Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #13

The Cost of Standing

Di rumah sakit, dokter menyebutnya luka ringan.

Detektif Jean menyebutnya gangguan kecil.

Ia menolak rawat inap. Hanya menerima perban, beberapa jahitan, dan selembar peringatan medis yang langsung ia lipat tanpa dibaca. Kepalanya masih nyut-nyutan saat melangkah keluar dari ruang perawatan, tapi kakinya tetap membawa tubuhnya pulang. Ini sudah kedua kalinya Ia mengunjungi rumah sakit dalam sepekan. Sebuah rekor.

Apartemennya sudah di depan mata ketika Detektif Jean melihat toko bunga di bawah gedung itu masih terang.

Nenek itu belum menutup tokonya.

Detektif Jean  mendengus pelan, lalu turun lagi.

Begitu pintu toko dibuka, aroma bunga langsung menyerangnya.

Detektif Jean bersin keras.

Bless you Nak,” kata sang nenek tanpa menoleh, tangannya masih sibuk merapikan vas.

Detektif Jean bersin lagi.

Dan lagi.

“Aku serius membenci bunga,” gumam Jean sambil duduk di kursi kecil yang sudah seperti miliknya sendiri.

Nenek itu tersenyum kecil. Tidak terkejut. Tidak bertanya kenapa Detektif Jean datang larut malam dengan perban di lengan. Dan beberapa bekas memar yang masih tercetak di wajahnya. Seperti biasa, ia hanya meletakkan secangkir teh hangat di depan Detektif Jean.

Detektif Jean menarik napas panjang.

“Aku terlalu jauh,” katanya akhirnya. “Kasus ini … bukan cuma berbahaya. Ini konyol. Seharusnya aku mundur saja sejak awal.”

Ia menghela napas, matanya menatap lantai.

“Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja,” lanjutnya lirih. “Ada seorang anak. Theo. Kalau aku berhenti, dia sendirian.”

Nenek itu mendengarkan tanpa menyela. Selalu.

Seperti seseorang yang sudah mendengar versi lain dari cerita yang sama, bertahun-tahun lalu.

Matanya kemudian jatuh pada perban di lengan Detektif Jean.

“Kau tahu,” kata nenek itu pelan, sambil mengambil gunting kecil dan merapikan batang bunga, “luka tidak pernah benar-benar ringan bagi orang yang memilihnya.”

Detektif Jean menoleh.

“Kau tidak terluka karena ceroboh,” lanjut sang nenek. “Kau terluka karena kau tetap berjalan ketika semua orang lain memilih diam.”

Detektif Jean tersenyum tipis. Pahit.

“Banyak orang menyebut itu tindakan bodoh.”

Nenek itu menggeleng.

“Tidak. Bodoh itu berjalan tanpa tahu ke mana. Kau tahu ke mana kau pergi.”

Ia meletakkan bunga itu ke dalam vas, lalu menatap Detektif Jean lembut.

“Ada orang-orang yang tidak diciptakan untuk hidup tenang,” katanya. “Bukan karena mereka menyukai kekacauan … tapi karena hati mereka tidak bisa berpaling ketika melihat seseorang tertinggal.”

Detektif Jean menelan ludah.

“Namun dengarkan aku baik-baik,” lanjut sang nenek. “Kebaikan bukan berarti mengorbankan dirimu sampai habis. Kau boleh lelah. Kau boleh takut. Tapi jangan sampai kau lupa pulang.”

Detektif Jean terdiam.

“Dan kalau suatu hari kau harus berhenti,” kata nenek itu sambil tersenyum kecil, “pastikan itu karena kau sudah menyelamatkan cukup banyak orang—bukan karena kau menyerah.”

Keheningan turun di antara mereka.

Hangat. Tidak menekan.

Detektif Jean mengusap matanya cepat, seolah hanya alergi bunga.

“Terima kasih Martha,” katanya pelan.

Nenek bernama Martha itu mengangguk.

“Kapanpun kau butuh terapi murah dan teh gratis.”

Detektif Jean berdiri, bersin sekali lagi, lalu tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.

Untuk sesaat, dunia tidak terasa terlalu berat.

Detektif Jean sudah hampir mencapai pintu apartemennya ketika menyadari sesuatu.

Di saku mantel gelapnya—yang tadi jelas kosong—ada benda asing.

Ia berhenti, merogoh perlahan, lalu mengeluarkannya.

Sebatang bunga kecil.

Dibungkus kertas cokelat sederhana. Tanpa pita. Tanpa kartu.

Detektif Jean mengerutkan kening.

“Apa-apaan ini …” gumamnya.

Ia menatap bunga itu di bawah lampu koridor yang temaram. Kelopaknya kecil, putih pucat, dengan bagian tengah berwarna kuning lembut. Tidak mencolok. Tidak indah dengan cara yang biasa dipuji orang.

Namun entah kenapa—kokoh.

Detektif Jean menurunkan pandangannya. Tangannya berhenti bergerak.

Chamomile.

Ia mengenal bunga itu.

Bukan karena hobi berkebun—melainkan karena dulu, di tahun-tahun awal menjadi detektif, seorang dokter pernah menyarankan teh chamomile agar ia bisa tidur. Saran yang tidak pernah benar-benar ia ikuti.

Chamomile bukan bunga untuk perayaan.

Bukan untuk kemenangan.

Bukan untuk cinta yang besar dan membakar.

Chamomile adalah bunga untuk orang yang bertahan.

Maknanya sederhana:

ketenangan setelah rasa sakit.

istirahat tanpa menyerah.

kekuatan yang tidak berisik.

Detektif Jean menelan ludah.

Nenek itu tidak berkata apa-apa. Tidak memberi nasihat panjang. Tidak menyuruhnya berhenti atau lanjut.

Ia hanya menyelipkan bunga kecil ini—diam-diam—seperti pengingat yang tidak memaksa.

Kau boleh lelah.

Kau boleh terluka.

Tapi kau masih berdiri.

Detektif Jean memasukkan kembali bunga itu ke sakunya dengan hati-hati, seolah benda rapuh.

Saat membuka pintu apartemennya, ia menoleh sebentar ke arah jendela toko bunga di bawah. Lampunya kini sudah mati.

Detektif Jean tersenyum tipis.

“Psikiater terbaik di kota ini,” gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, ia merasa tidak sendirian.

Dan ia tahu, selama bunga kecil itu masih ada di sakunya, ia tidak akan berhenti.

***

Hujan baru saja berhenti ketika Detektif Jean berdiri di depan rumah kecil dua lantai itu. Langit masih kelabu, menyisakan cahaya sore yang dingin. Aspal mengkilap seperti kaca tipis, dan aroma tanah basah menggantung lembut di udara.

Rumah itu tampak terawat. Catnya bersih. Taman kecil di depan dipangkas rapi. Tidak ada daun kering yang dibiarkan menumpuk.

Terlalu terawat.

Detektif Jean  mengenal pola ini. Rumah orang yang mempertahankan segalanya tetap sama—karena mengubah sesuatu terasa seperti mengkhianati kenangan.

Ia menekan bel.

Satu kali.

Dua kali.

Langkah pelan terdengar dari dalam.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya tenang—ketenangan yang dipelajari dengan susah payah. Matanya langsung mengenali Detektif Jean.

“Detektif?” tanyanya pelan.

Detektif Jean  mengangguk ringan. “Nyonya Bailey.”

Hening sejenak, lalu wanita itu membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah.”

Ruang tamunya hangat, tapi terasa beku dalam cara yang berbeda. Foto-foto tersusun sejajar di dinding. Tidak ada satupun yang miring. Tidak ada bingkai yang berdebu. Meja kopi tanpa noda. Sofa tanpa lipatan.

Rumah ini berhenti pada satu waktu.

Nyonya Bailey menyuguhkan teh. Tangannya sedikit bergetar ketika meletakkan cangkir di depan Detektif Jean, tetapi senyumnya tetap sopan.

“Barbara menyukai chamomile,” katanya tiba-tiba, seolah melanjutkan percakapan lama. “Katanya, itu membuatnya merasa seperti perempuan dewasa.”

Detektif Jean menatap uap tipis yang naik dari cangkirnya.

“Dia ingin tumbuh lebih cepat,” ujar Detektif Jean pelan.

Wanita itu mengangguk. “Dia ingin menjadi seseorang.”

Detektif Jean mengangkat pandangannya. “Seseorang seperti siapa?”

Nyonya Bailey terdiam beberapa detik. Lalu ia bangkit dan mengambil sebuah pigura dari rak.

Detektif Jean mengenali wajah itu bahkan sebelum ia benar-benar melihatnya dengan jelas.

Alessandra Kloss.

Cantik. Dingin. Sempurna.

“Barbara menempel foto Alessandra di dinding kamarnya sejak remaja,” kata Nyonya Bailey lirih. “Dia bilang, kalau ingin berhasil di dunia … kau harus menjadi Alessandra.”

Detektif Jean  menelan napas pelan. Potongan-potongan mulai bergerak di kepalanya.

“Ketika Barbara diterima di Star Model Management …” lanjut sang ibu, suaranya sedikit bergetar, “aku belum pernah melihatnya sebahagia itu.”

“Dia diterima tanpa audisi terbuka?” tanya Detektif Jean lembut, tapi terarah. Sebenarnya ia tahu jawabannya.

Nyonya Bailey tersenyum kecil. “Dia bilang ada yang melihat potensinya. Seseorang yang memperkenalkannya.”

“Seseorang?” ulang Detektif Jean.

Wanita itu ragu, lalu berdiri lagi. “Ikutlah.”

Detektif Jean mengikutinya ke lantai atas.

Pintu kamar dibuka perlahan.

Ruangan itu seperti kapsul waktu. Poster mode masih menempel rapi. Potongan majalah tersusun di papan gabus. Foto-foto lama memenuhi dinding.

Di tengah semuanya, wajah Alessandra tersenyum dari berbagai sudut.

Obsesi, pikir Detektif Jean.

Di meja rias, ada sebuah foto berbingkai perak.

Barbara berdiri di samping seorang pria dengan senyum percaya diri yang terlalu mudah dikenali.

Robert Cox.

Detektif Jean tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi matanya mengeras sepersekian detik.

“Dia,” kata Nyonya Bailey tanpa diminta. “Robert … Barbara bilang dialah yang membantunya masuk ke Star Model Management. Pria itu adalah kekasih Barbara.”

Detektif Jean mendekat.

Tangan Robert di pinggang Barbara terlihat santai.

Terlalu mesra, layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta.

Matanya menyapu kamar sekali lagi.

Di sudut meja, ia melihat sebuah album tua. Tidak diberi label. Tidak ditata rapi seperti yang lain.

Detektif Jean meraihnya.

“Boleh?” tanyanya singkat.

Nyonya Bailey mengangguk.

Detektif Jean membuka halaman pertama.

Foto-foto pesta. Gaun malam. Lampu gantung kristal. Orang-orang tertawa dengan minuman mahal di tangan.

Halaman berikutnya.

Pantai.

Air laut biru kehijauan. Tebing batu yang membentuk lengkungan alami. Deretan pohon palem berdiri seperti barisan penjaga.

Barbara berdiri di depan hamparan laut itu, mengenakan gaun putih tipis, tersenyum pada kamera.

Detektif Jean hampir membalik halaman itu.

Hampir.

Di sudut foto, ada tanda kecil—sebuah formasi batu berbentuk lengkung yang tampak seperti ukiran alam. Dan seseorang—mungkin Barbara sendiri—memberi lingkaran kecil dengan pena di sekelilingnya.

Detektif Jean berhenti bernapas sesaat.

“Anda tahu ini di mana?” tanyanya pelan.

Nyonya Bailey mendekat, memicingkan mata. “Barbara bilang itu liburan eksklusif. Undangan pribadi. Dia tidak pernah menjelaskan lebih jauh. Hanya bilang … tidak semua orang bisa ke sana. Barbara sangat senang waktu itu, karena merasa diterima.”

Detektif Jean membalik foto itu.

Di belakangnya tertulis dua kata, dengan tulisan tangan Barbara.

Whitehaven Island

Detektif Jean membaca ulang dalam hati.

Barbara tidak sekali pergi ke pulau itu.

Sesuatu bergerak dalam ingatannya—rekaman pesta dalam video Pandora. Cahaya obor. Pantai privat. Tamu-tamu yang terlalu eksklusif untuk disebutkan. 

Detektif Jean menutup album itu perlahan.

“Apakah Barbara pernah menyebut nama seseorang yang memiliki tempat itu?” tanyanya, nadanya tetap tenang.

Nyonya Bailey berpikir cukup lama.

Wanita itu menatap lantai, mencoba mengingat nama itu keras-keras.

Lihat selengkapnya