Detektif Jean mengenakan pakaian serba hitam. Bukan hitam modis—hitam fungsional. Jaket ringan, celana lentur, sepatu dengan sol yang tidak bersuara. Rambutnya diikat rapi. Ransel kecil menempel di punggungnya, berisi peralatan yang hanya dimiliki orang-orang yang hidupnya terlalu sering bergantung pada improvisasi.
Malam itu, ia tidak menggunakan jip hitamnya. Ia memilih motor. Mesin meraung pelan saat ia melaju membelah jalanan kota yang basah. Lampu-lampu New York memantul di helmnya. Angin menusuk wajahnya—dingin, nyata, dan cukup membuatnya sadar.
Detektif Jean terlihat … berbahaya.
Dan ia tahu itu.
Gedung Rochelle menjulang di depannya—kaca biru, angkuh, terlalu bersih untuk sesuatu yang kotor sedang terjadi di dalamnya. Detektif Jean mematikan mesin dan menatap gedung itu lama.
Empat puluh delapan lantai. Keamanan berlapis.
Kamera pengawas.
Petugas Keamanan .
Alarm.
“Masuk dari depan itu bunuh diri,” gumamnya. “Dan aku sedang mencoba hidup.”
Matanya beralih ke gedung di sebelahnya—lebih tinggi, lebih tua, dan sedang dalam tahap renovasi setengah jadi. Jaraknya tidak dekat. Tapi tidak mustahil.
Detektif Jean menarik napas dalam.
“Baik,” katanya pada dirinya sendiri. “Kita lakukan cara bodoh … yang terlihat cukup pintar dan dramatis.”
Beberapa menit kemudian, Detektif Jean sudah berada di atap gedung sebelah. Angin lebih kencang di ketinggian ini. Ia memasang tali, mengukur jarak, melirik ke bawah—langsung menyesal dan tidak melirik lagi.
“Untuk Theo,” bisiknya.
Detektif Jean berlari.
Melompat.
Angin malam menghantam wajah Detektif Jean saat ia mendarat keras di lantai lantai 48.
KRAAASH!
Kaca jendela hancur berhamburan seperti hujan kristal. Detektif Jean berguling, bahunya membentur meja rapat, tubuhnya berhenti tepat di dekat sofa kulit mahal. Detektif Jean terbatuk sambil memegangi pinggangnya.
“Delapan dari sepuluh,” gumamnya serak. “Pendaratannya seharusnya bisa lebih anggun.”
Detektif Jean bangkit—lalu membeku.
Theo.
Anak itu terikat di kursi, mulutnya disumpal, matanya membesar ketika melihat dirinya. Tangisannya tertahan, bahunya gemetar.
“Aku di sini,” bisik Detektif Jean cepat sambil mengangkat satu jari. “Tunggu lima detik. Jangan panik. Aku akan menyelamatkanmu.”
Ia baru melangkah dua langkah—
PINTU TERBUKA KERAS.
Bukan tiga orang.
Bukan lima.
Delapan.
Pria-pria tinggi besar masuk berbarengan, mengenakan pakaian gelap, beberapa membawa tongkat besi, satu membawa taser, satu lagi—jelas-jelas—membawa senjata api.
Detektif Jean menghela napas panjang.
“Oh, ayolah,” katanya. “Kalian ini sedang konvoi atau apa?”
Tanpa peringatan, mereka menyerbu.
Detektif Jean bergerak duluan.
Ia menyambar kursi lipat dan melemparkannya ke wajah pria terdepan—BRAK!—lalu menunduk saat tongkat besi menyapu udara di atas kepalanya. Ia berguling, bangkit, menendang lutut seseorang hingga terdengar bunyi krek yang sangat tidak etis.
“Maaf!” teriak Detektif Jean. “Refleks!”
Dua orang mengeroyok dari samping.
Detektif Jean menghantamkan siku ke rahang satu orang, tapi yang lain berhasil menjatuhkannya. Punggungnya menghantam lantai. Nafasnya tersedak.
Seseorang akan menginjak lengannya.
“Tidak hari ini,” geram Detektif Jean sambil menarik pisau lipat dari sepatu—sret!—menusuk betis pria itu.
Detektif Jean bangkit terhuyung.
TASER MENYALA.
“Detektif—!” Theo berteriak teredam.
Detektif Jean melempar ranselnya tepat ke wajah pria itu. Taser menyetrum udara. Percikan listrik memantul ke lantai basah kaca.
Detektif Jean tertawa pendek, terengah. “Terima kasih Theo!”
Tapi mereka terlalu banyak.
Pukulan datang dari belakang. Detektif Jean terjatuh lagi. Pandangannya berkunang. Seseorang menarik rambutnya, memaksanya berdiri.
Tinju menghantam rusuknya.
Sekali.
Dua kali.
Detektif Jean meludah darah ke lantai.
“Kalau kalian mau memukuli seseorang,” katanya tersengal, “ambil nomor antrian—”
TINJU KETIGA.
Detektif Jean terlempar ke meja. Kayu retak. Napasnya nyaris hilang.
Namun ia melihat celah.
Satu detik.
Itu cukup.
Detektif Jean menarik granat asap kecil dari jaketnya dan menjatuhkannya ke lantai.
PSSSSHHH—!
Asap memenuhi ruangan.
Teriakan.
Batuk.
Kekacauan.
Detektif Jean bergerak dalam kabut. Ia menghantam tenggorokan seseorang. Menyapu kaki orang lain. Menggunakan momentum, bukan tenaga. Tubuhnya menjerit protes, tapi pikirannya tajam.
Seseorang hampir menembaknya—DOR!—peluru menghantam dinding tepat di samping kepalanya.
“HEY!” Detektif Jean berteriak. “Kalian selalu curang!”
Ia menyambar lampu meja dan menghantamkannya ke kepala pria bersenjata. Lampu pecah. Pria itu tumbang.
Asap mulai menipis. Tubuh-tubuh tergeletak. Mengaduh. Merintih. Detektif Jean berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, rambutnya berantakan, jaketnya robek.
“Baik,” katanya terengah. “Siapa lagi?”
Langkah kaki pelan terdengar.
Jack muncul, bertepuk tangan pelan.
“Masih hidup,” katanya kagum. “Kau memang masalah Detektif.”
“Tentu saja kau,” desah Detektif Jean. “Aku bersumpah semesta ini kehabisan orang baru.”
Jack tersenyum tipis. “Halo, Detektif kita berjumpa lagi.”
Lalu Patrick McCarthy melangkah masuk. Jas rapi. Rambut sempurna. Seperti pria yang datang ke gala, bukan tempat penyanderaan anak.
“Cukup,” katanya. “Serahkan Pandora.”
Detektif Jean berdiri di depan Theo, tubuhnya menjadi perisai.
“Kau butuh delapan orang dan asap hanya untuk menahanku,” kata Detektif Jean dingin.
“Sungguh kekanak-kanakan.”
Patrick memberi isyarat. Jack mendekat berniat menyerang. Detektif Jean menghela napas panjang—lalu mengeluarkan kotak Pandora dari ranselnya. Tangannya bergetar. Ia meletakkannya di lantai.
“Ambillah … aku sudah menyimpannya di otakku,” katanya. “Dan jika kalian berani menyentuh anak itu lagi—aku akan menghantui kalian seumur hidup.”
Patrick mengambil kotak itu. Jack tersenyum tipis. Mereka kemudian pergi setelah puas mendapatkan pandora itu.
“Keluarlah lewat pintu bawah Detektif, aku akan memerintahkan anak buahku membiarkanmu lewat,” kata Patrick dengan nada sindirannya.
Begitu pintu tertutup, Detektif Jean langsung jatuh berlutut. Ia merangkak ke arah Theo dan memotong ikatannya. Theo langsung menangis keras. Tubuh kecil itu gemetar hebat. Celananya basah. Detektif Jean langsung membuka jaketnya dan membungkus tubuh anak itu.
“Maaf aku buang air kecil di celana … aku takut,” isak Theo.
Detektif Jean memeluknya erat, wajahnya menempel di rambut anak itu.
“Aku tahu,” bisiknya. “Dan kau tetap bertahan. Itu namanya berani.”
Detektif Jean berdiri dengan susah payah, menggendong Theo. Ia menatap ruangan hancur itu, tubuh-tubuh terkapar, jendela menganga menampilkan pemandangan malam. Sekarang Pandora telah berpindah tangan. Tubuhnya lelah dan babak belur. Tapi, Theo selamat.
“Sekarang,” gumamnya, “giliranku berburu.”
***
Pagi menjelang ketika Detektif Jean akhirnya memarkir motornya di depan toko bunga kecil itu. Langit masih pucat, kota belum sepenuhnya bangun. Jalanan basah oleh sisa hujan semalam, dan aroma tanah lembab bercampur bau bensin yang menempel di jaket Detektif Jean. Theo tertidur di pelukannya—napas kecilnya teratur, pipinya basah bekas air mata, tubuhnya hangat dan lelah.
Detektif Jean menggendongnya perlahan di punggungnya, nyaris tidak berani bernapas. Bel kecil di pintu toko berbunyi pelan saat ia mendorongnya masuk.
Krincing.
Nenek penjual bunga sudah bangun. Seperti biasa. Seolah perempuan tua itu tidak pernah benar-benar tidur, hanya berpindah dari satu penjagaan ke penjagaan lain. Ia sedang merapikan bunga lili putih di dalam ember ketika menoleh.
Tatapan mereka bertemu. Nenek itu tidak bertanya. Matanya hanya menyapu Detektif Jean—luka memar di pipi dan sudut bibirnya, jaket hitam robek di bahu, tangannya gemetar berusaha tetap stabil menopang seorang anak kecil.
Lalu pandangannya beralih ke Theo. Nenek itu mengangguk pelan. Mengerti.
“Taruh saja di sini,” katanya lembut sambil menunjuk sofa kecil di sudut toko, sofa yang sama tempat Detektif Jean sering duduk sambil mengeluh tentang hidup.
Detektif Jean menurut. Ia meletakkan Theo hati-hati, menarik selimut tipis, menyelipkannya sampai ke dagu anak itu. Theo bergumam pelan, lalu kembali tenggelam dalam tidur. Detektif Jean menatapnya lama. Terlalu lama. Nenek itu menyiapkan segelas air hangat dan meletakkannya di tangan Detektif Jean tanpa diminta.
“Minumlah,” katanya singkat.
Detektif Jean menurut lagi.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. Nama John muncul di layar. Detektif Jean mengangkat telepon, berjalan menjauh sedikit agar tidak mengganggu Theo.
“John.”
“Pagi, Detektif. Aku mau menjemput Theo ke sekolah,” suara pria itu terdengar santai. “Anak itu jarang terlambat, tapi sepertinya apartemenmu tidak ada orang.”
Detektif Jean menelan ludah.
“Tidak perlu,” katanya cepat, tapi cukup tenang untuk terdengar meyakinkan. “Theo demam. Aku titipkan sebentar.”
“Hah? Demam?” John terdengar ragu. “Perlu aku—”
“Tidak,” potong Detektif Jean, lalu menarik napas. “Aku sudah atur semuanya. Kau fokus kerja saja.”
Ada jeda.
Detektif Jean tahu pria itu sedang menimbang.