Raga mengedarkan pandangan saat mobil yang ia tumpangi berhenti di depan gang kecil, menuju gedung tua di sudut jalan yang belum pernah ia kunjungi. Bangunan lama semacam apartemen tanpa lift itu cukup dipadati penduduk dan agak memprihatinkan. Sampah makanan dan plastik yang bercampur tampak memenuhi tong-tong di sekitar pintu masuk. Banyak baju dan pakaian dalam yang sengaja dibiarkan bergantungan di balkon-balkon kamar. Air bekas perasan cucian terbawa angin dan menetesi Raga yang baru sampai setelah susah payah berjalan sejauh dua ratus meter.
Raga tak menyadari kedatangan Raya yang entah dari mana. Gadis itu tergopoh-gopoh membantu Aruna, mengambil alih tas jinjing dan sekresek makanan yang dibeli wanita itu sebelum pulang dari rumah sakit. Mereka lantas masuk dan menaiki tangga hingga lantai empat. Sesekali Raga berhenti, mengatur napas yang berantakan dan mengusap peluh, lalu berjalan kembali. Udara kotor dan sempitnya sekat antar-ruang di gedung ini membuat Raga engap dan kepanasan. Ia refleks menelan ludah dan tak berkutik di ambang pintu saat mendapati foto keluarga kecilnya telah berpindah ke lemari kecil di dalam sana.
“Duduk, Nak. Mama ambil minum dulu, ya.”
Raya tersenyum kecil saat mengeluarkan pakaian Raga dan memasukkannya ke dalam laci. Ia tetap diam saja, meski sang kakak memberinya kode untuk duduk di sofa dan memberitahunya apa yang terjadi. Namun, Raya tidak ingin melangkahi mamanya. Ia cuma mengangkat bahu dan mengabaikan Raga yang kini celingak-celinguk mengamati isi rumah ini. Hanya ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu dapur yang berhadapan langsung dengan ruang tamu.
“Ma,” panggil Raga saat wanita itu menyuguhkan segelas air dan sebungkus obat. “Kita pindah ke sini, ya?”
Aruna mengangguk pelan. “Iya, Ga. Gimana? Kamu suka, nggak? Di sini—”
“Kenapa, Ma?” Aruna sontak berhenti bicara saat Raga meraih tangannya dan menggenggam erat. “Rumah lama kita kenapa? Kenapa kita harus pindah ke tempat ini?”
“Nggak apa-apa. Mama pengen suasana baru aja. Biar nggak kebayang-bayang Papa mulu.”
Aruna mengusap rambut Raga yang terhalang topinya. Ia tersenyum seoalah semua baik-baik saja. Ibu dua anak dengan status baru—single parent—itu terpaksa berbohong karena tidak mau putranya merasa bersalah atas keputusan yang ia ambil sendiri.
Rumah penuh kenangan yang dibangun bersama Bima mesti Aruna jual untuk menutupi biaya pengobatan Raga dan bagaimana mereka hidup ke depannya. Obat, kemoterapi, hemodialisis, belum keperluan sekolah dan kebutuhan sehari-hari lainnya, tentu tidak sedikit. Pemasukan dari toko belum bisa ia andalkan dan ia masih harus membayar cicilan bank. Aruna bahkan berencana menjual mobil mereka juga kalau-kalau ada hal mendesak. Ia telah siap melakukan apa pun.
Apartemen tua dengan sewa tahunan yang cukup murah—untuk standar Jakarta—ini Aruna pilih setelah ke sana kemari mencari. Ia dan Raya pindahan secara diam-diam sejak tiga hari lalu, selama Raga masih dirawat.
“Tapi dari sini jadi lebih dekat nggak, sih, kalau mau ke sekolah kalian? Dekat juga dengan toko Mama,” ucap Aruna memecah kecanggungan.
“Iya, Ma. Kayaknya jalan kaki juga nggak akan telat.”
Raya menghampiri mama dan kakaknya sambil berkacak pinggang. “Ya nggak jalan kaki juga kali. Kan ada motor.”
“ ‘Kayaknya’. Serius amat lo!”
Raya menjulurkan lidah pada Raga lalu duduk di sebelah Aruna. Ia memeluk mamanya dari samping sebelum berkata, “Aku janji bakal semangat latihan biar bisa menang dan dapat uang buat bantu Mama.”
Seketika Aruna pun tertegun, sampai-sampai ia tak segera membalas pelukan putrinya itu. Ia merasa tidak enak karena kesulitan yang berniat disembunyikan seolah dibongkar begitu saja. Namun, ia tetap mengusap lengan Raya dan tersenyum tipis.
Raga langsung ikut-ikutan juga—memeluk Aruna. “Aku juga bakal semangat nulisnya.”
“Makasih ya, Sayang.”
Aruna lekas mengecup kening Raga dan Raya bergantian. Dalam hatinya ia berdoa, semoga apa pun yang disemogakan mereka bisa terwujud. Asal itu tidak berkaitan dengan kematian, Aruna akan dengan tulus mendukungnya.
***
Raga rebahan di tempat tidur barunya sambil memangku laptop. Ia memakai headphone dan membiarkan ponselnya bersandar pada tumpukan buku di atas nakas—menghadap ke arahnya. Sesekali ia melirik ke arah jendela, memperhatikan Raya yang bermain mobile game dan berteriak-teriak sendiri tidak jelas. Sontak ia mendengkus. Konsentrasinya jadi buyar tak karuan. Ia terbiasa menulis dalam hening dan kamar ini jelas seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya.