Every Pain We Ever Feel

En
Chapter #22

Chapter 22 - Pain That We End It Eventually

Raga kembali melanjutkan novelnya. Ia sudah mencapai klimaks, tapi masih bingung bagaimana mengakhirinya. Ia terus menghapus apa yang ia tulis lalu menatap dokumen kosong pada layar selama berjam-jam. Sesekali ia terbatuk dan meminum air dari botol di samping batal menggunakan sedotan. Kini ia hanya bisa telentang, berbaring miring, tau setengah duduk—bersandar pada dinding. Namun, tekadnya untuk menyelesaikan naskah sebelum deadlineor dead line—tiba.

“Mau baca buku dulu, Ga?” tanya Laura, kasihan melihat kekasihnya uring-uringan dengan ide yang tak kunjung keluar.

“Suka pusing kalau dipake baca.”

“Dengerin audiobook aja, gimana? Pinjem di Libby.”

Raga pun mengangguk. “Boleh, deh. Daripada nggak beres-beres writer block-nya. Ada rekomendasi?”

“Coba cari karyanya Axie Oh.”

Place hold semua,” Raga mendengkus, “Dua minggu pula. Mana sempat. Keburu mati.”

Laura berdecak. “Bisa yang sopan nggak ngomongnya?”

Sontak Raga terkekeh. Andai jarak mereka sedekat panjang penggaris, ia akan mencubit pipi gadis itu dan mengacak wig-nya gemas. Sayang, sang lawan bicara tidak ingin bersenang-senang. Laura tetap mengerucutkan bibir dan menatap sinis.

“Iya, iya, maaf. Bercanda doang.”

Laura seolah tidak peduli. Ia tetap bersedekap dan malas menanggapi Raga.

“Maaf, La,” ucap lelaki itu lagi. Kali ini rautnya meredup.

Laura pun mendengkus. “I know what dying feels like. You don’t have to remind me all the time, Ga.”

I didn’t mind it, oke?”

Tetap saja, Laura berdecak. Ia lantas beralih berbaring dan memutar bola matanya malas. Ia tak lagi melanjutkan pembahasan itu karena tidak akan ada ujungnya. Ia hanya perlu menemani Raga menyelesaikan misinya sebelum benar-benar menyerah … dengan hidupnya sendiri.

Btw, Mama kemarin ikut nonton final match-nya Raya.” Raga mengalihkan pembicaraan.

“Terus gimana? Udah baikan?”

Lihat selengkapnya