Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #16

The Veil Show

Detektif Jean mulai memusatkan perhatian pada satu nama.

Helena Decker.

Supermodel dengan ketenaran yang sejajar—bahkan kerap disandingkan—dengan Alessandra Kloss. Wajahnya menghiasi sampul majalah, billboard bandara, dan kampanye parfum yang harganya setara sewa apartemen Detektif Jean selama setahun.

Jika Helena ada di pesta itu, maka wanita ini bukan sekadar penonton.

Detektif Jean mulai menggali media sosial Helena yang rapi. Foto-foto pemotretan profesional, sesi yoga di pantai, gala amal, senyum sempurna yang tidak pernah benar-benar menyentuh mata. Tidak ada unggahan spontan. Tidak ada teman lama. Tidak ada masa lalu.

Namun satu hal menarik perhatian Detektif Jean.

Sebuah unggahan story singkat, dihapus dua jam kemudian, namun sempat diarsipkan akun gosip mode:

Pengumuman peragaan busana pakaian dalam internasional milik brand mewah, ÉCLIPSE NOIR.

Acara itu bernama ECLIPSE NOIR – THE VEIL SHOW.

Eksklusif. Tertutup. Undangan terbatas.

Model-model utama mereka tidak disebut angels. Terlalu biasa. Mereka disebut “The Veiled.”

Detektif Jean menghela napas panjang. Helena Decker adalah salah satu The Veiled senior. Ia terus berselancar—hingga menemukan akun perekrutan resmi Éclipse Noir. Lowongan terbuka. Model baru. Wajah segar. Tinggi minimum terpenuhi.

Ide itu datang begitu saja. Ide yang terdengar buruk bagi Detektif Jean. Sangat buruk dan karena itu … mungkin saja berhasil.

Detektif Jean menutup laptop, memijat pelipisnya.

“Aku tidak mungkin—”

Ia membukanya lagi. Detektif Jean memang tidak sekurus model-model itu. Tapi ia tinggi. Posturnya tegas. Wajahnya … cukup berbahaya, terbukti dari betapa Robert Cox kehilangan akal sehatnya.

Beberapa kali Detektif Jean menepis ide itu. Wajahnya bisa terekspos. Terlalu banyak risiko. Namun tidak ada cara lain untuk mendekati Helena.

“Baik,” gumamnya. “Aku mendaftar.”

Dua hari kemudian, email balasan masuk.

DITERIMA – Tahap Pengukuran & Uji Kamera.

Detektif Jean menatap layar lama sekali. Ia berjanji pada dirinya sendiri:

Hanya sampai tahap ini. Tidak ada catwalk. Tidak ada lampu sorot.

Gedung Éclipse Noir menjulang seperti monumen kesombongan modern—kaca hitam, marmer, dan penjagaan ketat.

Tentu saja Detektif Jean tidak datang sendirian. Sam berdiri di sampingnya, menyipitkan mata, menilai dari ujung rambut sampai sepatu.

“Tanpa bantuanku,” katanya datar, “kau akan terlihat seperti gelandangan yang tersesat ke acara Halloween.”

Detektif Jean mendengus. “Aku masih merasa ini ide terburuk abad ini.”

“Tentu,” Sam tersenyum. “Tapi kau terlihat … tidak menyedihkan. Itu kemajuan.”

Detektif Jean mengenakan jaket rapi, rambut ditata sederhana, riasan tipis—cukup untuk menyamarkan kelelahan, tidak cukup untuk mengubah jati diri.

Di dalam, puluhan perempuan berdiri menunggu. Semuanya tinggi. Semuanya cantik. Semuanya tampak seolah dilahirkan untuk lampu sorot. Detektif Jean mengedarkan pandangan, mencari satu wajah.

Helena.

Ia pasti ada di sini.

“Model baru, ganti pakaian,” ujar seorang asisten tanpa ekspresi.

“Bikini untuk pengukuran.”

Detektif Jean membeku.

“Bi … bi … bikini?”

“Tentu saja Nona,” jawab asisten itu datar. “Ini Éclipse Noir.”

Begitu kata bikini diucapkan, otak Detektif Jean berhenti bekerja selama setengah detik. Setengah detik itu cukup baginya untuk menyusun rencana kabur. Ia menoleh ke kiri. Dua model sedang tertawa kecil, membandingkan warna kuku. Ke kanan—pintu darurat dengan tanda hijau menyala. Di atasnya: EXIT. Seindah janji keselamatan.

Detektif Jean mengangkat tangan.

“Maaf,” katanya sopan. “Aku perlu ke toilet.”

Asisten itu bahkan tidak menoleh dari clipboard.

“Toilet ada di dalam ruang ganti.”

“Ya, tapi ini urusan toilet yang berbeda,” jawab Detektif Jean cepat. “Butuh … waktu.”

Asisten itu akhirnya menatapnya. Datar. Tanpa jiwa.

“Ganti sekarang Nona.”

Detektif Jean tersenyum kaku. Senyum yang biasa ia pakai saat ditilang polisi lalu lintas.

“Dengar, aku kira ini hanya pengukuran standar. Pakaian normal. Jeans. Kaos. Mungkin jaket kulit agar terlihat misterius.”

Asisten itu menandai sesuatu di kertas.

“Bikini.”

Detektif Jean menarik napas panjang, lalu menoleh ke pintu darurat lagi. Kali ini kakinya sudah melangkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Ia hampir sampai ketika—

“Tuan Putri.”

Detektif Jean berhenti.

“Aku lebih suka Nona,” katanya tanpa menoleh.

Asisten itu sudah berdiri di sampingnya. Entah bagaimana bisa secepat itu.

“Jika Anda meninggalkan ruangan ini sebelum pengukuran, nama Anda akan dicoret dari daftar. Permanen.”

Detektif Jean menoleh perlahan.

“Permanen … selamanya?”

“Seperti Anda tidak pernah ada.”

Detektif Jean mendesah.

Ironis. Hal itu justru terdengar menggoda.

Ia menyerah dengan dramatik berlebihan, mengangkat kedua tangan.

“Baik. Tapi jika aku trauma, aku akan menuntut kalian.”

Asisten itu tersenyum tipis. Senyum yang mengatakan silahkan trauma.

***

Ruang ganti terasa seperti zona perang beraroma parfum mahal. Detektif Jean berganti pakaian dengan ekspresi orang yang sedang menandatangani perjanjian dengan iblis. Ia menatap bayangannya di cermin—mantel coklat berbulu, bikini krem polos, sepatu hak putih.

“Ini,” gumamnya, “adalah titik terendah karirku.”

Ia keluar. Bersyukur mantel itu menutup hampir seluruh tubuhnya. Di antrean, Detektif Jean mencoba bersikap normal. Tidak menatap siapa pun. Tidak menilai tubuh sendiri. Tidak panik.

Lalu ia melihat pria tua itu. Duduk santai. Gemuk. Berkeringat. Wajahnya seperti lelucon yang terlalu lama dipelihara.

Detektif Jean menelan ludah.

Tidak. Tidak. Tidak.

Ia menghitung ulang peluang kabur. Asisten galak itu sudah berdiri sambil memelototinya. Model demi model masuk ke ruangan pengukuran. Beberapa keluar dengan wajah pucat.

Giliran Detektif Jean.

Ia masuk seperti terdakwa. Panggung rendah berbentuk lingkaran membuatnya lebih tinggi. Sepatu hak terasa seperti senjata makan tuan.

Pria itu menjentikkan jari.

“Lepaskan.”

Detektif Jean menatapnya datar. Jika ia bisa, ingin sekali meninju wajahnya.

“Biasanya aku makan malam dulu.”

Pria itu tertawa kecil, tidak tersinggung. Itu justru lebih menjijikkan. Detektif Jean menutup mata, membuka ikatan mantel.

Saat mantel itu turun hingga bahu—

“Stop!”

Suara itu memotong di udara.

Pria tua itu berdiri seketika.

“T-Tuan Winston?”

Detektif Jean membeku. Tentu saja. Alam semesta membencinya secara personal.

“Apa yang membuat Tuan datang langsung ke acara ini?” tanya pria itu panik.

“Aku sedang tidak percaya laporanmu,” jawab Tuan Winston tenang. “Dan kau terlihat terlalu menikmati pekerjaan.”

“Tuan, aku bisa jelaskan—”

“Keluar!”

Satu kata, cukup membuat pria tua itu pergi.

Tuan Winston mengambil pita ukur dari asisten.

“Akan aku tangani sendiri. Kalian juga keluar.”

Ruangan kosong.

Lihat selengkapnya