Lampu neon di ruang forensik berdengung pelan. Cahaya putihnya memantul di lantai keramik dan meja stainless yang berderet seperti altar dingin.
“Tuan Jones, ada mayat baru datang malam ini.”
Seorang penjaga muncul di ambang pintu. Pria yang dipanggil menoleh, jas putihnya masih bersih, ID card di dadanya berkilat: Dr. Bradley Jones — Forensic Division.
“Benarkah?” Brad menjawab sambil mengangkat cangkir kopi. Asap tipis naik dari permukaannya. “Terima kasih, Bob.”
Ia berjalan masuk ke ruang otopsi dengan langkah santai, langkah orang yang sudah terlalu lama berteman dengan kematian sampai lupa bagaimana rasanya takut.
Di tengah ruangan, satu meja otopsi terisi.
Tubuh tertutup kain putih.
Brad meletakkan gelas kopi kosongnya di sudut meja, menarik sarung tangan karet, lalu berdiri di sisi mayat. Sekali tarik.
Kain putih tersingkap.
Bukan karena luka mengerikan.
Bukan karena wajah pucat.
Melainkan karena wajah itu membuka satu mata.
“Jean?”
Tubuh itu tiba-tiba menyeringai lebar.
“Halo, Brad.”
Brad mundur satu langkah.
Lalu dua.
Lalu refleks meraih gunting bedah.
“Jangan bergerak!” katanya tegang, menunjuk Detektif Jean dengan gunting. “Aku sudah menonton cukup banyak film horor untuk tahu kapan harus panik.”
Detektif Jean duduk perlahan. Kain putih melorot, memperlihatkan jaket kumal dan kaos lusuh di baliknya.
“Tenang, Brad. Aku masih hidup.”
Brad memejamkan mata, membuka lagi, lalu menampar pipinya sendiri sekali.
“Tidak,” gumamnya. “Aku tidak kurang tidur. Aku tidak mabuk. Aku baru saja melihat mayat menyapaku.”
“Aku masih hidup,” kata Detektif Jean ringan.
“Itu justru masalahnya,” balas Brad. “Mayat seharusnya tidak menjelaskan diri.”
Brad mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menarik nafas panjang. Ia menatap Detektif Jean seperti menatap laporan medis yang sangat salah cetak.
“Lima detik,” katanya sambil mengangkat satu jari. “Aku butuh lima detik sebelum serangan jantung.”
Detektif Jean menunggu kekonyolan pria itu. Benar-benar menunggu.
Brad menurunkan jarinya.
“Baik. Kau nyata. Sayangnya.”
Detektif Jean turun dari meja otopsi. Sepatu ketsnya menyentuh lantai dengan suara ringan, kontras dengan ruang yang seharusnya sunyi.
“Lama tak bertemu, Brad.”
“Kau tahu tidak,” Brad menyilangkan tangan, “aku hampir menuliskan jam kematianmu.”
Detektif Jean tersenyum bangga. “Itu berarti aku terlihat meyakinkan.”
“Kau terlihat seperti tuntutan hukum.”
Brad berjalan ke meja, meletakkan gunting yang berada digenggamannya.
“Kudengar kau membuat keributan di kantor polisi beberapa waktu lalu.”
“Insiden kecil. Sepertinya beritaku sudah menyebar seantero New York.”
“Jean, kau menyamar sebagai mayat.”
“Efisien,” jawab Detektif Jean.
Brad menatapnya lama.
“Langsung ke inti,” katanya akhirnya. “Apa yang membuatmu bangkit dari kematian setelah lima tahun?”
Detektif Jean merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kantong plastik bening. Sidik jari terlihat jelas di dalamnya.
“Aku butuh analisis … secara diam-diam.”
Brad menerima kantong itu, mengangkatnya ke cahaya.
“Jean,” katanya pelan, “kau tahu tidak … aku dokter forensik. Bukan kontak darurat untuk krisis identitas.”
Detektif Jean sudah melangkah menuju pintu ketika ia menoleh.
“Pastikan tidak ada yang tahu.”
Brad memandang punggung Detektif Jean yang menjauh, lalu menoleh ke meja otopsi kosong.
Ia mendesah panjang.
“Aku bersumpah,” gumamnya sambil membuang sarung tangan karetnya, “wanita itu alasan aku ubanan sebelum empat puluh tahun.”
***
Keramaian malam itu padat dan berisik—jenis keramaian yang justru membuat seseorang merasa sendirian, meski dikelilingi ratusan orang. Detektif Jean berjalan di antara tubuh-tubuh asing. Bahunya beberapa kali tersenggol tanpa permintaan maaf. Bau aspal basah, parfum murah, dan aroma makanan jalanan bercampur menjadi satu, menciptakan kekacauan yang anehnya terasa akrab.
Tanpa sengaja, langkahnya melambat ketika pandangannya menangkap sebuah restoran kecil di sudut jalan. Di balik kaca beningnya, sebuah keluarga sedang merayakan ulang tahun. Seorang anak tertawa sambil meniup lilin, kedua orang tuanya bertepuk tangan, wajah mereka sederhana—dan utuh. Detektif Jean hanya berdiri sesaat, memperhatikan dari luar, sebelum kembali melangkah. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak, lalu menghilang secepat ia datang.
“Sungguh menyenangkan bukan?” gumam Detektif Jean. Ia tahu, pertanyaan itu jarang membawa jawaban yang menyenangkan.
Pikirannya terlalu tenggelam dalam kasus ini, terlalu terbuai oleh kebutuhan untuk terus bergerak, hingga ia tak sadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya—sekaligus hari peringatan kematian keluarganya.
Ironis, bukan?
Langkah Detektif Jean terhenti di depan sebuah toko kue kecil yang hampir tersembunyi di antara keramaian. Di balik etalase kaca, sebuah kue ulang tahun mungil menarik perhatiannya. Tanpa banyak pertimbangan, ia membelinya.
Detektif Jean membawa kue itu ke sebuah taman yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk jalanan. Ia duduk di sebuah ayunan tua, menyalakan lilin kecil di atas kue, lalu meniupnya perlahan. Tidak ada harapan, tidak ada doa—hanya nafas yang keluar dan cahaya lilin yang padam.
Ayunan berderit pelan. Detektif Jean memandangi kue di tangannya seolah itu barang bukti dari kasus yang tak pernah ia minta.
Ulang tahun, ya, pikirnya. Orang-orang biasanya merayakan ini dengan keluarga, teman, atau setidaknya pesan singkat yang terlalu manis.
Ia menghela nafas kecil, nyaris terdengar seperti tawa tanpa suara.
Aku malah merayakannya dengan gula, lilin, dan ayunan berkarat. Pilihan yang sangat … konsisten dengan gaya hidupku.
Detektif Jean menatap langit malam yang tertutup awan. Tidak ada bintang yang terlihat, hanya cahaya kota yang memantul samar.
Setidaknya aku masih disini, batinnya. Masih bisa duduk, masih bisa mengamati. Itu sudah cukup untuk malam ini.
Ia mengambil garpu plastik, memotong sepotong kecil kue, lalu memakannya perlahan. Rasanya biasa saja—tidak istimewa, tidak buruk.
Ya, pikir Detektif Jean sambil mengayun pelan, hidup memang jarang terasa istimewa. Tapi anehnya, hidup selalu menemukan cara untuk membuatnya tetap berjalan.
Malam terus bergerak. Ayunan berdecit lembut, dan Detektif Jean membiarkan pikirannya mengalir, setidaknya sampai ia siap berdiri lagi dan kembali menjadi detektif yang seharusnya.
***
Detektif Jean tiba di apartemennya ketika malam hampir menyerah pada fajar. Langit di luar jendela lorong sudah memucat, seperti wajah seseorang yang menyesali keputusan-keputusan buruknya. Lampu-lampu koridor diredupkan, menyisakan cahaya kekuningan yang membuat bayangan tampak lebih panjang dan lebih dramatis daripada yang diperlukan—seolah gedung tua itu sendiri gemar berlebihan.
Ia berdiri sejenak di trotoar, menatap bangunan lima lantai yang telah menjadi saksi separuh hidupnya. Cat dindingnya mengelupas dengan percaya diri, seperti kulit ular yang terlalu malas berganti. Sebuah plakat besi kecil bertuliskan Harrington terpasang miring di samping pintu masuk, huruf-hurufnya mulai pudar oleh hujan dan waktu.
Gedung itu jelas membutuhkan renovasi.
Namun, pikir Jean, apa yang sebenarnya ia harapkan dari apartemen murah di pinggiran Kota New York? Gedung ini bahkan tidak punya Lift. Ia menghembuskan napas panjang dan menyiapkan diri untuk ritual malamnya: menaiki tangga menuju lantai lima, tempat kasur empuknya menunggu dengan kesetiaan yang tidak pernah ia dapatkan dari manusia.
Langkahnya mantap hingga mencapai anak tangga pertengahan.
Lalu ia berhenti.
Di sana, duduk bersandar pada pegangan besi yang sudah berkarat, seorang pria dengan kemeja kusut dan jas yang entah menghilang ke mana. Sebuah ponsel tergenggam longgar di tangannya, seolah benda itu tidak lagi memiliki makna selain sebagai penyeimbang tubuhnya yang nyaris miring.
Tuan Winston.
Detektif Jean menutup mata sebentar. Hari ini telah panjang, melelahkan, dan dipenuhi kebodohan manusia dalam berbagai bentuk. Ia tidak merasa perlu menambahkan satu lagi.
“Bukan ini hadiah ulang tahun yang kumaksud.”
Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah melewati pria itu, berusaha memperlakukannya seperti bagian dari inventaris gedung—seperti kursi patah atau pot tanaman mati yang terlalu malas dibuang.
“Kau mengabaikanku, Detektif?”
Suara itu serak, pelan, dan jelas terendam alkohol.
Detektif Jean berhenti. Menghitung sampai tiga. Mempertimbangkan kemungkinan berpura-pura tuli. Lalu ia berbalik, turun satu anak tangga, dan duduk di samping Tuan Winston dengan wajah datar yang nyaris filosofis.
“Tidak,” ujarnya singkat. “Aku hanya sedang berpura-pura tidak melihat kesalahan hidup.”
Tuan Winston tertawa pendek—tawa orang mabuk yang dimulai dengan ambisi besar dan berakhir tanpa arah. Kepalanya terkulai sedikit, lalu ia mulai berbicara. Tentang saham yang jatuh, tentang mitra bisnis yang berkhianat, tentang rapat dewan yang dipenuhi senyum terlalu lebar dan tangan-tangan yang terlalu bersih.
Detektif Jean mengangguk pelan, setengah mendengarkan, setengah meninjau ulang seluruh pilihan hidupnya. Detektif Jean membenarkan kesimpulan Theo dalam kepalanya.
Tuan Winston memang selalu mabuk sambil bicara soal saham dan itu membosankan.
“Aku kehilangan dua persen hari ini,” gumamnya.
Detektif Jean menghela napas. “Kehilangan dua persen apa?”
“Saham.”
“Syukurlah. Kukira kewarasanmu.”
Tuan Winston mengangkat kepalanya sedikit. “Investor tidak sabar. Mereka seperti burung nasar. Sedikit saja grafik turun … mereka menyerang. Dewan direksi tersenyum, tapi mereka menghitung seberapa cepat mereka bisa menggantiku.”
Detektif Jean menyandarkan punggungnya pada dinding. “Kau sadar tidak ada satupun warga Harrington yang tahu apa itu grafik saham?”
“Itu bukan poinnya.” Tuan Winston menunjuk udara kosong. “Aku membangun semuanya dari nol.”
Detektif Jean menoleh pelan. Tatapannya kosong, seperti hakim yang sudah mendengar kebohongan terlalu sering.
“Kau mewarisi sebuah perusahaan bernilai miliaran dolar,” katanya datar. “Menaungi lima puluh merek brand mewah. Dua perusahaan properti. Dan tolong—”
Ia mengangkat satu jari peringatan.
“Jangan sampai kau punya ide masuk ke dunia perminyakan. Aku tidak sanggup mendengar ceramah tentang kilang minyak pukul tiga pagi.”
“Secara teknis,” bantah Tuan Winston dengan kesungguhan mabuk, “aku hanya mewarisi fondasinya, dan aku akan mempertimbangkan ide itu Detektif.”
Detektif Jean mendengus pelan.
“Itu ambisi yang butuh terapi.”
“Aku hanya memperluas pengaruh.”
“Kau memperluas ego.”
Hening sebentar.
Tuan Winston menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tersinggung yang setengah tulus, setengah mabuk.
“Aku bekerja keras.”
Detektif Jean menyandarkan kepala ke dinding. “Kau bekerja keras mengelola warisan. Itu berbeda dengan membangun dari nol.”
“Kau meremehkanku.”
“Aku menempatkanmu secara proporsional.”
Tuan Winston terdiam, lalu bergumam, “Semua orang selalu menganggap aku hanya anak beruntung.”
Detektif Jean menoleh lagi, kali ini lebih pelan.
“Dan kau membuktikan mereka salah dengan menjadi miliarder yang stres karena grafik turun dua persen?”
Tuan Winston mendesah panjang.
“Aku tidak pernah merasa cukup,” katanya lirih.
Detektif Jean terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Dan aku tidak pernah punya cukup waktu.”
Tuan Winston menoleh.
Detektif Jean melanjutkan tanpa menatapnya.
“Kau takut kehilangan posisi. Aku kehilangan orang sebelum sempat mempertahankan mereka.”
Tangga terasa lebih sunyi.
“Setidaknya kau masih bisa memperbaiki grafikmu,” tambah Detektif Jean pelan. “Aku tidak bisa memperbaiki masa lalu.”
Tuan Winston tidak bercanda sekarang.
Dan untuk pertama kalinya, kalimat tentang miliaran dolar itu tidak lagi terdengar seperti sindiran—melainkan kontras yang menyakitkan.
Tuan Winston melanjutkan, kali ini lebih pelan. “Tapi, orang-orang selalu pergi saat aku gagal.”
Kalimat itu meluncur tanpa dramatisasi. Tanpa retorika. Hanya fakta yang terdengar terlalu jujur untuk seorang pemilik perusahaan.
Detektif Jean hendak menyahut dengan sarkasme.