Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #9

Chapter 9 - Pain That We Fight For

Suara kok yang memantul dari berbagai sisi lapangan memenuhi suasana GOR siang ini. Raya dan Niki baru saja memenangkan satu set dan berpindah tempat. Pasangan itu terus maju mundur bergantian, menerima umpan dari lawan yang melayangkan smash menukik bertubi-tubi—mungkin mereka balas dendam karena baru saja dikalahkan. Tetes demi tetes keringat mulai berjatuhan hingga tangan terasa lengket. Meski begitu, Raya tetap menggenggam raket erat-erat dan rela jatuh bersamanya, asal skor lawan tidak bertambah.

“Gue ambil” teriak Niki saat melihat Raya kesusahan berdiri setelah menyelamatkan kok di ujung net.

Raya mengangguk, meski hal itu tak dapat dilihat oleh rekannya. Ia kemudian bersiaga di belakang dan membantu Niki yang sudah mem-back up-nya beberapa kali. Permainan mereka mulai bisa dinikmati saat Raya kembali dengan lompatan tingginya dan memanfaatkan spot kosong di kiri dan kanan, membuat lawan kewalahan dan terkecoh dengan pergerakannya.

Nice!” Coach Ari refleks bertepuk tangan saat smash terakhir Niki mengakhiri permainan.

Raya mendekati Niki dan menjabat tangan lelaki itu. Mereka saling senyum dan manggut-manggut, puas dengan latihan kali ini, meski baru dua jam berlalu. Pasangan ganda campuran itu lantas menghampiri pelatih mereka yang sudah menyodorkan dua botol air minum.

Raya pun selonjoran. Ia sedikit menaikkan kakinya dan disandarkan pada bagian tribun paling bawah, sementara Niki duduk bersila sambil mengipasi diri. Mereka kompak menyeka keringat menggunakan handuk kecil yang tak pernah lupa dibawa. Coach Ari menunggu mereka istirahat beberapa menit dulu sebelum memberikan komentar.

Turnamen UBC atau Unira Badminton Competition akan diselenggarakan sepuluh minggu lagi. Intensitas latihan para atlet bertambah, yang semula seminggu sekali jadi dua bahkan tiga minggu sekali, tergantung kebutuhan dan arahan Coach. Mereka juga bisa latihan mandiri di luar jadwal yang telah ditentukan. Namun, tidak untuk Raya. Ia tidak bisa lebih dari itu, atau mamanya akan mengoceh tanpa henti. Untunglah Niki sangat memaklumi, asal ketika latihan Raya dalam keadaan maksimal, jadi di waktu-waktu yang terbatas ini tetap bisa menghasilkan output terbaik.

“Gimana, Coach?” tanya Raya membuka percakapan, sebab pelatih mereka tak akan bersuara sebelum mereka merasa benar-benar sudah siap mendengarkan.

“Kerja sama tim kalian makin meningkat akhir-akhir ini. Saya suka. Pertahankan, ya. Tetap sering-sering komunikasi buat mengenal teknik andalan satu sama lain, dan bicarakan strategi yang akan kalian pakai.”

“Baik, Coach.” Niki melirik Raya sekilas lalu menghela napas lega. “Oiya, menurut Coach Ari, kita perlu lihat permainan lawan kita nanti, nggak? Biar bisa baca dan mempelajari teknik mereka.”

“Bisa aja kalau kalian mau dan bisa. Emang udah tau siapa yang bakal ikutan?”

Niki mengangguk. “Coach ingat rekan saya pas turnamen di Pekanbaru tiga bulan lalu? Kata sahabat saya di Surabaya, dia ikut UBC dan ganda campuran juga.”

“Si Kamal itu? Ingat, ingat. Wah, berat juga.”

Raya menelan ludah dan memajukan tubuhnya. “Sebagus itu, ya?” tanyanya penasaran karena belum mengenal siapa Kamal ini.

“Dia pemenang emas ganda putra tahun lalu, bareng sama gue.”

Shit, dari kawan jadi lawan. Raya mengedipkan mata konstan dan duduk dengan benar. Ia mencondongkan tubuhnya dan menatap Niki yang tampak supersantai mengetahui fakta itu.

“Berarti jago banget, dong? Partner-nya siapa? Jago juga.”

“Gue nggak tahu kalau itu. Nggak kenal.” Niki mengangkat bahu. “Tapi klubnya sering live streaming Instagram pas mereka latihan. Kita bisa lihat-lihat permainan mereka dari sana. Iya, nggak, Coach?”

“Boleh, boleh. Ide bagus. Biasanya kapan?”

“Minggu pagi. Di luar jadwal kita, sih.”

Raya tersenyum dan menggeleng semangat. “Nggak apa-apa. Abis nyuci dan beresin rumah, gue bisa ke sini kok, Ki.” Ia akan mengambil risiko.

Niki mengerutkan kening, seolah tak percaya. Namun, setelahnya ia mengangguk kecil. “Fine kalau gitu. Entar gue kabarin lagi buat jam berapanya.”

“Oke.”

Coach Ari kemudian menyudahi evaluasinya dan beralih ke tim lain. Raya dan Niki diperbolehkan lanjut main atau langsung pulang. Niki memilih stay, sementara Raya harus segera sampai rumah sebelum magrib. Mereka pun berpisah dan Raya menuju loker anggota di dekat ruang ganti—bersebelahan dengan kamar mandi. Ia mengambil seragam sekolahnya dan memakainya lagi karena kaus klubnya kini bau masam dan basah kuyup oleh keringat.

Lihat selengkapnya