Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #5

Chapter 5 - Pain That We Fear Will Stay Forever

Aroma roti panggang dan asap knalpot angkutan kota menguar dari pakaian Aruna. Wanita itu turun setelah berdesakan dengan banyaknya pekerja pabrik yang baru pulang juga. Ia lalu berjalan kaki dari halte menuju rumah sambil menenteng sekotak martabak telor dan dua bungkus nasi goreng. Sayup-sayup azan magrib dari masjid kompleks mengiringi langkahnya yang berat dan lemas. Sesekali ia berhenti, memukuli betis yang terasa linu, kemudian melanjutkan perjalanan yang tak seberapa jauh.

Kening Aruna berkerut saat lampu rumah belum dinyalakan. Ia lantas berlari kecil, segera masuk dan mencari anak-anaknya di kamar, tapi nihil. Di taman samping dan dapur pun kosong. Hanya ada selembar post it yang ia temukan tertempel di kulkas, bertuliskan: Raga ikut Raya latihan ya, Mama Sayang. Aruna lekas mengecek ponsel, tidak ada pesan masuk berupa izin apa-apa. Bima juga tidak mengatakan sesuatu dan tidak bisa dihubungi pula.

“Latihan di mana ya hari ini?”

Aruna berdecak dan refleks mengacak rambut. Ia mendengkus sambil terus mencoba menelepon Raga dan Raya, tapi keduanya sama-sama tidak aktif. Kemungkinan low battery atau sengaja dimatikan agar tidak diganggu. Aruna makin geram dan mondar-mandir tidak jelas. Kini ia menunggu di depan pintu dengan raut khawatir. Pasalnya imun Raga belum seratus persen pulih dan Aruna tidak ingin kemoterapi putranya kembali diundur karena masalah sepele.

Nyeri pada kaki yang wanita itu rasakan seolah sirna begitu saja. Ia bahkan belum berganti baju apalagi bersih diri. Tenggorokannya yang kering dan serak juga tak segera dibasahi air putih karena ia tak mau meninggalkan teras sama sekali.

“Mas!” Aruna menghampiri suaminya saat mobil lelaki itu sampai lebih dulu. Ia langsung melongok ke kursi penumpang dan tidak ada siapa-siapa. “Nggak jemput anak-anak?”

“Lah, emang mereka ke mana?”

Ibu dua anak itu spontan menepuk jidat. “Raga ikut Raya latihan katanya, tapi nggak bilang-bilang ke aku, Mas. Izin ke kamu, nggak? Kan biasanya Raya selalu cerita.”

Bima menggeleng. Ia berjalan masuk dan duduk di ruang tamu. “Hape Mas eror. Nggak tau kenapa dari tadi kedap-kedip terus. Perlu diservis kayaknya.”

“Kita susul aja lah, Mas. Perasaanku nggak enak.”

“Sabar dulu. Mungkin kena macet makanya belum nyampek rumah.” Bima menjawab santai. “Tolong buatkan kopi, Run.”

Meski ogah-ogahan beranjak, Aruna tetap menuruti permintaan Bima. Ia juga mengambil air minum untuk dirinya sendiri. Pasutri itu lantas duduk di sofa, menunggu sang buah hati yang baru tiba setelah setengah jam berlalu.

Usai mengucap salam, Raya menelan ludah. Ia sudah mengira akan terlambat karena Raga memaksanya jajan di luar—makan batagor dan nongkrong di depan wall climbing GOR—selagi bisa dan kebetulan tidak ramai. Ia tidak bisa menolak karena keseharian Raga sudah banyak direnggut oleh aktivitas rumah sakit. Sederhananya, ia tidak tega, terlebih mata kakaknya saat memohon selalu berbinar—seperti berkaca-kaca—dan membuatnya luluh. Ia seakan lupa sejenak dengan konsekuensi yang harus dihadapi.

“Kalian dari mana?” tanya Aruna seraya berdiri. Bima lekas menarik tangan istrinya untuk duduk kembali, tapi wanita itu menepisnya kasar.

Seketika Raga memutar bola matanya. Tawa dari percakapan mereka sebelum melewati pintu langsung sirna. Ia mengembuskan napas kasar dan bersedekap.

“Mama nggak ngecek post it di kulkas? Raga udah jelas bilang kalau ikut Raya latihan.”

Aruna mendekat. “Kenapa kamu nurut gitu aja sama kakakmu, Ra? Dia baru pulang dari rumah sakit lho. Kamu mau Raga sakit lagi?”

Raya terus menunduk, menghindari tatapan mamanya. Ia sontak mencengkeram celana kuat-kuat hingga kukunya menembus kulit.

“Raga yang maksa, Ma.” Lagi-lagi Raga-lah yang menjawab.

Namun, Aruna tetap berbicara pada putrinya. “Kenapa nggak kamu tolak, hah? Kalau emang kakakmu ngeyel, kan bisa nggak usah latihan aja, nemenin dia di rumah. Sekali-sekali bolos nggak masalah daripada ceroboh begini. Kamu paham, nggak?”

“Ma-maaf, Ma.”

“Udah, Run.” Bima mendekati Raya dan memeluk putrinya dari samping. “Kamu nggak denger apa kata Raga tadi? Dia yang mau sendiri, jadi nggak usah menyalahkan anak gitu, lah.”

“Aku nggak nyalahin, Mas. Cuma kan—”

Lihat selengkapnya