Aroma bunga basah yang tersengat matahari menemani Raga saat mengunjungi papanya di pemakaman kompleks. Ia menuangkan air sambil memandangi nama Bimantara Wijaya pada nisan yang masih baru. Lelaki berkacamata hitam itu lantas menurunkan maskernya, mengusap lembut lalu mencium papan tersebut, seolah melepas rindu pada sosok yang kini tak ada lagi di sisinya.
“Papa apa kabar?” Raga tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. “Maaf ya, Raga baru bisa jenguk Papa sekarang.”
Dada Raga sontak sesak. Ia tidak bisa melihat pahlawan supernya sebelum kembali ke pangkuan Tuhan. Ia juga tak berhasil menemui Bima sebelum dimakamkan. Andai bisa berlari, meski terseok-seok pun, ia akan ke sini. Sayang, sakitnya kehilangan membuat Raga tiga kali lipat tak berdaya dari biasanya.
“Kok Papa duluan yang pergi? Curang.” Raga bergurau. Tawanya serak dan menusuk. “Sekarang aku harus gimana ya, Pa?”
Sekujur tubuh Raga menegang lalu lemas seketika. Janjinya untuk mencoba tegar nyatanya hanya bertahan beberapa menit. Tangannya mulai gemetaran saat tangis yang dibendung perlahan runtuh. Sekuat tenaga ia menahan itu agar tak memberatkan jalan Bima di atas sana. Namun, untuk kali ini saja, Raga ingin mengadu atas ketidakadilan yang terjadi.
“Kenapa ya, Tuhan malah ambil Papa? Padahal aku yang udah siap.”
Pertanyaan demi pertanyaan mulai menyiksa Raga. Ia terus menggeleng, mengusir pikiran liarnya sendiri. Apa Tuhan sengaja bermain-main dengannya? Kenapa Dia seolah menunjukkan bahwa Bima rela berkorban demi memperpanjang waktu yang ia punya? Andai Bima tidak mati-matian mengambil proyek sana-sini untuk biaya pengobatannya, bukankah ia akan baik-baik saja? Bukankah papanya itu tidak akan kecelakaan dan terkubur di dalam sana? Raga terus bertanya-tanya dan terisak.
Rezeki, jodoh, dan kematian seseorang itu sudah ada takdirnya, Ga.
Raga lantas menoleh ke kanan-kiri, mencari pemilik suara yang baru saja berbisik. Namun, tidak ada siapa-siapa. Sejak tadi ia sendirian di makam ini—hanya ada petugas kebersihan yang menyapu di area yang berbeda. Ia lalu menatap nisan papanya lagi lekat-lekat dan tersenyum tipis.
“Oh iya, Papa pernah bilang gitu dulu.”
Semasa kecil, Bima sering membacakan dongeng dan buku anak pada Raga dan Raya. Setiap Minggu di taman, mereka duduk di ayunan yang sama tanpa jarak. Bima selalu di tengah, sementara Raga di kanan dan Raya di kiri. Aruna jarang ikut serta, tapi dua gelas susu dan sestoples cookies cokelat tidak pernah absen.
Pernah suatu waktu, Bima membacakan novel Le Petit Prince karya Antoine-Marie-Roger de Saint-Exupéry versi terjemahan Indonesia. Ia menjadikan Raga sebagai pilot yang mendarat di gurun sahara dan Raya sebagai pangeran cilik yang meninggalkan planetnya. Mereka mendengarkan dengan saksama dan tidak protes atas peran masing-masing, meski di sana Raga hanya menjadi pendengar, sementara Raya menjadi penjelajah planet. Justru itu membuat sang kakak adik hanyut dalam tanya dan rangkaian cerita selama si pangeran keluar dari dunianya.
“Rubah di sini ibarat kita nggak, sih, Pa?” tanya Raga setelah Bima menutup bukunya.
“Iya, Nak. Pangeran yang kesepian ingin bermain dengan rubah, tapi rubah belum dijinakkan. Ketika rubah sudah jinak, mereka akan saling membutuhkan. Berarti, menjinakkan di sini sama halnya dengan menjalin hubungan. Apa yang dilakukan Pangeran, itu sama seperti kita saat ingin berhubungan dengan orang lain. Kita menghampirinya dan menghabiskan waktu bersamanya. Gitu, kan?”
“Makanya Pangeran teringat mawar kecil di planetnya, ya, karena dia di sini sama dengan mawar itu.”
“Sama gimana, Kak?” tanya Raya sambil menggaruk kening.
Raga menatap adiknya lekat. “Mawar kecil itu jadi teman satu-satunya bagi Pangeran, padahal banyak mawar lain, itu karena Pangeran sudah dijinakkan. Iya kan, Pa?”
Bima mengangguk. Ia lekas merentangkan tangan dan memeluk kedua buah hatinya.
“Jadi kalau Raya menjinakkan Kakak, Raya bakal jadi adik satu-satunya untuk Kakak, dan Kakak jadi kakak satu-satunya untuk Raya. Gitu, Pa?”
“Kenapa harus menjinakkan sih, Dek? Kan Kakak bukan rubah.”
“Ya tapi kan ….”
Raya lantas menjelaskan bahwa ia akan menjadi Pangeran Kecil. Raga manggut-manggut mengiakan lalu menyodorkan cookies agar adiknya lekas diam. Mereka pun saling suap hingga baju Raya dikotori remahan cokelat. Raga sontak menjulurkan lidah dan berlari ke tengah taman, menghindari kejaran sang adik. Sementara itu, Bima menatap mereka dengan wajah semringah seolah hatinya ringan dan tenang.
Raga menutup memori tersebut. Ia lantas menelan ludah dan mengangguk yakin. Senyum yang sejak tadi menyimpan luka kini mulai mengembang dengan ikhlas. Lelaki itu lekas berdiri dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya. Ia tidak bisa di sini selamanya. Dunia tidak berhenti hanya karena ia kehilangan. Mereka yang hidup haruslah hidup. Mereka mesti menjalin apa yang sudah digariskan.
Raga berniat pulang sebelum siang menyengatnya. Ia segera menghubungi Raya dan menunggu di pos jaga yang ada di sekitar TPU. Adiknya itu datang setelah lima menit mengirim pesan stiker, entah kecepatan apa yang ia gunakan hingga bisa sampai secapat ini.