Raya melepas tangan Raga dan menghampiri Aruna yang baru duduk di sofa. Ia menarik napas dalam-dalam dan meyakinkan diri bahwa ia bisa melakukan ini. Lebih cepat lebih baik. Kalau terus diulur, bisa-bisa kakaknya mati sungguhan. Ia lantas menyentuh lengan mamanya pelan menggunakan ujung jari telunjuk lalu memundurkan badan. Raya tetap berdiri tegap, meski kedua tangannya bertautan di belakang punggung.
“Ada yang mau aku omongin.”
Aruna menelan ludah dan segera berdiri. Ia berniat mendekat, tapi putrinya justru menjaga jarak seolah kehadirannya bisa menyakiti. Ia pun bergeming dan cukup menatap Raya lekat. Gadisnya itu masih sibuk menunduk dan menggigit bibir.
“Aku nggak bisa donorin ginjalku ke Raga, Ma.”
“A-apa?”
Binar mata Aruna meredup. Keningnya sontak berkerut. Ia menggeleng, tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Maaf, Ma. Maaf, Ga.”
“Nggak, nggak. Bentar dulu.” Aruna lekas menerjang Raya dan menekan bahu gadis itu kuat-kuat. “Ini maksudnya gimana? Kamu bercanda kan, Sayang?”
“Enggak, Ma.”
“Sini kamu!”
Raya lekas menepis tangan Aruna saat hendak menarik lengannya. “Ke mana?”
“Sini, Ra!”
“M-Ma!”
Raga berusaha duduk dan mencegah, tapi nyeri pada pinggangnya langsung bereaksi. Ia hanya bisa berbaring lagi dan melihat adiknya ditarik keluar ruangan. Meski hanya di depan kamar, ia tidak bisa mendengar dengan jelas karena pintunya ditutup rapat. Raga hanya bisa menatap melalui kaca di tengah pintu. Hanya dan hanya terus menerus, ia sungguh terbatas.
Raya menarik diri dan menjauh dari Aruna saat mamanya itu mau berhenti. Ia lekas mengusap guratan—bekas cengkeraman—di pergelangan tangannya yang memerah dan sedikit berdenyut. Sakit. Tidakkah Aruna sadar bahwa ia baru saja bertindak kasar? Pelupuk mata Raya pun memanas.
“Kamu serius nggak mau donorin ginjal kamu, Nak?”
Pelan, Raya mengangguk. “Maaf, Ma.”