Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #21

Chapter 21 - Pain That We Sure Will be Worth It

Aruna melipat baju bersih yang baru ia angkat dari tali jemuran. Baju-baju itu dicuci oleh Raya sebelum sibuk mengikuti turnamen. Kata Raga, putrinya itu berhasil melewati babak penyisihan sampai ke semifinal. Kalau hari ini ia pulang membawa kabar baik, berarti besok adalah pertandingan terakhir, sekaligus penentu apakah Aruna berutang atau tidak, juga apakah ia akan melunasi utang itu.

Kaus latihan dengan nama punggung R. Winanga lantas Aruna kepal kuat-kuat. Pandangannya melayang ke kamar buah hatinya, memastikan Raga masih fokus menonton adiknya dari live streaming Instagram penyelenggara. Ia pun menatap jersey Raya lekat lalu perlahan memeluknya. Panas matahari yang masih terasa seakan menghangatkan Aruna dan mengiris hati yang telah terluka.

Tidak ada ibu yang ingin melukai darah dagingnya sendiri, ungkap sang bijak pada mereka yang percaya naluri ibu bisa liar dan membahayakan. Sudah banyak kasusnya, bela mereka yang merasa eksistensinya telah tersakiti. Aruna terus terngiang-ngiang hingga dadanya berdegup tak nyaman, seperti terimpit dan dipenuhi penyesalan. Ia tahu ia salah, tapi ia tidak tahu cara menghentikannya. Ia tahu ia salah, tapi ia tidak tahu cara memperbaikinya. Air mata pun Aruna menitik dan ia pun menunduk. Meminta maaf dalam hati rasanya tidak berarti apa-apa.

“Ma! Ma!”

Teriakan Raga sontak membuat Aruna terkesiap dan berlari menuju kamar. Namun, sang anak justru cengar-cengir dan sangat antusias menunjukkan ponselnya.

“Kenapa sih, Ga, kok teriak-teriak? Kan Mama jadi panik.”

“Maaf, Ma,” Raga terkikik dan menggaruk tengkuk, “Aku mau ngasih lihat ini.”

Aruna lekas melihat apa yang tertera pada layar dan refleks terbelalak. “Adikmu masuk final?”

Raga mengangguk. “Apa kubilang, kan. Raya pasti lolos. Besok kita nonton ya, Ma.”

“Tapi keadaanmu—”

Lihat selengkapnya