Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #13

Chapter 13 - Pain That We Need to Stop

Aruna berdiri di luar kamar Raga saat Raya baru pulang latihan dan berniat menjenguk kakaknya. Wanita itu tampak menghapus air matanya dan terus-terusan mengintip melalui celah pintu. Ia lantas menggigiti kuku-kuku jarinya ketika suara muntahan Raga terdengar dari luar. Raya lantas bergegas mendekat. Namun, sang ibu hanya menggeleng dan mendorongnya masuk. Tak sepatah kata pun Raya dengar untuk menjelaskan pemandangan aneh ini.

Baru selangkah masuk, Raya terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya berhenti bergerak, tak mau melangkah mendekat. Bahkan, genggamannya pada tas jinjing berisi jersey klubnya makin erat, seolah tak mau dilepas. Sekian detik ia bertukar pandang dengan kakaknya yang sibuk mengeluaran isi perut yang didominasi cairan pahit kemerahan. Namun setelahnya, Raya tak bisa berkata apa-apa.

Beanie hat Raga teronggok di lantai bersama beberapa helai rambut yang patah—rontok—begitu juga dengan selimut dan dua bantalnya. Sesi kemoterapi lelaki itu memang baru dimulai lagi dua hari lalu, tapi tidak ada yang menyangka akan seburuk ini. Masih dengan chemopot yang tampak jelas—karena kemeja pasiennya terbuka—Raga memegang nierbeken dengan tangan gemetaran. Tubuhnya sudah separuh tak berdaya, tapi ia mesti mengatasi efek samping yang menyebalkan ini. Its suck, its suck, its suck, batinnya saat gemuruh di perutnya belum juga lelah berulah.

Semula ia masih baik-baik saja, biasanya memang baru seminggu atau malah dua minggu untuk menerima reaksi semacam ini. Namun, berkat kabar baik dari Aruna yang rasanya jauh lebih buruk dari diagonis ginjalnya, pikiran Raga mulai kacau. Mood-nya drop, ia kembali stres. Ia mulai frustrasi dengan pemikiran mamanya itu. Selamanya ia tidak akan memahami Aruna. Bukan, tepatnya ia tidak akan pernah mau memahami jalan pikiran Aruna.

Raya belum berani bertanya. Ia hanya memungut barang yang berserakan dan menaruhnya di sofa, lalu menghampiri Raga. Ia mengambil alih nierbeken kakaknya meski bentuk dan baunya membuat mual bukan main. Sebisa mungkin Raya tak melihatnya dan fokus memijat tengkuk Raga yang panas, tapi juga dingin—karena keringat.

“Mama keluar! Keluar!”

Baru saja Aruna masuk, Raga sudah berteriak, lagi. Ia bahkan melempari mamanya dengan bantal yang tersisa di belakang punggung. Sontak ia kembali terbatuk dan memuntahkan angin yang hanya menyakiti tenggorokan. Raya makin celingak-celinguk dan menunduk. Sungguh, perasaan tidak tahu apa-apa seperti ini juga bisa membunuh seseorang.

“Raga, kamu dengerin Mama dulu, ya. Semua ini demi—”

“Demi kebaikan aku?” Raga lekas mendorong Raya. Ia mengusap mulutnya lalu terkekeh. “Raya gimana, Ma?”

Raya? Sang empunya nama lantas mengangkat wajah dan menaruh nierbeken kakaknya di atas nakas. Ia mencoba mendekati Raga lagi dan menyentuh lengan lelaki yang kering dan pucat itu. Raya bisa merasakan getaran penuh rasa takut yang menjalar ke bulu kuduknya sendiri.

Aruna menelan ludah dan menatap Raya sekilas sebelum mengatakan, “Mama yakin adikmu nggak—”

“Nggak masalah? Nggak masalah kayak sebelum-sebelumnya? Halah, emang yang kemarin-kemarin Mama pernah nanya persetujuan dia? She’s minor, selama Mama dan Papa dulu setuju, semua berjalan sesuai rencana kalian. Bukannya gitu?” Raga terus memotong ucapan Aruna. “Please, kali ini biarin aku mengambil keputusan buat diriku sendiri.”

Raya memandangi kakak dan ibunya bergantian. Ia belum paham arah pembicaraan mereka sama sekali. Namun, apa pun itu, sepertinya bukan sesuatu yang baik. Ia tidak mungkin melihat percekcokan ini jika tidak ada masalah.

“Bukan Mama nggak menghargai kemauan kamu, Ga, tapi melihat kondisimu sekarang—”

Lihat selengkapnya