Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #12

A Message from the Shadows

Seorang pria melangkah menembus arus manusia di stasiun kereta bawah tanah yang sibuk. Pakaiannya serba hitam, rapi, nyaris terlalu rapi untuk ukuran jam sibuk pagi hari. Topi fedora hitam bertengger pas di kepalanya, menutupi sebagian wajahnya dan—tanpa ia sadari—membuatnya tampak seperti seseorang yang sangat ingin terlihat misterius.

Pria itu berhenti, lalu duduk di sebuah bangku stasiun.

Tepat di bangku belakangnya, seseorang membuka koran pagi selebar mungkin, seolah halaman ekonomi hari itu adalah urusan hidup dan mati.

“Kau terlambat,” kata orang yang membaca koran itu, tanpa menoleh.

“Ya. Terlambat sedikit,” jawab pria bertopi fedora, juga tanpa menoleh.

Jeda.

Kereta lewat, suaranya menggema di terowongan.

“Apa kau sudah mendapatkan hasilnya?” tanya si pembaca koran.

“Tentu saja,” jawab pria bertopi. “Kalau tidak, aku tidak akan memaksamu datang ke tempat paling klise untuk pertemuan rahasia.”

Ia menyelipkan tangan ke dalam balik jasnya, lalu mengeluarkan sebuah map tipis.

“Serius,” dengus si pembaca koran sambil membalik halaman. “Apa semua ini perlu? Duduk membelakangi satu sama lain, berbicara seperti ini … lihat dandananmu. Kau kelihatan seperti agen mata-mata gagal yang baru nonton maraton film spionase.”

“Bukankah ini keren?” balas pria bertopi dengan nada puas. “Dan satu lagi, Detektif—aku memang baru saja menemukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai rahasia negara.”

Si pembaca koran berhenti membalik halaman.

“Kau tahu sidik jari yang kau berikan kemarin?” lanjut pria itu, suaranya berbisik dramatis. “Ada tiga kecocokan.”

“Satu?” tanya si pembaca koran datar.

Pria bertopi tersenyum lebar, meski tidak terlihat.

“Alessandra Isabelle Kloss. Supermodel itu.”

“Dua?”

“Victor Anderson. Residivis. Keluar-masuk penjara seperti langganan kafe.”

“Ketiga?” tanya Detektif Jean, kini nada suaranya berubah.

Pria bertopi itu menegakkan punggung, jelas menikmati momen ini.

“Inilah bagian favoritku,” katanya pelan. “Plot twist-nya.”

Ia berhenti sejenak, memastikan efek dramatisnya bekerja.

“Dominic Rothwell,” lanjutnya. “Orang nomor dua di negara ini.”

Hening.

Koran di tangan Detektif Jean perlahan diturunkan beberapa sentimeter.

“Bagaimana?” Brad—karena tentu saja pria bertopi fedora itu adalah Brad—melanjutkan dengan penuh kepuasan. “Menarik, bukan? Sidik jari seorang supermodel, seorang penjahat kambuhan, dan seorang wakil presiden … berada di satu benda yang sama. Lupakan si residivis itu, sepertinya ini hubungan terlarang supermodel terkenal dan wakil presiden.”

“Kau terlalu banyak membaca berita gosip, Brad.”

Pria itu akhirnya menoleh sedikit.

“Ngomong-ngomong, benda apa itu, Detektif?”

Detektif Jean tidak langsung menjawab.

Pandangannya kosong, menembus kerumunan stasiun yang sibuk. Informasi itu berputar di kepalanya, menyusun ulang peta yang sudah ia buat dengan susah payah.

Pemain baru.

Pemain yang terlalu besar.

Dan terlalu berbahaya.

Kereta lain datang dengan deru keras, menelan suara stasiun—dan untuk sesaat, menelan juga jawaban Detektif Jean.

***

Detektif Jean duduk di kedai ramen favoritnya yang terletak tak jauh dari apartemennya. Tempat itu sempit, hangat, dan selalu berisik—kombinasi sempurna untuk berpikir tanpa terlalu banyak berpikir.

Sambil menunggu pesanannya datang, Detektif Jean mencoret-coret sebuah buku catatan kecil. Polanya acak, penuh panah, lingkaran, dan nama-nama yang disilang berkali-kali. Jika seseorang melihatnya sekilas, mereka mungkin akan mengira ia sedang merancang strategi perang. Dan, dalam beberapa hal, dugaan itu tidak sepenuhnya salah.

Setelah mengetahui fakta bahwa Tuan Winston muncul dengan jelas di dalam video Pandora—ditambah satu nama baru yang kekuatannya nyaris tak tersentuh—Detektif Jean tahu ia tidak bisa bergerak sembarangan.

Ia membutuhkan urutan. Dan target yang masuk akal.

Target pertama: Victor.

Berurusan dengan penjahat kelas teri adalah makanan sehari-harinya. Setidaknya, dulu. Jauh sebelum hidupnya berubah menjadi rangkaian keputusan buruk dan kopi murah.

Target kedua: Tuan Winston.

Detektif Jean menggarisbawahi nama itu dua kali, lalu menekannya dengan ujung pena sampai hampir merobek kertas.

Target ketiga … mungkin wakil presiden itu.

Detektif Jean mendesah pelan. Jujur saja, ia belum tahu apakah pria itu benar-benar terlibat dalam hilangnya dua wanita tersebut atau hanya terseret ke dalam jaring yang terlalu rumit. Bagaimanapun juga, jika ia ingin menemuinya, Detektif Jean harus memikirkan cara menembus protokol pengamanan negara—dan itu bukan sesuatu yang bisa direncanakan sambil makan ramen.

Mangkok ramen akhirnya datang.

Detektif Jean langsung melahapnya dengan lahap, hampir lupa betapa ia merindukan rasa ini. Kuah panas, mie kenyal, dan telur setengah matang—hidup terasa sedikit lebih masuk akal ketika ramen ada di hadapannya.

Belum sempat ia menghabiskan setengah mangkuk, sebuah bayangan besar menutupi meja kecilnya.

Seorang pria kekar duduk di hadapannya tanpa banyak basa-basi.

Detektif Jean tidak terlihat keberatan.

“Apa kau memanggilku, Detektif?” tanya pria itu.

Detektif Jean mengunyah sebentar, menelan, lalu mengangkat pandangannya.

“Mmm … aku ingin menanyakan sesuatu. Sebagai gantinya, kau dapat diskon kalau menyewa jip hitamku.”

Pria itu menyeringai. “Menarik. Tentang apa?”

“Kau kenal pria bernama Victor Anderson?”

Pria kekar itu mendongak ke langit-langit kedai, ekspresinya seperti sedang mengakses arsip mental yang jarang dibuka.

“Ah. Victor,” katanya akhirnya. “Mantan tentara bayaran. Sekarang gabung ke grup gangster SK. Dipimpin Jack.”

“SK?” ulang Detektif Jean.

Savage Kittens.”

Detektif Jean membeku.

Ia hampir menyemburkan kuah panas dan menatap pria itu perlahan.

“Maaf,” katanya sambil menutup mulut. “SavageKittens?”

“Ya,” jawab pria itu santai. “Nama yang menipu. Jangan tertawa. Mereka tidak lucu sama sekali.”

Detektif Jean mengusap sudut bibirnya dengan tisu. Sulit dipercaya bahwa kelompok kriminal berbahaya memilih nama yang terdengar seperti merk makanan kucing premium.

“Kau harus hati-hati, Detektif,” lanjut Tom—mantan ketua gangster yang kini lebih terlihat seperti pengusaha bengkel untuk kendaraan gelap. “Mereka tidak mengenal ampun. Kalau kau masuk radar mereka, mereka tidak segan menghabisi siapa saja.”

Detektif Jean menyuap ramen lagi, kali ini lebih tenang.

“Baiklah, Tom,” katanya ringan. “Terima kasih atas peringatannya.”

Dalam hati, Detektif Jean menambahkan satu catatan baru di buku kecilnya:

Savage Kittens. Nama bodoh. Masalah serius.

Ia menutup buku catatannya perlahan.

Rencana sudah mulai terbentuk.

***

Markas Savage Kittens terletak di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Lampu neon berkedip malas di atas pintu besi berkarat, seolah ragu apakah tempat itu pantas disebut markas atau sekadar bangunan yang lupa mati.

Detektif Jean berdiri di depan pintu, tangan dimasukkan ke saku jaket kumalnya. Ia membaca ulang tulisan besar di dinding dengan cat merah yang sudah mengelupas.

SAVAGE KITTENS

Ia menyipitkan mata, membaca ulang, lalu mengangguk kecil pada dirinya sendiri.

“Baik,” gumamnya. “Aku sudah pernah melawan kultus berdarah, mafia Rusia, dan pembunuh berantai. Hari ini aku akan melawan … anak kucing liar. ”

Pintu gudang terbuka kasar.

Dua pria bertubuh besar keluar. Salah satunya mengunyah permen karet dengan suara menjengkelkan, sementara yang lain memegang tongkat besi seolah itu aksesori fesyen.

“Kau siapa?” tanya si pengunyah.

“Jean,” jawabnya singkat. “Aku mencari pria bernama Victor Anderson.”

Keduanya saling pandang. Senyum mereka lenyap seketika.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, Detektif Jean sudah dikepung. Dari balik peti, tangga besi, dan sudut gelap gudang, puluhan pria bermunculan. Ada yang bertato penuh, ada yang kepalanya botak mengkilap, dan ada pula yang wajahnya terlihat terlalu muda untuk hidup sekeras ini.

Detektif Jean melirik sekeliling.

“Wow,” katanya ringan. “Ini cara kalian menyambut tamu? Tidak ada teh? Tidak ada kue?”

Tidak ada yang tertawa.

Suara langkah berat terdengar dari belakang. Kerumunan terbelah memberi jalan pada seorang pria bertubuh tinggi dengan rahang tegas dan sorot mata kejam. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Detektif Jean,” kata pria itu. 

Pria itu tahu bahwa Jean adalah seorang detektif, berarti kehadirannya telah diprediksi. 

“Aku Jack.”

Detektif Jean menatapnya dari ujung sepatu sampai ke wajah.

“Jack,” ulangnya. “Kau yakin nama itu cocok dengan organisasi ini? Maksudku, aku mengharapkan seseorang dengan lonceng di leher.”

Beberapa anggota gangster mendecak kesal. Jack tertawa kecil.

“Kau berani datang sendirian,” kata Jack. “Aku suka itu.”

“Aku sedang mencoba hidup sehat. Lebih banyak jalan kaki,” balas Detektif Jean.

Jack menepuk tangan sekali.

“Kau ingin bertemu Victor?”

“Ya.”

“Boleh.”

Detektif Jean mengangguk cepat. “Bagus. Aku tidak suka basa-basi.”

“Tapi,” Jack melanjutkan, “kau harus mengalahkan semua orang di sini.”

Ia memberi isyarat kecil dengan dagunya.

Detektif Jean melirik sekeliling lagi. Ia menghitung cepat.

“Sekitar dua puluh?” tanyanya. “Atau ini sistem giliran?”

Jack tertawa pendek.

“Sekaligus.”

Detektif Jean mendesah panjang, seperti seseorang yang baru tahu kereta terakhir sudah berangkat.

“Baiklah,” katanya. “Tapi kalau aku menang, aku minta kalian ganti nama. Savage Hamsters mungkin lebih jujur.”

Jack mengangkat tangan.

“Mulai.”

Tidak ada aba-aba lain.

Serangan datang dari segala arah.

Detektif Jean menghindar, menunduk, memukul, dan menendang dengan gerakan yang tajam dan efisien. Tidak ada gerakan sia-sia. Setiap serangan punya tujuan. Setiap lawan dijatuhkan secepat mungkin.

“Serius?” teriak Detektif Jean saat mematahkan pegangan tongkat besi seseorang. “Kalian menyerang satu-satu? Ini bukan film kungfu murahan!”

Satu pria melompat dari atas peti kayu. Detektif Jean menyingkir setengah langkah, membiarkannya jatuh telentang.

Pria lain mencoba mencekiknya dari belakang. Detektif Jean membantingnya ke dinding.

“Jangan sentuh leherku,” katanya dingin. “Itu area pribadi.”

Napasnya mulai berat. Pelipisnya berdarah. Namun satu per satu, tubuh-tubuh itu jatuh.

Lantai gudang dipenuhi erangan.

Detektif Jean berdiri di tengah-tengah, terengah, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya penuh memar.

Jack menatapnya lama.

“Luar biasa,” katanya akhirnya. “Sudah lama aku tidak melihat seseorang bertarung seperti itu.”

“Padahal sudah lama sekali aku tidak melakukan ini,” potong Detektif Jean.

Jack tersenyum tipis.

“Victor!”

Dari balik bayangan, seorang pria keluar. Tubuhnya penuh bekas luka. Tatapannya kosong, dingin, seperti orang yang sudah lama berhenti merasa bersalah.

“Jadi kau Jean,” katanya.

“Kau Victor,” balas Detektif Jean. “Mantan tentara bayaran, anggota Savage Kittens, dan pria yang membobol penthouse Alessandra Kloss.”

Victor menyeringai.

“Kau cerdas.”

“Siapa yang menyuruhmu?”

Victor membuka jaketnya sedikit, lalu menggeleng.

“Kau harus mengalahkanku dulu.”

Detektif Jean memijat batang hidungnya.

“Aku benar-benar butuh liburan.”

Dan kemudian mereka bergerak.

Victor menyerang lebih dulu. Tidak ada gertakan, tidak ada basa-basi. Tinju pertamanya menghantam udara tepat di samping wajah Jean, cukup dekat untuk membuat rambutnya tersibak. Serangan kedua mengenai bahunya—keras, berat, penuh niat mematahkan tulang.

Detektif Jean membalas. Cepat. Presisi. Lutut ke perut. Siku ke rahang. Namun Victor seperti tembok berjalan. Ia mundur satu langkah, lalu kembali maju dua.

Suara benturan tubuh dengan peti kayu terdengar keras. Debu berjatuhan dari langit-langit. Detektif Jean terhuyung, punggungnya membentur tiang besi. Dunia berputar sepersekian detik—cukup lama untuk hampir kehilangan fokus.

Victor tidak memberi ruang.

Tinju lain. Tendangan ke rusuk. Detektif Jean merasakan napasnya terpotong. Rasa logam memenuhi mulutnya.

Ia memutar tubuh, menghindar tipis dari pukulan berikutnya, lalu menghantam tenggorokan Victor dengan sisi tangannya. Pria itu mundur setengah langkah—cukup untuk membuat jarak.

Namun saat Detektif Jean menerjang kembali untuk menjatuhkannya—

Kilatan kecil memotong udara.

Pisau lipat.

“Tentu saja,” gumam Detektif Jean pelan.

Terlambat.

Satu gerakan cepat. Satu tusukan pendek.

Rasa panas menjalar di perutnya sebelum rasa sakit benar-benar datang. Detektif Jean terhuyung mundur, napasnya tercekat. Tangannya refleks menekan luka itu. Hangat. Basah.

Victor menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau mulai melambat.”

Detektif Jean berlutut satu kaki. Pandangannya kabur sesaat. Suara di sekelilingnya seperti tenggelam di dalam air.

Ia tidak panik.

Ia menunggu.

Victor melangkah mendekat, yakin. Terlalu yakin. Pisau masih di tangannya.

Sepersekian detik.

Itu saja yang dibutuhkan.

Saat Victor mengangkat tangannya untuk tusukan kedua, Detektif Jean bergerak—cepat, tajam, memanfaatkan seluruh sisa tenaganya. Tangannya menangkap pergelangan Victor, memutar keras hingga terdengar bunyi retakan. Pisau terlepas. Dalam gerakan yang sama, Detektif Jean menghantam siku ke pelipisnya, lalu menendang lututnya dari samping.

Victor kehilangan keseimbangan.

Detektif Jean tidak memberi kesempatan kedua.

Lihat selengkapnya