Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #8

The Pandora

Theo memandangi liontin yang tergantung di lehernya. Benda kecil itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya—satu-satunya yang selalu ia sentuh setiap kali pikirannya terasa terlalu berat. Sudah dua minggu ibunya menghilang tanpa kabar. Dan hingga malam ini, tak satupun petunjuk berarti ditemukan.

Bahkan acara favoritnya, yang sedang ia putar di televisi milik Detektif Jean, tidak mampu memperbaiki suasana hatinya.

Theo melirik jam dinding. Jarumnya hampir menunjuk tengah malam. Namun pemilik apartemen belum juga pulang.

Sesuai kesepakatan dalam rapat rahasia kemarin, hari ini Theo resmi pindah ke sekolah baru. Tuan Winston ditunjuk sebagai walinya—sementara, sampai ibunya ditemukan. Demi keamanannya, semua orang sepakat Theo tidak lagi dilibatkan dalam misi-misi rahasia bersama Detektif Jean.

Keputusan itu masuk akal. Namun tetap saja membosankan.

Apalagi John nyaris mengawasi setiap langkahnya di sekolah, seperti bayangan yang terlalu rajin. Karena itulah Theo menantikan kepulangan Detektif Jean dengan penuh harap. Ia ingin mendengar kabar terbaru—apa pun—tentang ibunya.

Bunyi pintu apartemen terdengar.

Mata Theo langsung berbinar.

Itu pasti Detektif Jean.

Ia berlari menuju pintu.

“Apa kau menemukan kabar tentang ibuku, Detektif?” tanyanya tanpa basa-basi.

Detektif Jean terkejut. Ia jelas tidak siap dengan sambutan secepat itu.

“Bagaimana sekolah barumu, Theo?” balasnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Theo menatapnya datar. “Berarti kau tidak menemukan kabar ibuku hari ini.”

Detektif Jean menghela nafas pelan dan mengangguk singkat.

Theo ikut menghela napas. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Oh iya, Detektif,” katanya. “Kau kedatangan tamu.”

Theo mengarahkan pandangannya ke arah kamar tidur milik Detektif Jean.

“Tamu?” ulang Detektif Jean heran.

Ia tidak ingat membuat janji dengan siapa pun. Terlebih lagi, tamu macam apa yang masuk tanpa izin—dan langsung menuju kamar tidur tuan rumah?

Dengan langkah cepat, Detektif Jean menuju kamarnya.

Begitu melihat pemandangan di hadapannya, ia melonjak mundur.

“Theo!”

Why?” sahut Theo santai, kini sudah berdiri di sampingnya.

“Kenapa pria itu ada di sini?” erang Detektif Jean frustasi.

Detektif Jean berdiri di ambang pintu kamar tidurnya, menatap tubuh Tuan Winston yang tergeletak pulas di atas ranjangnya, lengkap dengan jas mahal yang kusut dan sepatu yang masih terpasang. Pria itu mendengkur pelan, sangat bertolak belakang dengan citra dingin dan penuh kendali yang biasa ditampilkan.

Theo, yang berdiri santai di sampingnya, mengangkat bahu.

“Dia menekan bel pintu lima belas kali, meracau soal saham dan balas dendam. Lalu masuk sendiri. Aku anak sembilan tahun, Detektif. Apa kau berharap aku melakukan body slam?”

Detektif Jean terdiam.

Benar juga.

Detektif Jean memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Ia mendekat ke ranjang dan menepuk pipi Tuan Winston pelan.

“Tuan … Tuan Winston …”

Tidak ada reaksi.

Detektif Jean menampar pria itu dengan keras. Theo yang melihat adegan itu hanya memegangi pipinya sendiri, membayangkan betapa sakitnya tamparan itu.

“Hmmm … Mom … sebentar lagi … aku masih mengantuk,” gumam Tuan Winston sambil merubah posisi tidurnya. Seperti tamparan itu tidak berarti baginya.

“Aku bukan ibumu!” bentak Detektif Jean kesal. “Bangun, Tuan Winston!”

“Hmmm …”

Tidak ada hasil.

Detektif Jean mengusap wajahnya dengan kesal, lalu mencoba menelepon John berkali-kali. Tidak ada jawaban. Setelah beberapa detik mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk menyeret Tuan Winston ke luar apartemen, Detektif Jean menyerah.

Ia membiarkan pria itu tetap tidur di ranjangnya.

Keluar dari kamar, Detektif Jean menoleh ke sekeliling apartemen, mencari alternatif tempat tidur. Pandangannya berhenti di kamar Theo.

Theo yang menyadari niat itu langsung bertindak cepat.

“Selamat malam, Detektif,” katanya sambil menutup pintu kamarnya rapat-rapat. “Semoga tidurmu nyenyak.”

Detektif Jean hanya bisa tersenyum kecut.

Satu-satunya tempat tersisa adalah sofa di dekat dapur, yang kemarin ia geser dari ruang tamu demi membangun markas rahasia. Dengan enggan, ia menjatuhkan diri di sana.

Sungguh hari yang sial.

“Hari ini,” gumamnya kesal sambil melepaskan sepatunya, “aku menyelamatkan aktor besar Hollywood. Malamnya, aku kehilangan tempat tidur.”

***

Pagi datang tanpa permisi.

Detektif Jean terbangun dengan tubuh kaku dan leher yang terasa seperti baru saja berkelahi dengan puluhan gangster. Ia baru hendak duduk ketika suara dari arah kamar tidur menyambar kesadarannya.

“Menarik.”

Detektif Jean membeku.

“Ini … bukan kamar hotel.”

Ia memejamkan mata sejenak, berharap suara itu hanyalah sisa mimpi buruk akibat tidur di sofa. Namun apartemen kecil itu terlalu jujur untuk menipu siapa pun.

“Meski begitu,” lanjut suara itu santai, “kasurnya cukup nyaman. Kau punya selera yang lebih baik dari dugaanku, Detektif.”

Detektif Jean bangkit dengan gerakan cepat dan melesat menuju kamarnya.

Tuan Winston kini sudah duduk santai di atas ranjang, rambutnya sedikit berantakan, jas mahalnya terlipat rapi di kursi, seolah-olah ia memang berniat menginap. Ia tampak segar, terlalu segar untuk seseorang yang semalam mabuk berat.

“Apa yang sedang kau lakukan di rumahku Tuan Winston?” tanya Detektif Jean tajam.

Tuan Winston menoleh, tersenyum tipis. Senyum yang membuat orang ragu apakah sedang diajak bercanda atau sedang diancam secara halus.

“Bangun tidur,” jawabnya ringan. “Seperti orang normal.”

“Ini rumahku … dan itu ranjangku.”

“Detail kecil,” sahut Tuan Winston. “Aku sudah tidur di sana. Kita tidak bisa mengubah fakta tentang hal itu.”

Detektif Jean menahan dorongan untuk melempar bantal ke wajah pria itu.

Theo muncul di ambang pintu, masih mengenakan piyama, sambil membawa semangkuk sereal.

“Oh, kau sudah bangun,” katanya ceria kepada Tuan Winston. “Semalam kau bicara dalam tidur. Tentang saham dan balas dendam.”

Tuan Winston berkedip sekali. Lalu tertawa kecil.

“Anak yang menarik,” katanya. “Aku suka anak ini.”

Detektif Jean langsung memelototinya.

“Kau tidak punya izin untuk menyukai apa pun di apartemen ini.”

Tuan Winston berdiri dan merapikan manset kemejanya.

“Aku lupa,” katanya pelan, lalu menatap Detektif Jean lurus-lurus. “Aku memang sering lupa batasan ketika merasa aman.”

Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa lebih berat.

Detektif Jean menyilangkan tangan. “Kenapa kau ke sini dalam keadaan mabuk?”

Tuan Winston mendekat satu langkah, cukup dekat untuk membuat Detektif Jean sadar bahwa pria itu sangat sadar diri.

“Karena ini satu-satunya tempat di kota ini,” ucapnya rendah, “yang tidak akan mencatat kedatanganku.”

Detektif Jean tidak langsung menjawab.

“Dan karena,” lanjut Tuan Winston sambil menoleh ke arah Theo, “aku ingin memastikan kalian baik-baik saja.”

Theo menyuap sereal dengan santai. “Aku baik. Detektif tidak. Lehernya berbunyi sejak bangun.”

Detektif Jean berdehem.

Tuan Winston tersenyum lagi, kali ini lebih samar. “Lihat? Kau butuh kasur yang lebih baik.”

“Keluar dari rumahku,” kata Detektif Jean tegas.

Lihat selengkapnya