Sinar matahari yang menembus gorden membuat Raya mengernyit dan refleks menutupi matanya menggunakan lengan kanan. Ia menarik napas, bersyukur pada Tuhan karena masih diberi nikmat kehidupan. Ia lekas merentangkan tangan dan memijat tengkuk yang keram karena kelamaan bersandar pada nakas. Ia lalu bangun dan merapikan selimut kakaknya yang berantakan.
“Ga, udah siang.”
Raya menyentuh lengan Raga dan berniat membangunkannya. Namun, sensasi kering dan dingin yang ia rasakan membuatnya kembali berlutut. Ia lantas memeriksa nadi di leher kakaknya lalu mendengarkan detak jantungnya yang telah hening. Seketika Raya menegakkan tubuhnya dan melakukan CPR.
“Nggak … nggak.”
Gadis itu terus berhitung seiring ia menekan dada sang kakak, berharap ia belum terlambat dan masih bisa melihat senyumnya untuk kesekian lagi. Ia juga merapal doa, mengemis pada Tuhan agar mengasihaninya lagi, meminta-Nya untuk menunda rencana apa pun yang berujung memisahkan mereka. Dalam tangis yang tak terbendung, Raya memanggil nama Raga, memanggil kakaknya pulang, pulang ke rumah mereka.
“Raga, please. Jangan tinggalin gue. Gue mohon.” Raya terisak hingga dadanya turut sesak dan ia sendiri kesulitan bernapas. Ia tak henti menggeleng dan menekan dada kakaknya. “Raga!”
Kegaduhan itu terdengar dari luar. Aruna yang sedang memasak di dapur lekas mematika kompor dan berlari menuju kamar buah hatinya. Ia begitu terkejut saat melihat Raya melakukan pertolongan yang seumur hidup tak ingin ia lihat. Aruna berteriak, sampai-sampai ia jatuh terduduk, luruh dan tak kuasa. Susah payah ia mendekat hingga bisa menyentuh kaki putranya yang sangat pucat.
Pandangan sang ibu tak beralih dari bibir pecah-pecah Raga yang membiru. Mata lelaki itu terpejam sempurna dengan raut yang tampak tenang, seolah tidak ada jejak rasa sakit sama sekali. Mungkin, ia memang telah pergi saat lelap mengajaknya beristirahat. Raga telah meninggalkan mereka.
Tangis yang kini tak bersuara itu justru menjadi titik hancur yang tak bisa Aruna deskripsikan. Ia lantas menarik lengan Raya, menyuruhnya berhenti dan menjauh dari kakaknya.
“Udah, Ra. Kakakmu udah nggak ada.”
“Enggak. Semalem kami masih ngobrol, kok. Dia masih ngetik novelnya. Novelnya belum selesai, Ma.” Raya menepis tangan Aruna dan memukuli bahu Raga. “Bangun nggak lo! Beresin dulu tuh naskah! Mana bisa lo tinggal gini aja. Pembaca lo entar gimana, hah? Bangun, Ga! Bangun!”
Aruna lekas memeluk Raya dan membawanya turun. Ia memeluk putrinya yang terus memberontak dan berteriak ingin memberikan pelajaran pada sang kakak. Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima kenyataan.
“Maafin Raya, Ma. Maafin Raya.”
Kalimat itu terdengar jelas di telinga Aruna, tapi ia memilih abai dulu. Ia justru bangkit dan mendekati Raga, memeluk dan mencium keningnya lembut. Ia lalu naik ke kasur sang anak dan tidur di sampingnya, bersandar pada dinding. Aruna pun membawa tubuh Raga ke dadanya dan ia mengusap kepala lelaki itu penuh sayang.
“Kamu hebat, Nak, bisa bertahan selama ini. Makasih udah jadi anak Mama. Maaf karena kamu terlahir sakit-sakitan. Tapi sekarang udah nggak sakit lagi, kan? Tidur yang nyenyak, ya. Mama dan Raya akan mengantarmu.”
***