Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #8

Chapter 8 - Pain That We Hate So Much

Sisa-sisa tawa di taman samping rumah masih terasa. Raga enggan beranjak, meski hari sudah berganti malam dan semilir angin mulai menembus kulit pucatnya. Lelaki itu justru membawa laptop dan buku catatan berisi konsep naskah dan outline cerita yang sempat ia diskusikan dengan Laura. Ia bersungguh-sungguh ingin menamatkan ceritanya sebelum ia sendiri yang tamat. Ia ingin berusaha semaksimal mungkin sebelum menyerah.

Not gonna lie, Raga mulai mencintai literasi setelah Laura mengajaknya masuk dan bersenang-senang di dalamnya. Ia mulai jatuh cinta pada dunia yang membuatnya bisa berkeluh kesah tanpa seorang pendengar dan dapat berkelana tanpa harus ke mana-mana. Meski skill Raga masih mentah dan masih banyak hal yang mesti dipelajari, ia bertekad mengikuti writing competition dari GWP, platform menulis online naungan Gramedia Group. Menang atau kalah memang bukan taruhannnya. Ada hal yang lebih besar yang ingin ia sampaikan, juga pertaruhkan.

“Kok nggak di dalem aja?” Raya menghampiri kakaknya dengan bersungut-sungut. Ia menenteng selimut tipis bermotif floral—miliknya—dan segera melemparnya ke arah Raga. “Nih, pake!”

Raga sontak tertawa kecil. “Makasih.”

Setelah lelaki berkaus putih itu menaruh laptopnya di atas meja dan nyelimuti kakinya, Raya kembali menyodorkan jaket. “Ini juga.”

Lagi, Raga menurut. Ia masih tersenyum saat Raya memilih duduk di sebelahnya, alih-alih masuk rumah dan bermain game di kamar—war dengan teman online-nya. Gadis itu hanya melihat-lihat, seperti mencoba memahami apa yang Raga tulis, tapi percuma saja karena dokumen berjudul “1st Draft Bulu Kelana Lana” itu masih kosong. Sudah setengah jam berlalu dan Raga belum dapat apa-apa. Author’s problem.

“Lo nulis apa, sih, Ga?”

“Rahasia,” ucap Raga dan Raya bersamaan.

Gadis yang menggulung kaus lengan panjangnya itu seketika mendengkus. Ia memutar bola matanya dan bergeser satu jengkal menjauhi kakaknya. Raga belum berubah. Ia masih saja menyembunyikan hal tak penting itu dari Raya. Raga hanya bercerita pada Laura, dan jujur, Raya sedikit tidak menyukai itu. Ia tidak suka perasaan yang membuat dadanya berdegup tak karuan hanya karena ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Ia tidak mau menjadi outsider dalam hidup Raga.

Sementara Raga hanya tertawa. Ia mendekat dan mengacak rambut Raya hingga berantakan. Adiknya itu tak memberontak, hanya mengerucutkan bibir dan bersedekap membelakanginya.

“Lo jelek kalau manyun-manyun begitu.”

“Bodo.”

Raga geleng-geleng. Ia lalu mencubit pipi chubby adiknya sebelum menatap layar putih mengenaskan yang sudah meronta-ronta untuk diisi. Namun sayangnya, kehadiran Raya makin membuatnya terjebak. Idenya tidak mau keluar dan setiap keluar pasti ia hapus lagi. Ia bukan tipe penulis yang bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Sungguh indah kalau iya.

Gemas dengan kelakuan kakaknya, Raya lantas bertanya lagi, “Kenapa sih tinggal nulis aja susah amat.”

“Nggak sreg. Masih ada yang kurang, tapi nggak tau apa.”

Raya menghela napas frustrasi. “Kan bisa ditulis aja dulu, entar kalau udah selesai bisa dibaca lagi, baru di-edit yang kurang yang mana. Kalau lo tulis-hapus mulu mah kapan kelarnya. Udah malam nih, masuk angin baru tau rasa!”

“Iya, iya.”

Raga tidak mau berdebat, atau waktunya makin terbuang sia-sia. Minimal malam ini ia bisa menyelesaikan satu bab, walau paragraf pertamanya belum juga rampung. Bagi Raga, membuat awalan adalah part tersusah dalam menulis. Jika ia sudah bisa membuatnya, ia bisa leluasa merangkai paragraf-paragraf selanjutnya. Sayangnya menciptakan opening yang bombastis dan langsung bikin pembaca hook itu sulit minta ampun.

Untung kini Raya diam saja. Ia tetap di samping Raga, tapi beralih menatap bintang-bintang dan bersandar pada kursi lelaki itu. Ia tidak ingin masuk rumah dan membiarkan Raga sendiri di taman, tapi ia juga tidak ingin mengganggu, jadi itulah yang ia lakukan.

Dulu waktu kecil, Raga dan Raya suka iseng membuat garis khayalan yang menyatukan antarbintang. Mereka akan membuat tebak-tebakan, benda atau bentuk apakah yang diciptakan masing-masing dan berbagi tawa karena jawabannya tidak pernah benar. Imajinasi kakak adik itu tidaklah sama dan di sanalah keindahan yang sesungguhnya.

Raya tersenyum mengingatnya. Ia lantas memejamkan mata dan melanjutkan memori menyenangkan itu sampai tak sengaja jatuh terlelap.

Lihat selengkapnya