Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #10

Chapter 10 - Pain That We Never Forget

Dunia Aruna pernah hancur saat putranya yang baru berusia tiga tahun didiagnosa leukemia. Ia yang baru saja menikmati indahnya menjadi ibu dan membesarkan darah dagingnya sendiri harus menerima kenyataan bahwa Tuhan begitu menginginkan Raga untuk kembali ke dekapan-Nya. Namun, ia berhasil bernegoisasi. Tak hanya berkesempatan menjalani hari lebih lama dengan Raga, ia juga dikaruniai putri kecil yang sangat menyayangi kakaknya.

Jatuh bangun, asam pahit, suka duka kehidupan, semua telah ia lalui dengan Bima. Suaminya selalu berkata, Tuhan hanya memberi cobaan pada mereka yang mampu, dan Aruna selalu percaya kalimat itu. Namun, detik ini, Aruna ingin meralat apa yang ia yakini karena ia sungguh tidak akan mampu. Ia tidak mampu melihat suaminya menutup mata dalam waktu yang lama seperti saat ini.

Tadi sore, tepatnya setelah salat asar, Aruna mendapat telepon dari kantor Bima bahwa suaminya jatuh dari ketinggian empat lantai saat mengecek proyek. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana lelaki empat puluh tahun itu jatuh hingga membentur tumpukan beton di bawahnya. Bima segera dilarikan ke rumah sakit dan setelah berjam-jam dioperasi karena cedera berat, ia kini terbaring lemah di dalam ICU.

Aruna dan Raya duduk di kursi tunggu yang tak jauh dari sana. Mereka berpegangan tangan dan bersandar satu sama lain. Tak ada daya yang tersisa dan air mata mereka sama-sama kering. Bahkan saat Raga tergopoh-gopoh menghampiri pintu kaca yang tertutup rapat, mereka hanya menoleh lalu menunduk, mengembuskan napas panjang yang tak berujung.

“Ga?”

Dengan gontai Aruna menghampiri putranya sebelum ditegur perawat yang berjaga karena membuat kegaduhan. Ia mendudukkan Raga di sebelah Raya dan sang adik segera menyodorkan air putih, agar kakaknya bisa tenang. Namun, Raga menepisnya dan tetap menatap Aruna lekat-lekat. Wanita itu lantas berjongkok di depan putranya dan menggenggam tangannya yang begitu dingin dan lembap dengan erat.

“Papa kenapa, Ma?”

Aruna mengusap punggung tangan Raga lembut. “Kamu tenang dulu, ya. Papa insya Allah nggak apa-apa.”

Aruna belum ingin menjelaskan. Ia sendiri menunggu keterangan polisi yang masih menanyai para terduga saksi di lokasi kejadian. Raga harus menerima jawaban itu, meski tak menjawab apa pun. Ia juga mesti sadar diri bahwa mamanya adalah sosok yang paling terluka di sini. Meski sang ibu masih berusaha tersenyum dan tetap terlihat tegar agar putra-putrinya tidak khawatir, Raga dan Raya tahu bahwa andai saja bisa, Aruna akan luruh menyapu lantai dan menangisi seisi dunia ini.

Mereka pun akhirnya terdiam, sama-sama menunggu kabar baik dari balik pintu. Namun, yang terlihat justru sebaliknya. Dokter dan perawat yang sempat keluar tampak tergopoh-gopoh masuk lagi setelah menerima code blue.

Bima mengalami henti jantung.

Aruna bergegas mengikuti langkah mereka dan terhenti di depan pintu. Ia tak bisa melihat apa pun. Ia hanya bisa mendengar suara mesin tak beraturan dan instruksi dokter yang tak ia mengerti sama sekali. Wanita itu menggigit bibir, menyatukan kedua tangan, dan memejamkan mata. Ia berdoa, ya Tuhan, selamatkanlah suamiku di dalam sana. Ia terus mengulangnya ratusan kali tanpa jeda.

Lama menit berselang, Aruna mulai mondar-mandir, sementara Raga dan Raya masih setia di tempat duduk dan saling menguatkan. Mereka juga berdoa dalam diam. Berbagai harapan mulai mereka lambungkan setinggi mungkin.

Jadi gini ya rasanya kalau orang yang kita sayang ada di dalam sana, batin Raga. Air matanya kembali menetes saat menyadari itu. Ia pernah masuk ICU—tepatnya PICU—saat kecil dulu dan mungkin inilah yang Aruna dan Bima rasakan.

Oh, Tuhan, bahkan mamanya sekarang merasakan hal yang sama lagi. Raga pun terisak.

Raya segera memeluk kakaknya tanpa banyak tanya. Ia membiarkan lelaki itu membasahi pundaknya begitu saja. Raya dapat merasakan bagaimana tubuh Raga terguncang. Sakit yang kakaknya itu rasa seolah menjalar dan merasuki relungnya juga.

Setelah menunggu dan terus menunggu, dokter pun keluar dari ICU dan melepas masker yang ia kenakan. Raya segera memapah Raga untuk ikut mendekat. Kini mereka bertiga—termasuk Aruna—ada di depan ruangan berbau obat yang cukup menyengat itu.

“Gimana, Dok?”

“Mohon maaf, Bu. Pasien meninggal pada pukul 18.23 WIB. Kami ….”

Sontak telinga Aruna berdengung. Suara dokter tak lagi terdengar. Ia langsung jatuh terduduk. Matanya memandang kosong pada lantai yang kering dan sepi. Dadanya seperti ditimpa ratusan kilo batu bata, sesak dan berat. Ia tiba-tiba berhenti bernapas. Dunia seolah berhenti berputar detik itu juga.

Lihat selengkapnya