Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #6

Chapter 6 - Pain That We Hide from Others

Rintihan kecil dari dalam kamar Raga menarik perhatian Raya untuk singgah. Gadis itu berhenti di depan pintu sambil memegang kenop, seolah bimbang ingin masuk atau berbalik arah saja dan beristirahat di kamarnya sendiri. Namun, ia tetap memilih mengetuk perlahan dan mendekati tubuh yang sedang meringkuk, bergelung dengan selimut.

“Ga?” panggil sang adik pelan. Namun, tidak ada jawaban, selain erangan pilu. Raya lalu mengecek suhu badan Raga menggunakan punggung tangannya. Sungguh panas.

Raga separuh sadar saat Raya melakukan itu, tapi ia tidak memiliki tenaga untuk menanggapainya. Terlalu banyak pikiran membuat kepalanya terasa mau pecah. Sekujur tubuh juga nyeri dan berkedut, seperti ditusuk dan dijatuhi beban berkilo-kilo beratnya. Ia bahkan susah bergerak. Satu gerakan saja akan membuat sendi-sendinya meronta.

Raya lekas menyalakan lampu dan mengabil obat dari dalam laci—yang biasa Raga minum saat seperti ini. Setelah membantu kakaknya duduk dan memberikan sebungkus pil beraneka macam, ia bergegas mengambil air di atas nakas. Raga lekas menerima dan meminumnya hingga tandas. Saking buru-burunya, ia sampai terbatuk beberapa kali dan membasahi celana Raya. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan berkat pening dan panas yang mendera. Lelaki itu hanya terbaring kembali tanpa mengucapkan apa pun.

Dengan cepat tangan kiri Raya menahan tubuh Raga yang sudah lemas, sementara tangan kanannya menumpuk dua bantal sebelum digunakan kakaknya itu—agar bisa bernapas dengan baik. Ia lalu menarik selimut yang sudah basah oleh keringat dan menggantinya dengan kain yang lebih tipis karena hawa tubuh Raga sangat panas. Raya juga mengambil handuk kecil dari dalam kamar mandi dan sebaskom air hangat dari dapur. Kakinya terus bergerak ke sana kemari, seakan latihan sore tadi tidak menyita sebagian besar energinya.

“Lo udah maafin gue?” Lirih, Raga mengucapkannya dengan mata terpejam.

Raya mengusap—membersihkan—lengan kakaknya dengan lembut. “Gue nggak pernah marah sama lo.”

“Lo emang nggak marah sama gue, tapi sama keadaan.”

“Dan itu bukan lo yang mau, jadi nggak ada yang perlu dimaafin.”

Tapi ….

Raga bergeming. Raya memang benar, tapi benaknya tidak tenang. Ia tetap merasa bersalah, meski maafnya tidak akan memperbaiki apa-apa. Ia pun bangun dan tersenyum tipis saat mendapati Raya beralih membenahi pinggiran seprai yang kusut tak karuan. Meski matanya terasa lengket dan pedih, ia enggan tidur lagi dan tetap memandangi tingkah adiknya yang belum bisa diam. Kini gadis itu menggelar kasur dan menyalakan lilin aroma lavender yang ada di meja belajar. Berbekal teddy bear dan selimut dari kamarnya sendiri, ia tidur di lantai, di samping Raga.

Raga tidak pernah keberatan dengan tamu tak diundang satu ini, tamu yang pintar bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Lelaki itu berusaha miring menghadap Raya dan mengucap, “Good night, have a nice dream.”

Raya mengangguk dan segera mematikan lampu kamar. “Have a nice dream, Ga.”

Mimpi indah, mimpi tentang lo yang baik-baik aja dan bisa ngapain aja.

“Jangan lupa bangun ya, Ga.”

Meski di sana lo bisa jadi versi terbaik yang lo mau, tetep balik lagi jadi kakak gue di sini ya.

Raga yang masih mendengar itu seketika tertawa kecil. “Iya, besok bangunin, deh. Pasang alarm yang banyak.”

“Hem.”

Kakak adik itu lantas menutup mata, menyelami dunia karangan yang mereka ciptakan. Cahaya lilin dan aromanya yang menenangkan membawa mereka dalam lelap yang diimpikan semua orang. Kini hanya bunyi detak jam dinding yang mengisi ruangan.

Sementara itu, di dalam kamar para orang tua, Aruna duduk dan menunduk di depan meja rias. Bima baru saja selesai beribadah dan tengah melipat sarung saat sang istri hendak menyalakan rokok. Ia lekas mengambil alih batang mematikan itu sebelum api menyulutnya. Sebagai suami, ia sudah hafal apa yang akan dilakukan istrinya saat pikiran jenuh dan stres bukan main, seperti sekarang.

“Keluar dulu, Run,” ajak Bima ke taman samping dan Aruna pun menurut.

Lihat selengkapnya