Pukul dua dini hari.
Ruang forensik berada dalam kondisi yang hanya bisa digambarkan sebagai terlalu tenang untuk tempat yang penuh mayat.
Lampu putih menggantung dingin di langit-langit. Mesin pendingin berdengung pelan seperti napas panjang yang tidak pernah selesai. Bau antiseptik menusuk hidung, bercampur aroma logam samar yang selalu membuat orang biasa ingin muntah dalam lima menit pertama.
Brad justru terlihat damai.
Pria itu berdiri di depan meja autopsi dengan mengenakan scrubs berbercak samar, sarung tangan biru, dan ekspresi fokus yang menyeramkan. Musik klasik mengalun kecil dari speaker tua di sudut ruangan—sesuatu yang terdengar terlalu elegan untuk aktivitas membelah rongga dada manusia.
Pisau bedah bergerak tenang di tangannya.
“Hmm,” gumam Brad sendiri sambil mencatat sesuatu. “Menarik sekali.”
Mayat di depannya tentu saja tidak menjawab.
Jujur saja, kalau ada orang masuk tanpa konteks, kemungkinan besar mereka akan mengira Brad adalah penjahat berantai yang kebetulan punya gelar medis.
Lalu—
“BOO!!!”
“JESUS CHRIST—!”
Brad melonjak hampir setengah meter. Pisau bedah di tangannya terlempar, berputar di udara seperti adegan film horor murahan sebelum menancap di dinding.
CLAK!
Brad membeku.
Detik berikutnya ia berbalik dengan mata membelalak liar.
“JEAN!”
Detektif Jean berdiri santai di ambang pintu, kedua tangan masuk ke saku jaket hitamnya, wajahnya polos seperti anak TK yang tidak baru saja hampir menyebabkan amputasi spontan.
“Aku bersumpah,” geram Brad sambil memegangi dada, “suatu hari nanti aku akan menyumbat mulutmu dengan formalin.”
Detektif Jean melirik pisau bedah itu yang menancap di dinding.
“Wow,” katanya kagum. “Refleksmu bagus juga.”
“AKU HAMPIR MENUSUK TANGANKU SENDIRI!”
Detektif Jean mengangkat bahu ringan.
“Kalau kau mati karena serangan jantung, aku yang menyelidikinya.” Ia tersenyum kecil. “Efisien.”
Brad memejamkan mata lama sekali.
“Sembilan puluh persen penyebab kematianku nanti,” katanya pelan, “akan ditulis sebagai: akibat Jean datang tanpa peringatan.”
Detektif Jean masuk sambil terkekeh pelan. Ia melirik meja autopsi.
“Oh,” katanya santai. “Bukan kenalan, kan?”
“Belum,” jawab Brad datar. “Tapi lima detik lagi dia hampir jadi saksi.”
Detektif Jean menarik bangku logam lalu duduk terbalik di atasnya, menyandarkan dagu di sandaran kursi. Untuk beberapa detik ia diam saja, memperhatikan Brad bekerja.
Brad menyipitkan mata.
“Nah,” katanya curiga, “itu tatapan ‘aku tidak datang cuma untuk mengganggu’.”
Detektif Jean tampak berpikir.
“Aku butuh teman.”
“Jean.”
“Ya?”
“Jam dua pagi bukan jam sosial.”
“Bagi orang normal.”
Brad menunjuk dirinya sendiri dan mayat di meja.
“Kau datang ke ruangan berisi mayat di tengah malam dan memanggil aku tidak normal?”
Detektif Jean mempertimbangkan itu sebentar.
“Poin bagus.”
Brad akhirnya melepaskan sarung tangannya dengan kesal dan membuangnya ke tempat sampah.
“Oke,” katanya. “Apa maumu?”
Detektif Jean tidak langsung menjawab. Ia malah memperhatikan ruangan itu—rak pendingin jenazah, lampu putih, tumpukan laporan, kopi dingin Brad yang sudah pasti melanggar hukum kesehatan.
Ekspresinya perlahan berubah.
Lebih berat.
Brad langsung menyadarinya.
Detektif Jean hanya bercanda ketika pikirannya masih punya ruang untuk bernapas. Kalau ia mulai diam terlalu lama, biasanya ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Aku butuh tempat lain,” kata Detektif Jean akhirnya.
Brad mengerutkan dahi.
“Tempat lain untuk apa?”
Detektif Jean mengetukkan jarinya pelan di sandaran kursi.
“Untuk menyembunyikan sesuatu.”
Brad membeku sedikit.
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
“Kau ingat sidik jari kemarin?” tanya Detektif Jean pelan.
Brad langsung menatapnya tajam.
Tentu saja ia ingat.
Sidik jari yang membuatnya mengulang pemeriksaan tiga kali karena hasilnya terlalu mustahil untuk diterima begitu saja. Sidik jari yang terhubung dengan nama-nama yang tidak seharusnya muncul dalam investigasi biasa.
“Aku ingat,” jawab Brad perlahan. “Dan aku juga ingat kau menghilang setelah itu.”
Detektif Jean tersenyum tipis.
“Detail kecil.”
“Jean.”
“Nada suaramu sangat menghakimi.”
Brad melipat tangan.
“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?”
Tidak ada candaan kali ini.
Detektif Jean menunduk sesaat sebelum menjawab.
“Menangani sebuah kasus.”
Brad tertawa pendek tanpa humor.
“Kalau pihak kepolisian tahu kau bergerak sendiri dalam kasus sebesar ini, mereka akan—”
“Aku tidak punya pilihan lain,” potong Detektif Jean pelan.
Nada suaranya membuat Brad berhenti bicara.
Detektif Jean menyandarkan tubuh ke kursi.
“Aku sudah terlalu dalam,” lanjutnya. “Dan semakin aku menggali … semakin banyak hal yang seharusnya tidak ada.”
Brad terdiam.
Mesin pendingin berdengung pelan di belakang mereka.
“Ada orang-orang besar di balik ini, ya?” tanyanya akhirnya.
Detektif Jean tertawa kecil.
“Kalau mereka lebih besar sedikit lagi, mungkin mereka punya negara sendiri.”
Brad mengusap wajahnya frustasi.
“Aku benci ketika kau mulai bicara seperti protagonis film noir murahan.”
“Kau tetap membantu.”
“Karena suatu hari nanti aku ingin bisa berkata: aku sudah berusaha menghentikannya.”
Detektif Jean menyeringai samar.
“Itu manis.”
“Itu ancaman.”
Brad berjalan ke meja kecil di samping komputer lalu mengambil kopi dinginnya. Ia menyesap sekali, langsung meringis.
“Kopi ini rasanya seperti cairan pembalsem.”
Detektif Jean melirik cangkir itu.
“Mungkin karena kau membuatnya sebelum korban ini meninggal.”
Brad menunjuknya malas.
“Suatu hari nanti aku akan melakukan autopsi padamu sambil bahagia.”
Detektif Jean tersenyum kecil. Lalu wajahnya serius lagi.
Brad menghela napas panjang.
“Oke,” katanya akhirnya. “Kalau kau memang mencari tempat menyimpan sesuatu … maka tempatnya bukan rumah atau kantor.”
Detektif Jean mengangkat kepala.
“Aku mendengarkan.”
Brad mulai mondar-mandir pelan.
“Kasus besar. Orang berkuasa. Banyak uang.” Ia menunjuk Detektif Jean. “Orang seperti mereka tidak pernah menyimpan semuanya di satu tempat.”
Detektif Jean mengangguk pelan.
“Mereka pakai titik transisi.”
“Transisi?”
“Tempat lewat,” jawab Brad. “Tempat yang tidak benar-benar dimiliki siapapun.”
Detektif Jean berpikir beberapa detik.
Lalu matanya sedikit melebar.
“Bandara.”
Brad menunjuknya.
“Ya.”
Detektif Jean langsung berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir cepat.
“Loker bandara,” gumamnya. “Bagasi hilang. Koper yang sengaja ditinggalkan.”
“Bandara itu kuburan barang penting,” kata Brad.
Detektif Jean mengusap dagunya.
“Hotel,” katanya lagi.
Brad mengangguk.
“Brankas kamar. Barang tertinggal. Staf hotel jarang bertanya kalau uangnya cukup.”
Detektif Jean mulai menyusun potongan-potongan di kepalanya.
“Alessandra sering berpindah kota,” gumamnya.
Brad berhenti.
“Kau menyebut nama sekarang.”
Detektif Jean tersenyum pahit.
“Kurasa kita sudah melewati tahap pura-pura aman.”
Brad memandangnya beberapa detik sebelum melanjutkan.
“Ada satu lagi.”
Detektif Jean menoleh.