Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #17

The Confession He Never Meant to Give

Detektif Jean tidak langsung mendatangi Tuan Winston setelah video itu. Ia tahu satu hal dengan sangat baik—rekaman bisa berbohong.

Apartemennya kembali sunyi dan lampu hanya menyala di sudut meja kerja. Kopinya bahkan sudah dingin sejak satu jam lalu, tapi Detektif Jean tidak bergerak dari tempat duduknya. Matanya terpaku pada layar laptop mencoba menyusun sebuah rencana. Ia kemudian mengangkat ponselnya. 

“Charlie,” katanya singkat begitu sambungan tersambung.

“Ini aku.”

Di seberang sana, Charlie mendesah pelan.

“Kau tahu jam berapa ini?”

“Aku butuh sesuatu,” potong Detektif Jean cepat.

“Dan aku butuhnya sekarang.”

Hening sejenak.

Lalu Charlie tertawa pendek—tawa yang selalu muncul setiap kali ia tahu permintaan ini ilegal, tapi terlalu menarik untuk ditolak.

“Oke, apa permintaanmu?”

“Tuan Winston,” jawab Detektif Jean.

“Berikan aku data satu tahun terakhir semua perjalanan pria itu. Resmi dan tidak.”

“Jangan bilang Tuan Winston yang itu? … kau sudah gila!” gumam Charlie.

“Pria itu bukan orang sembarangan.”

“Justru itu,” kata Detektif Jean dingin.

Beberapa menit kemudian, layar laptop Detektif Jean mulai dipenuhi data yang tidak seharusnya bisa diakses siapapun.

Manifest penerbangan.

Log bandara privat yang tidak pernah muncul di sistem sipil.

Paris. Milan. Tokyo. London.

Semua tampak bersih. Terlalu bersih.

Lalu Charlie bersuara lagi.

“Tunggu … ini aneh.”

“Apa?”

“Jet pribadinya … ada satu penerbangan yang tidak tercatat sebagai agenda bisnis.”

Detektif Jean mendekat ke layar.

“Lokasi?”

“Kepulauan Karibia,” jawab Charlie.

“Sebuah pulau kecil. Private airstrip. Sangat privat.”

Detektif Jean menarik napas pelan.

“Tanggal?”

Charlie menyebutkannya dan Detektif Jean tidak perlu mengecek ulang. Tanggal itu sudah terpatri di kepalanya—tanggal yang sama dengan rekaman CCTV. Tanggal dimana pesta terkutuk itu digelar. Detektif Jean bersandar ke kursinya. Ruangan tiba-tiba terasa menyempit.

“Dia mendarat malam hari,” lanjut Charlie.

“Dan lepas landas … pagi-pagi sekali. Seperti orang yang mencoba kabur.”

Detektif Jean menutup mata sejenak.

Jet pribadi.

Pulau terpencil.

Tanggal yang sama.

“Charlie,” kata Detektif Jean akhirnya.

“Lupakan semua ini … ”

“Hah?”

“Data ini tidak pernah sampai ke aku dan anggap saja kita tidak pernah membicarakannya.”

Charlie terdiam. Lalu suaranya menjadi lebih pelan.

“Kau yakin ingin lanjut?”

Detektif Jean membuka matanya.

“Tidak,” katanya jujur.

“Tapi aku tidak punya pilihan.”

***

Tempat itu terlihat sangat eksklusif. Terlalu bersih untuk disebut lapangan tembak biasa. Lampu putih terang menggantung rapi di langit-langit, sementara dinding kedap suara membuat dunia luar terasa sangat jauh. Beberapa pria bersetelan mahal berlatih di bilik berbeda, ditemani instruktur bersarung tangan hitam dan kopi mahal yang jelas lebih mahal dari gaji polisi biasa.

Di jalur paling ujung berdiri Tuan Winston. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Rompi hitam menempel rapi di tubuhnya. Kacamata pelindung transparan bertengger tenang di wajahnya yang terlalu tampan untuk dipercaya.

BANG.

Satu tembakan.

Tepat di tengah target.

Instruktur di sampingnya tersenyum kagum.

“Presisi luar biasa, Tuan.”

Tuan Winston tidak menjawab. Ia mengeluarkan magasin dengan gerakan halus, memasang ulang peluru tanpa tergesa.

BANG.

BANG.

Dua tembakan lagi.

Dua lubang baru hampir menumpuk di titik yang sama.

“Kadang aku iri pada orang kaya,” gumam seorang pria di jalur sebelah. “Mereka bahkan menembak pun elegan.”

“Diam dan fokus,” jawab instrukturnya.

Tuan Winston tidak menjawab. Ia hanya menarik slide pistol perlahan, matanya tetap tertuju ke depan.

Lalu pintu arena terbuka keras.

BRAK.

Semua kepala menoleh. Detektif Jean berjalan masuk dengan langkah cepat, jaket merah lusuh kebanggaannya tidak terkancing sempurna seperti tergesa-gesa dikenakan, wajahnya dingin dalam cara yang langsung membuat suasana berubah. Salah satu pengawal bergerak mendekat.

“Nona, area ini tertutup—”

“Keluar,” potong Tuan Winston tenang.

Pria itu membeku.

“T-Tuan?”

Tuan Winston melepas pelindung telinganya tanpa menoleh.

“Aku bilang keluar.”

Semua orang saling berpandangan sebentar. Tidak ada yang membantah. Instruktur, pengawal, para shooter—satu per satu meninggalkan arena. Pintu logam tertutup berat di belakang mereka.

CLANK.

Kini hanya tersisa mereka berdua. Detektif Jean terus berjalan mendekat. Tuan Winston meletakkan pistolnya di meja logam dengan gerakan tenang.

“Kau terlihat marah,” katanya datar.

Detektif Jean tidak menjawab. Ia berhenti tepat di depan pria itu.

Lalu—

BUGH.

Pukulannya menghantam wajah Tuan Winston begitu keras hingga pria itu terhuyung ke samping menabrak dinding pembatas. Darah langsung muncul di sudut bibirnya.

Lihat selengkapnya