Tuan Winston berdiri mematung di hadapan sebuah apartemen lima lantai, bangunan kusam yang kontras dengan jas mewah yang kini ia rapikan dengan jemarinya. Kancing jas itu terpasang satu per satu, seolah memberinya waktu untuk menimbang kembali keputusannya.
Di seberang jalan, John, sekretaris pribadinya, berjalan tergesa menghampiri, napasnya tersengal setelah memarkir Rolls-Royce putih yang mencolok di antara kendaraan tua di sekitar bangunan itu.
“Apakah Anda benar-benar akan masuk ke dalam, Tuan?” tanya John, suaranya sarat kehati-hatian.
Selama belasan tahun mendampingi Tuan Winston, belum pernah ia melihat tuannya melangkahkan kaki ke tempat yang bagi kalangan mereka pantas disebut kumuh. Namun manusia, pikir John, selalu menyimpan kejutan—bahkan bagi mereka yang merasa telah mengenalnya dengan baik.
“Why, John? Kau meragukanku?” jawab Tuan Winston tanpa menoleh.
“Tidak, Tuan. Bukan itu maksud saya. Saya hanya berpikir akan lebih baik jika saya masuk terlebih dahulu dan memanggil detektif itu agar menemui Anda di sini.”
Tuan Winston hanya menepuk bahu John sebelum melangkah pergi, meninggalkan pria berkacamata bulat itu.
“Tunggu saya, Tuan!” seru John.
Mereka menaiki tangga apartemen itu satu per satu. Di dalam hatinya, John mengutuk semua keputusan hidup yang membawanya ke lantai lima apartemen tanpa lift milik Detektif Jean. Sementara itu, Tuan Winston mulai melonggarkan dasinya, berpura-pura tenang meski napasnya jelas tak lagi semewah jasnya.
Akhirnya mereka tiba di sebuah unit apartemen bernomor 55, sesuai arahan Detektif Jean dalam pesan singkatnya. John melangkah lebih dulu dan menekan bel pintu.
Pintu terbuka.
Dan disanalah Detektif Jean berdiri, sebuah kejutan visual yang sukses membuat John lupa bernapas selama dua detik penuh.
Wanita itu masih mengenakan riasan tebal yang sama seperti siang tadi. Terlalu tebal untuk disebut “tidak sempat berdandan”, dan terlalu niat untuk disebut “lupa”. Rupanya ia lebih fokus menyiapkan bukti daripada mengurus wajahnya. Senyum kecil, nyaris mengejek, terbit di wajah Tuan Winston. Sementara itu, John hanya bisa menatap seperti baru saja menemukan fakta bahwa bosnya diam-diam menyewa badut profesional.
Detektif Jean menyadari tatapan mereka dan mendengus pelan. Ada semburat kesal yang singkat, namun cukup kentara. Ia berdehem, berusaha mengusir rasa canggung yang tiba-tiba menyeruak.
Baru kemudian ia menyadari kehadiran orang ketiga dalam pertemuan rahasia itu. Keningnya berkerut, tatapannya beralih pada Tuan Winston, menuntut penjelasan tanpa kata. Seakan paham maksud itu, Tuan Winston menyikut ringan perut John.
Dengan sedikit gugup, John segera merapikan kancing jasnya lalu mengulurkan tangan.
“John Scott, sekretaris pribadi Tuan Winston,” ujarnya singkat.
Detektif Jean menyambut uluran tangan itu.
“Oh… jadi kau pria pembawa tas kotak di kantor polisi kemarin,” katanya, mengenang pertemuan beberapa hari lalu.
John hanya mengangguk singkat, tanda tidak yakin atas maksud perkataan Detektif Jean.
“Masuklah!” ucap Detektif Jean kemudian.
Ruang tamu yang biasanya berantakan kini telah berubah drastis. Detektif Jean menyulapnya menjadi semacam markas rahasia—sebuah pemandangan yang seolah tercabut dari film-film detektif Hollywood. Sebuah meja besar berdiri di tengah ruangan, dikelilingi kursi. Di salah satu sisi, papan transparan dipenuhi foto-foto target dengan coretan analisis dan benang-benang tipis yang saling terhubung.
Pemandangan itu membuat Tuan Winston dan John saling bertukar anggukan kecil. Sebuah pengakuan sunyi atas kesungguhan Detektif Jean. Keduanya kemudian duduk di samping Theo, yang telah lebih dulu mengambil tempat di hadapan meja besar.
“Well, Tuan-Tuan,” Detektif Jean membuka pembicaraan, suaranya kini terdengar mantap. “Karena kalian sudah datang, saya akan langsung memaparkan temuan saya di lapangan.”
Ia menunjuk dua foto pertama. “Patrick McCarthy dan Roland Watson, menurut analisis saya, bertindak sebagai agen pencari ‘gadis-gadis berbakat’ yang akan mereka orbitkan sebagai supermodel.” Jarinya kemudian bergeser ke foto berikutnya. “Sedangkan Albert Clark, pemilik Richmond Group, berperan sebagai perantara. Orang yang akan memperkenalkan gadis-gadis itu kepada tokoh-tokoh penting di negara ini. Untuk tujuan akhirnya, masih perlu penyelidikan lebih lanjut.”
Satu per satu foto ditunjukkannya, hingga akhirnya jarinya berhenti pada gambar seorang gadis yang terasa begitu familiar bagi Tuan Winston. Pria itu tanpa sadar mengubah posisi duduknya—sebuah tanda ketidaknyamanan yang tak luput dari pengamatan Detektif Jean.
“Gadis ini,” lanjutnya pelan, “Barbara Bailey. Model baru di Star Model Management. Kasusnya mirip dengan Alessandra … gadis yang menghilang secara misterius setahun lalu setelah bertemu dengan Patrick McCarthy dan Roland Watson.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara.
“Kebetulan yang aneh, bukan? Saya menduga hilangnya Alessandra dan Barbara memiliki benang merah yang sama.”
Detektif Jean lalu menekan jarinya pada foto Barbara. “Lupakan Patrick dan Roland. Gadis inilah pemeran utama saat ini.”
“Kau yakin hilangnya Barbara ada kaitannya dengan kasus Alessandra?” tanya John, keningnya berkerut. “Bukankah jarak waktu antara keduanya cukup jauh?”
“Exactly, Tuan Scott,” jawab Detektif Jean dengan mata berbinar. “Itulah yang ingin saya pastikan.”
Tiba-tiba Tuan Winston angkat bicara. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Detektif?”
Detektif Jean mendekat ke arahnya. Tatapannya tajam, penuh keyakinan—seolah rencana itu telah lama matang di benaknya.
“Bantu aku … menjadi seorang aktris.”
***
“CUT!”
Satu kata itu jatuh seperti palu, memutus ilusi yang baru saja tercipta. Cahaya lampu sorot meredup sedikit, dan dunia yang barusan tampak nyata kembali menunjukkan wajah aslinya—sebuah tempat yang dipenuhi kabel, kamera, dan orang-orang yang bergerak tanpa henti.
Pria yang tadi menjadi pusat adegan segera mengusap sudut matanya, lalu menjentikkan jari. Seolah isyarat itu adalah komando rahasia, para kru bergegas menghampiri. Wajahnya dirias ulang, jasnya dirapikan, dan segelas minuman disodorkan dengan sedotan yang telah siap. Segalanya berjalan cepat, rapi, dan dingin. Tak ada ruang untuk emosi—semuanya hanya bagian dari produksi.
Detektif Jean berdiri tak jauh dari sana, terasing di tengah keramaian. Tangannya masih menggenggam sapu, properti murahan yang menegaskan perannya hari itu: penyapu jalanan tanpa nama, tanpa dialog. Ia terbiasa berada di balik bayang-bayang, mengamati orang lain tanpa terlihat. Namun set film ini berbeda. Di sini, kebohongan dipoles dengan cahaya, dan rahasia disamarkan oleh skenario.
Bukan lewat penyelidikan resmi, bukan pula lewat berkas-berkas kepolisian, Detektif Jean masuk ke dunia ini. Tuan Winston, dengan koneksi yang tak pernah ia jelaskan, menempatkannya di sini—di antara kamera dan aktor papan atas Hollywood, Robert Cox. Hanya sebagai figuran. Bukan peran yang diimpikannya, tetapi satu-satunya celah aman.
Ia sempat berharap menjadi pemeran pembantu. Setidaknya cukup dekat untuk mendengar, cukup penting untuk diperhatikan. Namun John menolaknya dengan keras. Identitas Jean akan mudah terbongkar, katanya. Tuan Winston hanya mengangguk setuju. Dan Detektif Jean tahu, logika itu tak terbantahkan.
Sayangnya, jarak adalah musuh terbesar seorang detektif.
“Hei!”
Suara asisten sutradara menariknya kembali ke realitas.
“Sebentar lagi kau akan berperan sebagai penonton. Bersiaplah!”
Jean mengangguk. Ketika pria itu pergi, pandangannya kembali tertuju pada Robert Cox. Sang aktor kini sendirian, menjauh dari kru, ponsel menempel di telinganya. Wajahnya berubah—bukan lagi ekspresi buatan untuk kamera, melainkan keseriusan yang tak ditulis di naskah mana pun.
Naluri Detektif Jean bekerja.
Ia bergerak pelan, menyusup di antara properti dan kabel.