Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #9

The Place No One Looks

Detektif Jean pulang ke apartemennya dengan kepala yang jauh lebih berat daripada gaun pesta tadi. Detektif Jean masuk ke apartemennya tanpa menyalakan lampu. Ia meletakkan kunci di meja, lalu menutup pintu perlahan. Dari arah sofa, Theo mengangkat kepala.

“Kau pulang larut,” katanya.

“Ya.”

Detektif Jean melepas jaketnya dan menggantungnya seadanya. Ia tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa detik, seolah menimbang apakah pembicaraan ini memang perlu dilakukan malam ini.

“Theo,” katanya akhirnya. “Aku perlu memberitahumu sesuatu.”

Nada suaranya datar, terlalu datar untuk sekedar basa-basi. Theo langsung duduk tegak.

“Ini soal ibuku?”

Detektif Jean mengangguk sekali.

“Tapi sebelum kau bereaksi apapun, dengarkan sampai selesai.”

Theo mengatupkan bibir dan mengangguk.

Detektif Jean duduk di kursi seberang sofa, menjaga jarak yang wajar.

“Aku belum menemukan bukti bahwa ibumu meninggal,” katanya perlahan. “Dan itu bukan berarti aku menemukan bukti bahwa dia masih hidup.”

Theo menatapnya, bingung.

“Lalu … apa maksudmu?”

“Ada indikasi,” lanjut Detektif Jean. “Bukan dari video. Bukan dari barang bukti fisik. Tapi dari percakapan.”

Detektif Jean menjelaskan singkat tentang pesta itu—tanpa detail berlebihan, tanpa nama-nama besar yang belum perlu.

“Tiga pria. Mereka membicarakan ibumu seolah dia masih menjadi masalah yang berjalan. Bukan kenangan. Bukan kegagalan.”

Theo mengepalkan tangannya.

“Jadi dia masih hidup?” tanyanya cepat, terlalu cepat.

Jean menggeleng pelan.

“Aku tidak bisa mengatakan itu.”

Keheningan jatuh. Theo terlihat kecewa, tapi tidak hancur.

“Aku hanya bisa mengatakan ini,” lanjut Detektif Jean tegas namun hati-hati. “Jika seseorang menganggap ibumu sebagai ancaman aktif, maka kemungkinan dia masih hidup lebih besar daripada kemungkinan dia sudah mati.”

Theo menunduk.

“Dan aku tidak ingin kau berpegang pada itu sebagai harapan,” tambah Detektif Jean. “Harapan bisa berbahaya. Ia membuat orang ceroboh.”

Theo tersenyum kecil, pahit.

“Aku sudah terbiasa tidak berharap.”

Detektif Jean menatapnya lebih lama dari yang ia rencanakan.

“Tapi,” katanya kemudian, “aku juga tidak akan menutup kemungkinan itu. Dan aku tidak akan berhenti mencari kebenaran.”

Theo mengangkat kepala.

“Kenapa mereka melakukan itu?” tanyanya. “Kenapa semua orang takut padanya?”

Detektif Jean menatap anak itu lama.

“Karena ibumu tahu sesuatu,” katanya. “Sesuatu yang melibatkan orang-orang berkuasa.”

Theo terdiam, lalu menggenggam liontin kunci di lehernya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “dia kemungkinan masih berusaha pulang.”

Detektif Jean tersenyum tipis.

“Dan aku akan memastikan jalannya terbuka.”

Di luar, kota terus bising. Tapi di dalam apartemen kecil itu, untuk pertama kalinya setelah lama, harapan kembali bernafas.

***

Detektif Jean merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa izin, tanpa alas, dan tanpa rasa bersalah. Detektif Jean menatap langit-langit apartemennya yang kusam, kontras dengan kilau lampu kristal ballroom beberapa jam lalu.

Pandora.

Kata itu terus berputar di kepalanya.

Kotak apa yang cukup berharga hingga mereka rela menyekap Alessandra Kloss selama berhari-hari? Dokumen? Rekaman? Atau sesuatu yang jauh lebih buruk—sesuatu yang jika terbuka, bisa menjatuhkan terlalu banyak nama besar?

Dan yang lebih mengganggu:

jika kotak itu ada, di mana Alessandra menyembunyikannya?

Apartemen? Bank luar negeri? Atau tempat paling aman lainnya?

Pikiran Detektif Jean lalu berbelok, tanpa diundang, pada satu sosok lain.

Tuan Winston.

Pria itu seperti tahu banyak hal, muncul terlalu tepat waktu, dan selalu tampak satu langkah didepan—tanpa pernah benar-benar membuka semua kartunya. Ia bekerja sama, ya. Membantu, mungkin. Namun motifnya … tetap kabur.

Apakah mungkin Tuan Winston hanya ingin menjatuhkan musuh bisnisnya?

Atau Pandora itu juga bernilai baginya?

Detektif Jean menghela nafas panjang.

“Aku butuh tidur,” gumamnya pelan, pada diri sendiri dan pada langit-langit yang jelas tidak punya jawaban.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Detektif Jean melupakan masalahnya sendiri. Rasa penyesalan yang selama bertahun-tahun menghantuinya setiap malam memudar, seolah terdorong ke sudut pikirannya. Keputusan untuk membantu Theo terasa tepat—bukan hanya untuk anak itu, tetapi juga sebagai cara bagi Detektif Jean menjauh sejenak dari amarah yang selama ini ia pendam terhadap dirinya sendiri.

***

Pagi datang dengan cara yang sangat tidak sopan.

Detektif Jean terbangun dengan kesadaran pertama berupa satu fakta aneh, kasurnya terasa terlalu penuh.

Ia membuka mata perlahan.

Lalu membeku.

Di sebelahnya, terlentang dengan posisi terlalu santai untuk seseorang yang seharusnya tidak berada di sana, Tuan Winston tertidur pulas. Jasnya tergeletak asal di lantai, dasinya entah ke mana, rambutnya sedikit berantakan—dan ekspresinya damai.

Terlalu damai.

Detektif Jean menatapnya beberapa detik, memastikan ini bukan sisa mimpi buruk bercampur kelelahan.

Ini nyata.

“Ini pasti mimpi,” bisiknya.

Tuan Winston mendengus pelan dalam tidurnya, bergumam sesuatu yang terdengar seperti angka saham.

Detektif Jean menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Ingatannya mulai menyusun ulang kejadian malam tadi. Ia pulang larut. Sangat larut. Ia dan Theo berbicara sebentar di sofa. Sepertinya setelah itu, Theo pasti belum tidur. Dan rupanya—lagi dan lagi— sepertinya Tuan Winston datang dalam kondisi mabuk, menekan bel, dan Theo, dengan kepolosan yang konsisten, membukakan pintu.

Dan seperti sebelumnya, Tuan Winston masuk.

Dan seperti sebelumnya, langsung menuju kamar.

Dan seperti sebelumnya, tidak ada yang menghentikannya.

Detektif Jean bangkit perlahan dari ranjang, berusaha tidak membangunkan pria itu, lalu keluar kamar dengan langkah hati-hati.

Begitu pintu kamar terbuka—

“Selamat pagi.”

Detektif Jean tersentak.

John berdiri di dapur, mengenakan setelan rapi seperti biasa, sambil menata cangkir di meja makan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Detektif Jean otomatis.

“Atas perintah Tuan Winston,” jawab John tenang. “Dia memintaku menyiapkan sarapan dan memastikan semuanya … terkendali.”

Pintu kamar terbuka.

Tuan Winston melangkah keluar dengan langkah malas, rambut sedikit berantakan, kemeja terbuka satu kancing lebih rendah dari biasanya. Ekspresinya tenang—terlalu tenang—seperti seseorang yang baru saja tidur delapan jam penuh, bukan menyusup mabuk ke apartemen orang lain untuk kedua kalinya.

John yang sedang menuang kopi berhenti bergerak.

Cangkir itu nyaris meluap.

Pandangan John berpindah cepat: dari Tuan Winston, ke pintu kamar, lalu ke arah Detektif Jean yang berdiri membeku di dekat meja makan.

Satu detik.

Dua detik.

Dalam benaknya, berbagai kemungkinan yang sama sekali tidak ia minta mulai bermunculan.

Kenapa Tuan Winston keluar dari kamar itu?

Kenapa pagi?

Kenapa Tuan Winston terlihat … segar?

John berdehem pelan, berusaha menjaga profesionalisme yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

“Tuan,” katanya hati-hati, “saya tidak mengetahui bahwa Anda memiliki … agenda pribadi semalam.”

Tuan Winston berhenti melangkah.

“Apa maksudmu?” tanyanya datar.

John melirik sekilas ke arah Detektif Jean, lalu segera memalingkan wajahnya kembali ke meja, seolah lantai tiba-tiba menjadi sangat menarik.

“Saya hanya berpikir,” lanjutnya perlahan, “bahwa mengingat kondisi insomnia Anda selama beberapa tahun terakhir, fakta bahwa Anda dapat tertidur pulas di sini—”

Ia berhenti.

Lalu menambahkan dengan nada jauh lebih pelan,

“—cukup … tidak biasa.”

Theo, yang sedang memakan rotinya, menatap mereka bertiga bergantian.

“Oh,” katanya polos. “Tuan Winston memang tidur nyenyak. Dia bahkan mendengkur sedikit. Seperti orang bahagia.”

John menutup mata sesaat.

Lihat selengkapnya