Sejak kejadian yang tak diinginkan di kamar rawat Raga memperlebar jarak antara Raya dengan mamanya, ia lebih banyak diam dan membantu pekerjaan rumah Aruna tanpa banyak bicara. Ia seperti orang asing yang kebetulan tinggal satu atap dan mewarisi lesung pipi serta perawakan kurus wanita itu. Ia tak lebih dari mereka yang tak sengaja menumpang tidur dan makan, lalu pergi—ke mana pun—dan pulang sesuka hati, toh tidak ada yang mengomentari sama sekali. Raya jadi lebih banyak menghabiskan waktu di tempat latihan dan membakar energinya hingga bisa lupa. Sayang, hidup tidak semudah itu.
Setelah tiga hari membiarkan Raga sendirian, sama-sama merenung tentang hidup mereka masing-masing, Raya memberanikan diri ke rumah sakit lagi. Lama ia berhenti di depan pintu, memandangi kakaknya yang sepertinya sibuk menulis—mengetik di laptop. Lelaki itu tampak mengerutkan kening dan berkali-kali mendekatkan wajah ke depan layar, lalu mundur dan mendengkus. Bunyi keyboard-nya kadang terjeda, kadang juga terdengar cepat dan agresif, membuat Raya tersenyum tipis.
Raga memakai headphone kucing tiga puluhan ribu yang ia belikan dari marketplace orange. Padahal, sebelumnya lelaki itu ogah-ogahan karena risi melihat lampu warna-warni yang berkedip di area telinga. Alay, Raya masih mengingat itu. Namun, hari ini Raga menggunakannya. Bahkan, kakaknya itu juga mengenakan syal yang ia rajut sendiri tahun lalu. Benda-benda itu ada di sini saja sudah aneh, menurutnya.
“Sampai kapan lo di situ?”
Raya tersentak dan hampir menjatuhkan crepes yang ia beli saat Raga berseru tanpa aba-aba. Sejak kapan kakaknya sadar ia berdiri di sana? Gadis yang mengenakan setelan denim itu lantas membuka pintu dan mendekat tanpa merespons apa pun.
“Buat gue?”
Raya mengangguk lalu memberikan jajanan sekolah yang tampak hambar itu—tanpa meses dan kental manis. Raga terlihat senang dan segera memakannya. Ia tersenyum puas, meski yang ia rasakan hanya manis tepung dan margarin murah—yang menempel di langit-langit mulut—dengan sedikit aroma teflon. Ia segera berterima kasih yang hanya Raya balas dengan anggukan.
Usai itu, hening kembali mengisi ruangan. Raga tak lagi melanjutkan mengetik, sementara Raya duduk diam di kursi kecil di sebelah kakaknya, memandangi pemandangan di luar jendela—hanya gedung-gedung yang menjulang. Entah sejak kapan kecanggungan itu menelan mereka seperti ini. Raga lantas menutup laptopnya dan menarik lengan Raya pelan. Sang adik sontak menoleh dan menatap kakaknya lekat.
Mata mereka seolah berbicara hingga keduanya kompak tersenyum. Detik berikutnya, mereka berpelukan erat. Sangat erat, seakan jika dilepas sedetik saja, mereka tidak akan memiliki kesempatan lagi.
“Ga, gue nggak apa-apa beneran kok kalau harus donorin ginjal gue buat lo,”
Raga menghela napas berat. Ia tahu Raya akan mengatakan itu. Ia kenal siapa Raya, dan Raya yang Raga kenal sangatlah akrab dengan kata ‘tidak apa-apa’ selayaknya ia yang berkawan dengan ‘baik-baik saja’. Raga segera menekan bahu gadis itu dan memundurkannya sejenak. Ia menatap Raya sungguh-sungguh sampai adiknya itu menunduk, menghindari sorot matanya.
“Lo udah tau apa resikonya?”
“Gue nggak peduli sama resikonya. Lagian banyak kok yang bisa hidup dengan satu ginjal. Gue—”
“Sstt,” Raga terus menggeleng. Ia benci mendengar ini. “Lo nggak bisa kayak gini terus. Ini nggak sama dengan donor sel atau bahkan sumsum tulang belakang lo, Ra. Ini juga nggak sama dengan orang-orang di luar sana. Ini tentang lo. Lo, Ra. Raya, atlet bulu tangkis jagoan klub yang sebentar lagi turnamen UBC dan berniat ikut O2SN sampai PON. Dengan satu ginjal, lo mesti berhati-hati seumur hidup lo dan itu bisa bikin karier lo terganggu. Lo lupa sama mimpi lo sendiri?”
Raya mulai berkaca-kaca. “Apa arti mimpi gue kalau lo nggak ada di sini?”