Raya masih menikmati angin malam di balkon rumahnya, meski asap rokok dari tetangga mulai singgah dan menusuk hidung. Ia tetap bersandar pada etalase kayu berisi pot-pot bunga, menunggu sambungan panggilan video dari Laura. Pacar kakaknya itu pamit mau mencari tempat dulu sebelum membahas hal-hal serius. Ia juga mesti pamitan pada Raga agar tidak dicari-cari.
Sebenarnya ini kali pertama Raya berbicara langsung dengan Laura. Biasanya, ia hanya menyahut satu-dua kalimat saat sejoli itu melakukan video call. Ia tidak pernah merasa perlu menghubungi gadis penyintas kanker payudara itu, walau mereka sama-sama perempuan—mungkin bisa berbagi cerita dan sudut pandang. Di sisi lain, ia juga sedikit tidak nyaman melihat waktu dan perhatian Raga diberikan pada gadis itu.
Namun, malam ini, hanya nama Laura yang terlintas di benak Raya.
“Halo? Masih di situ, Ray?”
Raya lekas berdeham. “I-iya, masih, Kak.”
“Jadi gimana? Ada apa?”
Laura terlihat tengah duduk di tengah kantin yang sepi lalu lalang pengunjung. Ia memesan teh hijau hangat dan menyesapnya perlahan sembari menunggu Raya yang belum juga bersuara. Seolah ada kail yang menahan tenggorokan gadis itu untuk bercerita. Raya hanya terdengar mendengkus dan berdecak berkali-kali, membuat Laura bingung sendiri. Ia menebak-nebak, sesuatu pasti terjadi sebelum Raga menghentikan pembicaraan mereka. Namun, ia tidak ingin berasumsi apa pun.
“Kak, gue boleh nanya hal sensitif, nggak?” ucap Raya kemudian.
“Boleh, kok. Tanya aja nggak apa-apa.”
Raya berjongkok dan merendahkan suaranya. “Sakit tuh rasanya gimana, sih?”
“Hah?” Laura mengerutkan kening.
“Maksud gue, rasanya sakit ‘keras’ itu gimana? You know lah what I mean.” Raya menggaruk kepalanya. Ia menggigit bibir, takut salah bicara, tapi juga kehabisan cara untuk mengungkapkan pertanyaan itu.
Bukannya tersinggung, Laura justru terkikik. “Aneh banget. Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Ray?”
Raya sedikit ragu. Ia terdiam cukup lama.
“Bilang aja. Aku nggak bakal bilang Raga, kok.”
“Lo tau aja, Kak, yang gue maksud.”
“Well, kamu nggak mungkin bahas orang lain kalau sama aku kan, apalagi kalian tadi kelihatannya mau berantem.”
“Bukan mau sih, Kak, tapi udah.”