Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #12

Chapter 12 - Pain That We Expect Will be Here

Hari demi hari Raga lewati dengan raga yang tak bisa ia kendalikan lagi. Keseharian lelaki itu tampak membosankan, hanya rumah-sekolah-rumah sakit. Itu-itu saja. Kalau tidak sibuk menggarap naskahnya, ia pasti sedang mengerjakan tugas dan mempersiapkan ujian sekolah, atau kalau tidak semuanya, ia berarti tengah meringkuk mengenaskan. Mau bagaimana lagi?

“Kak, lo sakit, ya? Ke UKS aja, gimana?”

Telinga Raga berdengung saat Kamal, teman sebangkunya, kembali menepuk lengannya dan berbisik. Hanya saja, ia tetap tak berkutik. Ia masih bisa mendengar dan memahaminya dengan jelas, tapi apa poinnya? Pertama, ia memang selalu sakit. Kedua, kalau sakit harus ke UKS, itu berarti ia mesti berada di sana setiap detik, menit, dan jam berlalu. Logikanya tidak jalan.

Sejak pelajaran kedua, Raga memang tidur di balik tumpukan buku paket di atas meja guna menghindari omelan guru—yang sebenarnya tak pernah terjadi karena mereka sangat bersimpati. Ia merasa tubuhnya lagi panas dingin mungkin berkat kolaborasi AC kelas dan ulangan matematika sebanyak dua puluh soal. Pening dari pagi rasanya makin menjadi setelah dipakai mengingat rumus dan menghitung tanpa kalkulator. Ia lantas menggeleng dan mengeratkan kardigan hitamnya bak selimut.

“Tapi beneran deh, Kak, mending lo ke UKS. Pucet banget.”

Raga mendengkus dan menoleh. “Gue kanker, Mal, ya jelas pucet.”

“Maksud gue nggak gitu, Kak ….”

Raga tahu, Kamal tidak bermaksud demikian. Ia juga hanya bercanda di sela-sela menikmati rasa sakitnya ini. Ia lantas mengangkat jempol dan memalingkan wajah, memberi kode bahwa ia tidak mau diganggu lagi. Lelaki yang lebih muda dua tahun darinya itu refleks menggaruk tengkuk dan mengerutkan kening. Ia juga mengangkat bahu saat gadis di depan bangku mereka menanyakan keadaan Raga yang sudah menjadi rahasia umum di sekolah ini. Kabar burung—yang benar adanya—tentang ia yang putus sekolah dan semestinya menempuh kuliah semester empat sempat menyebar saat tahun ajaran pertama dulu.

Karena fokus pengobatan bertahun-tahun, Raga sering bolos pelajaran dan nilainya berantakan tak karuan. Ia pun memilih keluar, sesuai saran dokter dan guru BK waktu itu. Semula Aruna mau Raga homeschooling saja seperti Laura, tapi Raga ingin tetap merasakan masa-masa SMA selagi bisa, meski telah tertinggal jauh dari teman sebayanya.

Kalau bisa ia ingin corat-coret seragam sebelum mati. Katanya, biar berkesan dan ada kenang-kenangan.

Tiba-tiba Raga bergidik. Pemikirannya itu buyar gara-gara ulahnya sendiri. Ia menggeliat saat nyeri di punggung bawah mulai intens dan menusuk. Tangan dan kakinya pun sontak menegang, tak bisa bergerak meski gemetaran minta ampun. Bahkan, ia sampai lupa bernapas karena harus menahan sakit.

Kok gini banget, ya? Dalam hati Raga merutuk. Matanya berkaca-kaca dan ia mulai menggigit bibir bawahnya yang kering dan pecah-pecah. Ia lalu mencoba mengatur napas yang berat dan menyengat. Namun, makin ia berusaha menata itu semua, kepalanya terasa ingin pecah dan darah segar mulai keluar dari hidungnya. Pandangannya pun menggelap dan ia limbung ke kanan.

“Kak!”

Raga tak sadarkan diri hingga membentur lantai. Tubuh kurusnya yang ringkih lantas dikerumuni mereka yang terbelalak dan ternganga. Kamal lekas mendorong dan membuka jalan agar dua temannya yang lain bisa membawa Raga ke UKS, sementara ia berlari memanggil wali kelas di ruang guru lalu ke kelas Raya agar gadis itu menyusul ke sana.

Pada akhirnya Raga tetap berbaring di sini dengan cara yang lebih menyusahkan pula. Lelaki itu telah terlelap dengan plester penurun demam yang diberikan petugas PMR. Raya tentu panik dan gelagapan saat ditarik menuju UKS begitu saja. Namun, ia telah terbiasa dengan kondisi Raga yang naik-turun seperti ini. Ia hanya menengok sebentar lalu berjalan ke kelas XII Bahasa 3, berniat mengambil barang-barang kakaknya.

“Permisi, Kak.”

Teman-teman Raga memperhatikan Raya penuh selidik. Bisik-bisik di antara mereka mulai nyaring, meski tidak ada yang jelas karena berlapis-lapis. Raya lekas memasukkan buku-buku Raga ke dalam tas dan mengecek barang lain di laci. Namun, saat menunduk, ia tak sengaja melihat ceceran darah yang tanpa sadar ia injak—dan jadi ke mana-mana.

“Itu tadi darah Kakak lo.”

Raya menoleh ketika gadis yang duduk di depan bangku kakaknya berbicara. Ia lantas membungkuk kecil—meminta maaf—lalu membersihkan lantai menggunakan tisu yang ia kantongi ke mana pun. Gadis itu langsung ikut berjongkok dan membantu Raya.

Lihat selengkapnya