Raga pulang. Raya tidak pernah menyangka ia bisa membenci fakta ini, fakta bahwa kakaknya tidak lagi di rumah sakit dengan bau obat yang menyengat dan alat-alat medis yang tidak ia ketahui. Kata dokter, akan lebih baik untuk lelaki itu jika menghabiskan banyak waktu di rumah. Banyak, katanya. Kenapa terdengar seperti sisaan yang tak jelas ukurannya?
Rumah adalah tempat ternyaman, sebut dokter pada Aruna yang tak sengaja Raya dengar. Tempat ternyaman untuk mati, batin gadis itu pahit. Mungkin iya, kalau mereka masih di rumah lama yang menyimpan banyak kenangan indah, tapi di sini … Raya rasa bukan pilihan bagus. Namun, mau bagaimana lagi, mereka sudah kehilangan banyak hal.
“Kamu mau istirahat di sini atau di dalam, Nak?” tanya Aruna setelah mendudukkan Raga di sofa, sementara Raya terkesiap dan segera masuk kamar untuk menata baju kakaknya ke dalam laci.
“Di sini aja, Ma. Terima kasih.”
“Ya udah. Mama ke toko dulu, ya. Kalau ada apa-apa langsung telpon.”
Raga pun mengangguk. “Hati-hati, Ma.”
Aruna tersenyum mengiakan. Saat berbalik, ia sempat melirik ke arah putrinya, tapi tidak ada sepatah kata pun terucap. Ia hanya mendengkus lalu segera beranjak keluar. Sejak kejadian di depan ruang rawat Raga waktu itu, mereka memang belum berbicara lagi. Entah belum atau tidak akan terjadi kembali. Sudah terlambat bagi Raya untuk menyesali pilihannya.
“Ra?”
“Em?”
Raga yang semula bersandar pada sofa hendak bangun dan menemui adiknya. Namun, Raya lebih dulu menghampirinya dan menyuruh untuk diam saja. Bukan ia tidak ingin dibantu, tapi melihat betapa lemas dan lemah Raga sekarang—seolah jika disentuh sedikit bisa limbung kapan pun—ia tidak tega sama sekali.
“Udah selesai,” akunya (bohong) sebelum Raga mengucap apa-apa. Ia lantas duduk di samping kakaknya dan memutar series Netflix di ponsel yang disandarkan pada stoples kue kering.
Meski mata Raya fokus menatap layar, Raga bisa melihat kekosongan di sana. Ia tentu merasa bersalah atas apa yang kini menimpa keluarga mereka. Waktu itu, saat mereka berbaring di kasur yang sama, Raga mengusap lembut kepala Raya dan meminta sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun.
“Hah? Gila ya lo!”
Raga masih ingat jelas ekspresi gadis itu, reaksi ketika ia menolak iktikad baik sang adik untuk mendonorkan ginjalnya. Raya begitu panik hingga refleks bangun dan memukul lengannya kasar.