Sudah lebih dari delapan jam Raya tertidur di lantai dengan posisi duduk. Ia masih menggenggam tangan kakaknya yang panas dan berkeringat dingin. Semalaman Raga demam tinggi dan meracau tak karuan. Sebagian besar ia merintih, sementara sisanya hanya berupa makian pada takdir karena telah menyiksanya. Raya pun terjaga dan mengompres lelaki itu berulang kali tanpa membangunkan Aruna. Namun, nyatanya suhu Raga belum turun juga sampai pagi ini.
Raya tergopoh-gopoh keluar dan lekas menemui Aruna yang tengah mencuci pakaian di kamar mandi. Sebenarnya Raga melarangnya memberitahu mama mereka karena enggan membuat khawatir, tapi Raya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Terlebih kakaknya itu terus memukuli pinggang dan dadanya, juga menendang-nendang selimut—melampiaskan rasa sakit. Kalau sudah seperti ini, tampaknya bbat saja tidak cukup.
“Mama ganti baju sebentar. Kamu jaga kakakmu dulu, ya,” ucap Aruna sambil mengusap tangan basahnya ke celana.
Raya mengangguk. Ia segera masuk kamar lagi dan mencoba mendudukkan kakaknya hingga bisa bersandar pada dinding. Ia sontak menelan ludah saat mendapati kaus abu-abu Raga sudah separuh basah oleh keringatnya sendiri. Ia juga memekik panik ketika darah segar menetes dari hidung lelaki itu. Meski tidak banyak, langsung hilang dengan selembar tisu, Raya tetap gemetaran. Matanya berkedip konstan dan ia lantas menggigit bibir.
Perlahan, Raya menarik kedua tangan Raga dan menggendong tubuh ringkihnya ke bawah, untuk dibawa ke rumah sakit. Aruna sudah jalan lebih dulu dan langsung ke depan untuk mengambil mobil. Susah payah Raya menuruni tangga bersama kakaknya yang tak sanggup membuka mata. Sesekali ia berhenti, mengatur napas, lalu lanjut lagi.
“Kalau capek, udahan aja, Ra.”
Suara Raga lirih sekali. Andai ucapannya tidak tepat di samping telinga Raya, gadis itu tidak akan bisa mendengarnya.
“Gue atlet. Gini doang mah kecil.”
Raga pun tersenyum lalu matanya terpejam, mungkin untuk waktu yang cukup lama.
“Ga?” Raya melirik kakaknya. “Ga!”
Tidak ada apa pun selain hening yang menjawab panggilan Raya. Seketika air mata gadis yang masih mengenakan piama cokelat itu jatuh. Ia mempercepat jalannya, persetan dengan nyeri pada betis yang belum tuntas akibat latihan kemarin-kemarin. Hal yang Raya pikirkan hanya bagaimana Raga bisa segera mendapat penanganan.
Aruna lekas membuka pintu belakang mobil dan membantu putrinya masuk—setelah Raga sudah duduk di dalam. Mereka langsung menuju IGD dan menunggu di luar, membiarkan dokter dan perawat melakukan tugasnya. Ibu dan anak itu lantas saling genggam dan berdoa dalam hati masing-masing.
Semoga waktu Raga belum berhenti di sini.
***