Detektif Jean pulang ke apartemen hampir tengah malam. Lorong Harrington sudah dimatikan lampunya—hemat listrik versi Madam Rossi, yang percaya kegelapan bisa membangun ‘karakter penghuni’. Hasilnya: lorong itu tampak seperti set film horor beranggaran rendah.
Detektif Jean melangkah cepat. Kepalanya penuh kemungkinan liar. Setiap langkahnya terdengar seperti efek suara dramatis di benaknya sendiri. Ia hampir tersenyum sendiri ketika—
“Selamat malam.”
Suara itu muncul tepat di depan wajahnya.
“Hahhh!—” Detektif Jean meloncat mundur begitu tinggi sampai hampir menjatuhkan pot tanaman plastik yang sudah mati sejak tahun lalu. “Kau mengagetkanku, Tuan Hart!”
Dari dalam kegelapan, Tuan Hart berdiri dengan piyama bergaris dan jubah beludru yang terlalu teatrikal untuk sekadar mengambil minum. Ia memegang secangkir teh … yang entah bagaimana masih mengepul meski lampu lorong mati total.
“Apa yang baru kau lakukan di tengah malam seperti ini Detektif?” tanyanya pelan, nada suaranya seperti narator film dokumenter tentang kejahatan kelas atas.
Detektif Jean berdehem. Terlalu keras. Sampai terdengar seperti mesin motor yang gagal menyala.
“Ti … tidak … aku habis dari bengkel Tom.”
“Di tengah malam?” Tuan Hart mengangkat satu alis setinggi lantai lima.
“Iya. Kenapa, Tuan?”
“Kau berbohong.” Ia melangkah satu langkah mendekat. Dramatis sekali. “Kau terlihat seperti baru saja mengepung bandar narkoba berskala internasional. Atau minimal menyelinap ke pesta rahasia kaum oligarki.”
“Ayolah, aku sudah lama berhenti jadi detektif di kepolisian.”
“Justru itu,” jawab Tuan Hart cepat. “Orang yang sudah berhenti biasanya lebih berbahaya. Mereka punya waktu luang dan trauma yang belum selesai.”
Detektif Jean memijat pelipisnya. “Aku hanya memperbaiki knalpot.”
“Dengan pakaian serba hitam? Dan sepatu tak bersuara? Dan ekspresi ‘aku baru menemukan sesuatu yang akan mengubah alur cerita’ di wajahmu?”
Detektif Jean membeku.
Tuan Hart tiba-tiba mengeluarkan buku catatan kecil dari balik jubahnya.
“Kebetulan sekali,” katanya riang. “Aku sedang mengalami kebuntuan ide untuk novel misteriku. Tokoh utamaku kurang … liar. Kurang rasa bersalah. Kurang aroma pelanggaran hukum ringan.”
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Bagus! Itu kalimat pembuka yang luar biasa!” Tuan Hart langsung menulis cepat. “‘Aku tidak melakukan apa-apa,’ katanya dengan napas terengah dan sepatu penuh debu konspirasi.”
“Sepatuku tidak berdebu.”
“Metaforis,” sahut Tuan Hart tanpa menoleh.
Detektif Jean mencoba melangkah melewatinya.
Tuan Hart ikut bergeser, menghalangi dengan gerakan yang terlalu lincah untuk pria seusianya. “Setidaknya beri aku satu detail kecil. Misalnya … apakah kau menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kau temukan?”
Detektif Jean menatapnya datar.
Tuan Hart mencondongkan tubuh. “Kedipan saja cukup. Satu kedipan untuk ya. Dua kedipan untuk ya tapi dramatis.”
Detektif Jean tidak berkedip sama sekali.
“Ah!” seru Tuan Hart. “Tidak berkedip berarti ada sesuatu yang sangat besar.”
“Tidak berarti apa-apa.”
“Itu juga bagus!” tulisnya lagi. “‘Tidak berarti apa-apa,’ katanya, padahal semuanya berarti segalanya.”
Detektif Jean menghela napas panjang. “Tuan Hart, Anda berdiri di lorong gelap tanpa alasan jelas. Itu jauh lebih mencurigakan daripada aku pulang malam.”
“Saya sedang mencari inspirasi,” jawabnya santai. “Kegelapan membantu saya memahami jiwa manusia.”
“Dengan mengintai tetangga?”
“Mengamati. Kata yang lebih elegan.”
Detektif Jean akhirnya berhasil melangkah ke depan pintu apartemennya.
Tuan Hart masih mengikuti. “Baiklah, tidak perlu cerita lengkap. Beri aku suasana saja. Apakah tempat itu … sunyi?”
Detektif Jean terdiam sepersekian detik.
“Sunyi,” katanya akhirnya pendek.
Tuan Hart menarik napas dramatis seperti baru saja mencium aroma plot twist. “Indah sekali.”
“Dan biasa saja.”
“Ah, ironi!” Tuan Hart mencatat lagi dengan semangat berlebihan.
Detektif Jean membuka pintu apartemennya.
“Kalau suatu hari kau merasa bersalah dan ingin mengaku,” tambah Tuan Hart ceria, “datanglah ke apartemenku. Pengakuan dosa selalu meningkatkan kualitas bab tiga.”
Detektif Jean menatapnya lelah. “Selamat malam, Tuan Hart.”
“Selamat malam,” jawabnya sambil melambai kecil. “Dan terima kasih atas konflik batinnya!”
Pintu tertutup.
Lorong kembali sunyi.
Dari balik pintu, Detektif Jean bersandar dan menghela napas.
Di Harrington, bahkan percakapan tengah malam pun terasa seperti audisi untuk kegilaan.
Di luar, Tuan Hart berdiri dalam gelap, gemetar oleh kegembiraan sastra.
Ia membuka bukunya lagi dan menulis besar-besar:
Mantan Detektif.
Aku tidak melakukan apa-apa.
Sepatu Berdebu.
Menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Lalu ia berbisik puas,
“Semua orang di gedung ini sudah gila.”
Dan ia menambahkan catatan kecil di bawahnya:
Termasuk aku.
***
Detektif Jean berdiri diam di depan papan target yang kini tergantung di dinding kamarnya sendiri. Ia memindahkannya kemarin—tepat sebelum para tetangga menyerbu apartemennya dengan rasa ingin tahu yang lebih berbahaya dari senjata api.
Kamar itu kini berubah fungsi. Bukan lagi tempat istirahat, melainkan ruang perang.
Di papan itu, wajah Tuan Winston terpampang paling tengah. Foto itu ditusuk pin hitam, seolah-olah bahkan warna pun enggan terlalu mencolok di sekitarnya. Dari sana, benang merah menjulur tegang menuju foto Barbara—yang sudah lebih dulu terpasang, seakan menunggu pasangan dalam jaringan rahasia ini.
Benang itu bukan sekadar penghubung. Itu adalah tuduhan.
Detektif Jean melangkah mundur satu langkah, menatap keseluruhan pola. Garis-garis saling menyilang. Catatan kecil ditempelkan dengan sudut tergesa. Tanggal. Waktu. Potongan kalimat. Dugaan.
Semuanya tampak seperti kekacauan.
Namun bagi Detektif Jean, kekacauan adalah bahasa yang bisa ia baca.
Masalahnya, masih ada tiga titik kosong yang menganga seperti lubang peluru:
Alexandra.
Barbara.
Dan pulau pribadi milik Albert Clark.
Nama itu terasa lebih berat dari yang lain.
Detektif Jean memejamkan mata, mengingat kembali percakapan dengan Tuan Winston. Suara pria itu terdengar lagi di kepalanya, rendah dan penuh tekanan tersembunyi:
“Albert Clark memiliki sebuah pulau pribadi di Kepulauan Karibia. Kurasa … dia memiliki hubungan erat dengan menghilangnya Alessandra Kloss. Aku ingin kau menyelidikinya. Ada aktivitas mencurigakan di pulau itu.”
Detektif Jean membuka mata perlahan.
Kepulauan Karibia.
Pulau pribadi.
Akses terbatas.
Tamu-tamu tertentu saja.
Tempat seperti itu tidak dibangun untuk bersantai. Tempat seperti itu dibangun untuk menyembunyikan.
Ia mengambil spidol hitam dan menulis besar di sudut papan:
PULAU = TITIK ASAL
Semua garis ia tarik ulang menuju satu pusat imajiner—sebuah daratan kecil di tengah laut luas. Terisolasi. Tertutup. Tak tersentuh hukum biasa.
Orang bisa menghilang di kota.
Namun di pulau terpencil?
Orang bisa dihapus.
Jika Patrick dan Roland benar-benar sering ke sana, maka itu bukan sekadar tempat liburan. Itu pertemuan. Koordinasi. Mungkin transaksi.
Dan jika Alessandra Kloss dan Barbara Bailey menghilang setelah namanya mulai dikaitkan dengan Clark.
Detektif Jean menghembuskan napas panjang.
Ia mengambil ponselnya, membuka peta digital, dan memperbesar wilayah Karibia. Ratusan pulau kecil tersebar seperti titik-titik tak berarti.
Tapi satu diantaranya pasti menyimpan jawaban.
Ponsel Jean tiba-tiba bergetar di atas meja kecil di samping papan target. Bunyi notifikasinya terdengar terlalu nyaring di kamar yang dipenuhi teori konspirasi.
Ia meraih ponsel itu.
Pesan dari Tom.
Tom—mantan ketua gangster yang kini lebih sering memegang kunci inggris daripada pistol. Pria yang dulu memimpin operasi penyelundupan obat-obatan terlarang, sekarang memimpin diskon spooring dan servis berkala.
“Detektif, ada pria aneh yang mencarimu.”
Detektif Jean mengernyit.
Pria aneh?
Itu deskripsi yang terlalu luas untuk hidupnya. Ia selalu bertemu pria aneh dalam hidupanya.
Ia menatap papan sekali lagi, lalu meraih jaketnya. Jika pria aneh itu berkaitan dengan pulau misterius itu, Albert Clark, atau jaringan misterius—ia harus tahu.
Namun hidup Detektif Jean jarang berjalan sesuai dugaan logis.
Bengkel milik Tom berbau oli, besi panas, dan masa lalu yang sudah pensiun. Deretan mobil antik berjajar seperti saksi bisu sejarah otomotif dan mungkin beberapa tindak kriminal yang sudah kedaluwarsa.
Dan di tengah-tengahnya—
Seorang pria berdiri sambil memeluk bunga mawar merah.
Bukan buket kecil.
Bukan sekuntum.
Tapi rangkaian mawar sebesar tubuhnya sendiri.
Detektif Jean membeku.
Itu Robert Cox.
Pria itu belum menyadari kehadirannya. Ia sedang mengagumi mobil antik dengan wajah berbinar-binar, sementara buket mawar raksasa itu hampir menelan separuh tubuhnya.
Secara refleks, Detektif Jean berjongkok dan menyelinap ke balik sebuah mobil rusak untuk menyembunyikan dirinya.
“Kenapa pria itu datang ke sini?” gumamnya pelan.
Lalu seperti kilat yang menyambar harga diri, ia teringat.
Alamat.
Ia mencantumkan alamat bengkel Tom saat mendaftar sebagai figuran dalam penyamaran tempo hari.
Karena panik.
Karena terburu-buru.
Karena merasa itu tidak akan pernah ditelusuri.
Ia mengutuk kebodohannya dalam hati. Seharusnya ia mencantumkan alamat palsu. Atau alamat kantor pajak. Atau alamat kantor polisi sekalian.
Ia tak menyangka pria itu benar-benar mencarinya.
Detektif Jean menarik napas panjang. Tidak ada pilihan. Ia tidak bisa selamanya bersembunyi.
Ia berdiri.
Robert Cox menoleh.
Wajahnya langsung bersinar seperti lampu sorot konser.
“ JEAN … oh—tidak, JEN!”
Sebelum Detektif Jean sempat mundur setengah langkah, pria itu berlari ke arahnya—dengan bunga raksasa bergoyang-goyang seperti bendera kemenangan.
Tom yang sedang memperbaiki kap mobil berhenti memutar obeng.
Ia menonton.
Robert meraih tangan Detektif Jean dengan dramatis, lalu mengecup punggung tangannya.
Detektif Jean tersenyum kikuk.
Senyum yang lebih mirip orang menahan muntah saat mencium aroma bensin tercampur parfum murahan.
“Kenapa kau tidak membalas pesanku, Jen?” tanya Robert dengan mata berkaca-kaca penuh drama. “Dan kenapa kau tidak datang lagi ke lokasi syuting? Aku merindukanmu.”
Kata rindu itu melayang di udara seperti balon beracun.
Detektif Jean bergidik halus.
Di kejauhan, Tom hampir menjatuhkan sebuah obeng.
Selama belasan tahun mengenal Detektif Jean, baru kali ini ia melihat perempuan itu tidak langsung menonjok pria yang menyentuhnya tanpa izin tertulis.
Tom menyipitkan mata.
Apakah ini penyamaran?
Apakah ini sandera emosional?
Apakah ia perlu memanggil ambulans?
Detektif Jean menarik tangannya perlahan.
“Aku … sibuk,” jawabnya singkat.
“Sibuk memikirkan kita?” Robert tersenyum penuh harap.
Tom benar-benar menjatuhkan obengnya kali ini.
Bunyi klang menggema di bengkel.
Detektif Jean menoleh tajam ke arah Tom.
Tom pura-pura sibuk mengelap mesin sambil bergumam, “Aku tidak melihat apa-apa.”
Robert masih menatap Detektif Jean seperti ia baru saja menemukan makna hidup.
“Aku menunggumu di lokasi syuting tiga hari,” lanjutnya dramatis. “Kursi kosongmu terasa seperti lubang di hatiku.”
Detektif Jean hampir terbatuk.
Lubang di hati biasanya disebabkan oleh kolesterol, bukan figuran misterius.
Ia tersenyum lagi. Lebih terkontrol kali ini.
“Kita bicara di luar saja,” katanya cepat sebelum Robert mulai membaca puisi.
Ia melirik Tom.
Tom mengangkat alis tinggi-tinggi seolah bertanya, Ini bagian dari misi?
Detektif Jean memberi tatapan balasan: Nanti kuceritakan. Atau mungkin tidak pernah.
Robert dengan semangat mengangkat buket mawar raksasanya lagi.
“Kita ke kafe dekat sini? Aku ingin mendengar semua tentang hidupmu!”
Detektif Jean dalam hati hanya bisa berpikir:
Aku lebih siap menyusup ke pulau misterius di Karibia daripada menghadapi satu pria romantis berlebihan.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Baik,” katanya.
Tom menatap mereka pergi dengan ekspresi campuran antara khawatir dan terhibur.
Saat pintu bengkel tertutup, Tom menggeleng pelan.
“Dunia kriminal lebih sederhana,” gumamnya. “Setidaknya pelurunya tidak bilang rindu.”
***
Kafe kecil itu cukup tenang. Aroma kopi memenuhi ruangan, musik jazz pelan mengalun, dan Detektif Jean duduk berhadapan dengan pria yang secara teknis lebih sering muncul di layar lebar daripada di kehidupan nyata. Beberapa pengunjung melirik ke arah mereka dengan ekspresi penuh analisis sosial, seolah-olah sedang menghitung kemungkinan: apakah ini pertemuan penting dua orang dewasa, atau Robert Cox sedang membuka lowongan asisten pribadi dadakan.
“Jean … oh—tidak, Jennifer,” kata Robert Cox sambil menarik kursi di depannya. Senyumnya rapi. Terlalu rapi. “Aku tidak tahu kalau kau punya bengkel.”
Detektif Jean menegakkan punggung. Ekspresi netral. Latihan bertahun-tahun.
“Ah … itu bengkel usaha keluarga,” jawabnya ringan.
Ia bahkan tidak yakin Tom akan setuju disebut “keluarga”, tapi situasi darurat membutuhkan narasi cepat.
“Benarkah?” Robert menatapnya dari atas sampai bawah tanpa rasa bersalah. “Kau terlalu cantik untuk bersembunyi di bengkel seperti itu.”
Detektif Jean hampir menelan sedotan saat menyeruput lattenya.
Cantik?
Ia melirik ke bawah. Celana training abu-abu. Kaos lusuh. Jaket merah kebanggaannya yang sudah melewati terlalu banyak misi dan terlalu sedikit deterjen.
Untuk ukuran aktor papan atas Hollywood, sepertinya ada yang salah dengan penglihatan pria itu.
Memang, sudah tiga hari ia tak muncul di lokasi syuting. Urusannya selesai. Tidak ada lagi yang bisa dikorek di sana. Namun rupanya, bagi Robert, kehadirannya belum berakhir.
“Apa kau memang tidak ingin melanjutkan syuting?” tanyanya.
“A—aku, um … sebenarnya kontrakku sudah selesai,” jawab Jean cepat.
Ia mengenali ekspresi itu. Tatapan pria yang merasa sedang mengejar wanita misterius yang sulit diraih. Padahal kenyataannya jauh lebih ironis: wanita di hadapannya adalah seseorang yang secara profesional dibayar untuk mencurigai orang seperti dia.
Robert memanggil pelayan dan memesan sebuah kue dengan suara lembut yang biasa dipakai untuk adegan romantis. Mudah disukai. Percaya diri. Kamera pasti mencintainya.
Detektif Jean, secara objektif, mengakui pria itu tampan. Wajahnya terlalu simetris untuk dipercaya. Seolah hidupnya selalu berada di bawah pencahayaan sempurna.