Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #18

Chapter 18 - Pain That We Hide Every Time

Maaf, Ma. Raya nggak bisa.

“Argh!”

Niki segera berlari menghampiri partner-nya yang tersandung kakinya sendiri saat mengejar kok ke belakang. “Lo nggak apa-apa?”

Enggak, seharusnya Raya bisa mengatakan itu dengan jelas. Kaki dan tangannya memang tidak keseleo, meski sekujur tubuhnya gemetaran. Tidak ada luka yang serius, meski pergelangannya sedikit tergores akibat gesekan lantai. Ia juga masih sadar seratus persen, meski pandangannya kosong dan ia tidak merespons panggilan Niki sama sekali. She’s fine, but not.

“Bawa ke pinggir dulu, Nik,” saran Coach Ari.

Begitu mendapat izin, Niki langsung membopong Raya. Ia lalu mendudukkan gadis itu di atas matras lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam kardus klub. Coach Ari segera mengecek tubuh Raya dari atas hingga bawah, memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja.

“Lo dari awal nggak fokus. Kenapa? Sakit?”

Raya lekas menggeleng setelah meminum air yang disodorkan Niki. “Makasih … sori juga.”

“Lo istirahat aja. Gue bisa main sama yang lain.”

“Sori,” ucap Raya sekali lagi, namun lebih lirih dari sebelumnya.

“Jangan terlalu sering minta maaf, entar maknanya hilang. Ya udah, gue cabut ke sana dulu.”

Raya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia menunduk dalam saat Coach Ari mendekatinya—tepat duduk di samping kiri—dan meminta botol air yang Raya pegang untuk dibuang ke tempat sampah. Lelaki itu lalu menawarkan black inhaler aromaterapi, tapi lekas ditolak secara halus. Raya tidak suka bau-bau yang menyengat, termasuk obat dan alkohol.

“Ada yang lagi kamu pikirkan, Ra?”

Tentu. Raya manggut-manggut. Ia manusia biasa yang diberi akal untuk berpikir. Hanya saja, kadang yang ia pikirkan melampaui daya manusia pada umumnya.

Tadi sebelum berangkat latihan, Raya sempat menjaga Raga di rumah sakit, menggantikan mamanya yang harus membuat roti. Kesadaran kakaknya itu sedang mengkhawatirkan, jadi baik ia dan mamanya tidak tega meninggalkannya sendirian—hanya dengan ners atau dokter visit. Raga lebih banyak tidur dan hanya bangun sesekali, itu pun meracau tidak jelas seperti orang yang baru dianestesi. Bahkan, untuk buang air saja lelaki itu memakai selang yang disambungkan pada kantong yang menggantung pada bawah patient bed—ia tidak mengonsumsi apa pun, selain susu.

Aruna tiba di kamar rawat Raga pukul tiga sore, satu jam sebelum Raya mesti ke GOR. Awalnya, Raya ingin langsung berangkat, toh ia sudah berganti pakaian dan menyiapkan perlengkapan. Namun, mamanya menahannya untuk duduk lebih dulu, menghadap ke arah Raga yang sibuk terlelap mengabaikan mereka.

“Ada yang mau Mama omongin.”

Raya menelan ludah. Dadanya berdegup kencang. Perasaannya jadi tidak enak, terlebih saat Aruna tiba-tiba menggenggam tangannya. Ia lekas menatap tangan wanita yang melahirkannya itu lalu mendongak, mendapati mata sayu sang ibu telah berkaca-kaca. Pelan, Raya mencoba menyentuh wajah penuh guratan lelah itu dan mengusapnya lembut.

“Donorkan ginjalmu untuk Kakak, Nak. Mama mohon.”

Lihat selengkapnya