Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #7

Chapter 7 - Pain That We Ignore Sometimes

Minggu pagi, Aruna membawa giant cookies, chocolate crombolini, dan empat gelas fresh milk ke taman rumah sesuai request Raga. Bima sudah menyulap tempat itu menjadi lapak piknik semi outdoor yang tetap rindang dan menyegarkan, meski terik matahari dan hawa panas Jakarta sedang gila-gilanya. Berbekal tikar lipat dan mini fan portable, Raga dan Raya bermain uno sambil menunggu tamu mereka datang.

“Mama dan Papa ke rumah Om Faris, ya. Makan siangnya udah di-wrap, tinggal dipanasin aja. Nggak apa-apa, kan?” tanya Aruna pada Raya yang memegangi sepuluh kartu sekaligus.

“Nggak apa-apa, Ma. Hati-hati, ya. Salam buat Om dan Tante.”

“Iya.” Aruna lalu menghampiri Raga dan membenahi beanie hat putranya itu. “Obatnya jangan lupa. Kalau ada apa-apa langsung telpon.”

Raga hanya mengangguk. Ia terlalu fokus dengan warna kartu yang Raya buang ke tengah permainan mereka. Toh, kepergian Aruna dan Bima ke rumah om atau tante dari Keluarga Wijaya bukan hal baru dan tidak menarik pula. Kakak adik itu memilih tidak bertanya karena dalam hal ini tidak tahu apa-apa adalah yang terbaik.

Raya menyomot cromboloni dari RaRa Bakery dan menggigitnya brutal, sampai-sampai isiannya bocor dan mengotori tangan. Ia pun menatap Raga sinis karena jumlah kartu mereka kini berbeda dua kali lipat. Kakaknya itu tiba-tiba menyeringai dan tertawa kencang yang amat menyebalkan saat lagi-lagi gambar plus empat keluar dari deretan kartunya. Sontak Raya mendegkus. Ini sudah kali kedua Raga berbuat jail.

“Kalah mulu lo, Ray?”

Sang empunya nama lekas menoleh dan berkacak pinggang saat sosok yang tak kalah rese datang dengan tangan kosong. “Berisik lo. Dari mana aja? Udah telat, nggak bawa apa-apa juga.”

Lelaki yang mengenakan ripped jeans dan kaus oblong hitam itu hanya mengangkat bahu. Dengan santai ia meminum segelas susu yang memang untuknya dan duduk di kursi pantai di samping mereka. Raga refleks geleng-geleng dan berinisiatif mengambilkan Raya kartu karena gadis itu masih sibuk mengomel. Ia sudah terbiasa melihat pemandangan ini—percekcokan kecil antara adiknya dan tetangga mereka, Lukas—jadi tak perlu heran lagi.

“Buruan kelarin, dong. Gue ikutan.”

“Lo nggak lihat kartu gue sebanyak apa, hah?”

“Oon sih, lo. Sini gue yang main.”

Raya berdecak lalu memberikan kartu miliknya begitu saja. Ia memilih menjemput Thea, sahabatnya, yang sudah ada di depan rumah, tapi belum bisa masuk sendiri karena kerepotan. Gadis itu mau repot-repot membawa banyak peralatan dan bahan barbeque-an yang sudah direncanakan sejak minggu lalu, hitung-hitung sebagai perayaan lolosnya Raya ke turnamen UBC. Raya sudah mengantongi izin dari mamanya dan berjanji akan berhati-hati selama memasak.

Usai tiba ke taman samping dan bergabung dengan para lelaki, Raya dan Thea menyiapkan acara BBQ mereka. Lukas yang memang dipanggil untuk bantu-bantu menyalakan panggangan lekas berdiri dan bekerja, sementara Raya mencuci sayur dan Thea meracik bumbu. Raga seperti biasa hanya mendokumentasikan itu semua dan duduk dengan manis.

“Eh, Ra, gimana latihan pertama lo sama Niki?” tanya Thea memecah hening. Spontan Raga ikut membuka telinga karena penasaran dengan partner terbaru adiknya.

So-so.”

“Masak, sih? Kata Bianca, Niki tuh suka sama lo sejak kejuaraan tahun lalu. Ya kali main bareng crush biasa aja.”

Raga menelan ludah. Ia masih menutup mulut dan menyimak obrolan panas yang tak boleh ia lewatkan ini.

“Salah orang kali. Ngobrol aja kita nggak pernah, selain bahas strategi.”

“Bener, tuh. Mana mungkin ada yang demen cewek jadi-jadian kayak gini, yang tiap hari ngomel mulu kayak emak-emak jaman VOC.” Lukas menunjuk Raya menggunakan penjepit gorengan.

“Bisa, nggak, lo sehari aja nggak bikin gue emosi?” Raya membalasnya dengan menciprati air dari baskom.

“Enggak. Siapa suruh lo punya abang diem banget, nggak nge-reog, nggak usil. Jadi gue aja yang gantiin.”

“Siapa bilang? Lo belum tau aja sisi gelapnya.”

Raga yang tiba-tiba terserat sontak mengerutkan kening. “Salah saya apa ya, Kak?” ucapnya sok imut.

Lihat selengkapnya