya.

Raga beringsut-ingsut menuju sofa, ngeri sendiri dengan ekspresi adiknya. Gadis itu memasukkan baju secara tak sabaran sampai-sampai lipatannya buyar tak karuan. “Ya da-daripada nganggur nungguin lo, kan.”

“Mending nganggur,” jawab Raya ketus sambil menutup ritsleting tas

Akhirnya mereka tak berbicara lagi. Raya segera memapah Raga seperti biasa dan tangan kirinya menjinjing tas lelaki itu. Sopir suruhan Bima yang sudah menunggu di depan lobi pun melambaikan tangan dan mendekat.

“Eh, eh, nggak usah, Pak. Saya bisa sendiri.” Raya menggeleng saat lelaki paruh baya itu hendak membantu.

“Nggak apa-apa, Neng. Saya aja. Ayo, masuk.”

“Makasih ya, Pak.”

Setelah mendapat anggukan, Raga masuk lebih dulu dan duduk di belakang. Raya refleks mengangkat tangan dan menghalangi benturan di atas kepala lelaki itu sambil terus memegangi pintu. Ia kemudian duduk di samping kakaknya dan membiarkan Raga bersandar di pundaknya sepanjang perjalanan pulang.

Pandangan Raya terpaku pada kemacetan lalu lintas di balik jendela. Ia meraba kaca yang sedikit buram itu lalu menurunkannya sedikit, memberi ruang udara untuk masuk karena mobil tua ini tak ber-AC. Ia butuh udara segar setelah naik turun tangga dan mencium bau obat-obatan. Namun, Jakarta tetaplah Jakarta dengan asap kendaraan yang bisa membunuh kakaknya.

“Sori, sori,” ucapnya pelan saat mendengar Raga terbatuk.

“Santai aja.”

Gimana mau santai kalau lo begini?

Raya mendengkus. Mendengar tarikan napas kakaknya yang berat dan patah-patah selalu memberi dua kesan yang kontras dan menyiksa: tenang karena setidaknya Raga masih ada di sisinya, juga resah karena rasanya kapan saja lelaki itu bisa pergi. Pertanyaan-pertanyaan gila pun terbersit di benaknya. Bagaimana jika kekhawatiran itu berubah menjadi doa yang tak ingin ia amini? Seketika Raya menggeleng dan menampar pipi. Genggamannya pada Raga pun menguat. Keringat di sekitar tengkuk juga tiba-tiba bermunculan. Ia segera mengusap wajah dan mengucir rambut sebahunya, mengenyahkan pikiran yang terlalu liar.

“Sudah sampai, Neng.”

Seruan tersebut membuat Raya tersentak sadar. “Oh, iya. Makasih, Pak.”

Dengan pelan, Raya mengusap lengan Raga dan sedikit menepuk-nepuknya. Ia menghindari bekas infus kakaknya itu yang membengkak dan kemerahan. Setelah diberi tahu beberapa kali, Raga terbangun lalu jalan sendiri ke ruang tamu, sementara Raya dan sopir menurunkan barang.

“Eh, lo sendirian nggak apa-apa, kan? Gue mau cabut latihan, udah ditungguin Niki dari tadi. Mumpung Pak Luki nawarin tumpangan,” tanya Raya usai menaruh tas Raga di kamar.

Lelaki yang mengenakan beanie hat cokelat itu buru-buru berdiri. “Gue ikut, dong.”

“Hah? Nggak, nggak. Mending istirahat di rumah.”

“Ck, bosen istirahat mulu, Ra. Gue udah kebanyakan tidur di rumah sakit.”

“Nggak ya enggak. Entar kalau kecapekan terus kolaps lagi gimana? Baru juga keluar.”

“Kecapekan ngapain, sih? Gue diem doang di sana.”

Raya belum mau kalah. “Terus kalau Mama marah gimana?”

“Kan bisa pulang sebelum dia di rumah.”

 “Gue mana tau kapan baliknya.”

“Halah paling sebelum magrib kayak biasanya.” Raga mendekat dan menarik-narik kaus Raya. “Gue ikut, ya? Nggak bakal ganggu, kok. I’m swear. Gue cuma pengen lihat lo main. Kemarin pas seleksi kan gue nggak bisa datang. Boleh ya, Ra? Please ….”

Lagi-lagi Raya mendengkus dan memutar bola matanya malas. “Ya udah lah, terserah.”

Kakak adik itu langsung ke GOR sebelum hari makin sore dan situasi makin runyam. Setelah sampai, Raya tergopoh-gopoh ke ruang ganti lalu menemui pelatih dan pemain lain yang sudah pemanasan sejak tadi. Tanpa pesan ia meninggalkan Raga yang kini duduk di barisan depan tribun penonton. Lelaki itu menghindari segerombolan supporter yang ada di sisi kanan—agak ke belakang—yang sibuk meneriaki nama Niki berkali-kali. Bukannya risi, Raga justru tertawa kecil. Ia rindu dengan antusias itu.

Karena terlambat, Raya mesti dihukum lari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali. Setiap melewati Raga, ia melirik sinis dan melayangkan protes melalui mimik wajah. Raga hanya bisa terkikik di balik maskernya dan mengacungkan tiga jari tanda cinta: ibu jari, jari telunjuk, dan kelingking. Sesekali ia juga mengambil gambar memakai ponsel, mengabadikan momen langka tersebut—Raya termasuk anak rajin yang selalu tepat waktu.

“Eh, itu kakaknya Raya bukan, sih?”

“Kayak iya deh, yang katanya sakit terus pernah drop out pas SMP, kan?”

“He’eh, mirip.”

Seketika Raga bergeming. Ia lantas menurunkan tangan senatural mungkin dan kembali menyimpan ponselnya di dalam saku. Bisik tak bertuan itu tidak sengaja ia dengar. Kalau bisa memilih, ia tidak ingin mendengarnya sama sekali. Namun, ia juga tak berani menegur. Bahkan, untuk menoleh saja ia enggan. Raga tidak mau membuat suasana menjadi canggung.

Lihat selengkapnya