Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #18

The Truth About Winston

Seorang ibu tidak pernah benar-benar mengajarkan perpisahan. Ia hanya mengajarkan cara memeluk—lebih lama dari yang diperlukan, seolah waktu bisa ditahan di antara dua lengan. Ketika seorang anak pergi, dunia menyebutnya tumbuh dewasa. Tapi, seorang ibu menyebutnya kehilangan kecil yang harus ia terima setiap hari.

Ada anak yang pergi karena dipaksa keadaan. Ada ibu yang menunggu tanpa tahu apakah penantian itu akan berakhir dengan pelukan atau kabar buruk. Ada anak yang pulang hanya untuk mengingat, bukan untuk tinggal dan ada ibu yang memahami segalanya tanpa pernah meminta penjelasan.

Hubungan antara ibu dan anak jarang meninggalkan jejak yang rapi. Ia lebih sering berupa sisa-sisa: kursi kosong, pintu yang jarang terbuka, tanaman yang tetap disiram meski tak ada yang melihat.

Seorang anak bisa belajar menjadi kuat, menjadi dingin, bahkan menjadi berbahaya. Namun di suatu sudut hati yang tak pernah sepenuhnya ia akui, selalu ada suara seorang ibu—mengingatkannya bagaimana rasanya menjadi manusia sebelum dunia mengajarinya cara bertahan. Dan seorang anak, sejauh apa pun ia pergi, selalu membawa ibunya—entah sebagai kenangan, luka, atau suara kecil di dalam kepala yang mengingatkannya siapa dirinya dulu.

Mansion itu masih berdiri seperti yang selalu ia ingat—megah, sunyi, dan terlalu luas untuk satu orang. Tuan Winston sudah lama tidak menginjakkan kaki di sana. Rumah masa kecilnya. Rumah yang dulu penuh suara, kini hanya menyimpan gema.

Ia melewati lorong-lorong panjang tanpa menyalakan semua lampu. Bayangan dirinya terpantul di dinding marmer, tampak asing, seperti tamu yang tidak diundang.

Tuan Winston duduk di depan piano besar di ruang utama. Tangannya menggantung sejenak di atas tuts, ragu. Lalu ia menekan satu nada. Disusul nada lain. Musik mengalir perlahan—tidak riang, tidak pula sepenuhnya sedih. Hanya … lelah.

Suara piano memenuhi seluruh ruangan, memantul ke langit-langit tinggi, menyusuri tangga, menyentuh setiap sudut rumah yang pernah ia tinggali sebagai anak. Di balik setiap nada, ada penghindaran, dari dunia, ari tuduhan, dari wajah Barbara yang terus menghantuinya.

Ia memainkan lagu itu seperti seseorang yang bersembunyi.

“James?”

Suara itu datang dari lantai atas. Lembut, akrab, dan cukup untuk menghentikan musik sepenuhnya. Tuts terakhir bergetar, lalu mati.

Ibunya berdiri di anak tangga, mengenakan selendang tipis. Rambutnya sudah memutih, tapi sorot matanya tetap sama—tajam sekaligus penuh kasih.

“Kau pulang,” katanya pelan. Bukan pertanyaan.

Tuan Winston berdiri. Ia tersenyum tipis, senyum yang sudah lama tidak ia pakai.

“Hanya sebentar, Mom.”

Ibunya menuruni tangga perlahan. “Kau selalu berkata begitu. Dan selalu pergi lebih lama dari yang kau janjikan.”

Wanita tua itu berhenti di depan Tuan Winston, menatap wajah putranya seolah sedang menghitung waktu yang telah hilang.

“Kau kelihatan lelah,” katanya.

Tuan Winston mengangguk. “Aku memang lelah.”

Ibunya menatap piano. “Kau hanya bermain piano ketika kau ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu caranya.”

Tuan Winston terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil—tanpa humor.

“Sepertinya kau masih mengenalku lebih baik dari siapapun.”

Mereka duduk berdampingan. Keheningan di antara mereka bukan keheningan yang canggung, melainkan yang berat.

“Mom,” kata Tuan Winston akhirnya, “jika suatu hari nanti aku … tidak pulang lama.”

Ibunya menoleh. Alisnya sedikit berkerut. “Seberapa lama itu ‘lama’?”

Tuan Winston menatap tangannya sendiri. “Cukup lama sampai rumah ini tidak lagi mengenal langkah kakiku.”

Ibunya tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan Tuan Winston, menggenggamnya erat.

“Kau selalu pergi,” katanya. “Tapi kau selalu kembali.”

Tuan Winston menggeleng pelan. “Kali ini mungkin berbeda.”

Ibunya menatapnya lebih dalam. Tidak bertanya kenapa. Ia tahu kapan sebuah pertanyaan tidak akan dijawab.

“Jika kau harus pergi,” katanya akhirnya, “pergilah sebagai pria yang jujur. Bukan sebagai pria yang bersembunyi di balik nama dan kekuasaan.”

Napas Tuan Winston tercekat.

“Aku tidak akan lari,” ujarnya pelan. “Jika waktunya tiba … aku akan menerima apapun yang menungguku.”

Ibunya mengangguk, matanya berkaca-kaca tapi suaranya tetap tenang. “Penebusan tidak selalu berarti bebas, James. Kadang itu berarti tinggal dan menghadapi.”

Tuan Winston menunduk. “Aku tahu.”

Ia berdiri, lalu memeluk ibunya. Pelukan itu lebih lama dari biasanya. Seperti seseorang yang sedang menghafal.

“Maaf jika aku jarang pulang,” bisiknya.

Ibunya membelai punggungnya. “Jangan minta maaf karena jarang pulang. Mintalah maaf jika suatu hari kau pulang dengan hati yang kosong.”

Tuan Winston melepaskan pelukan itu. Ia menatap mansion itu sekali lagi—piano, tangga, dinding-dinding sunyi yang menyimpan masa kecilnya.

“Kau boleh datang kapan saja,” kata ibunya.

Tuan Winston tersenyum samar. “Jika aku masih punya kesempatan.”

Ia melangkah keluar dan piano itu tetap diam—seolah rumah itu tahu, kunjungan itu mungkin sebuah perpisahan.

***

Detektif Jean menyusun ulang semua foto targetnya di papan putih yang memenuhi satu sisi ruang tamu. Lampu berdiri menyala redup, memantulkan bayangan wajah-wajah itu—tersusun, terpisah, lalu dipertemukan kembali oleh garis-garis spidol yang tak pernah benar-benar lurus.

Kini ia harus bekerja sendirian.

Tidak ada yang membantunya menafsirkan kemungkinan. Tidak ada suara kedua yang menahan atau mendorong. Hanya dirinya, instingnya, dan dinding penuh potret orang-orang yang terlalu terbiasa berbohong.

Ia memindahkan satu foto, lalu mencoret sebuah nama. Menarik garis baru. Menghapus yang lama. Hubungan-hubungan itu terasa cair, berubah setiap kali ia memandangnya dari sudut berbeda. Apa yang tampak jelas sejam lalu, kembali kabur sekarang.

Di kepalanya, tugas-tugas itu berputar tanpa jeda.

Pertama: kemungkinan masih ada Pandora lain.

Jika satu kotak bisa terbuka, maka yang lain pasti pernah disembunyikan lebih dalam.

Kedua: memastikan lokasi dari semua video itu. Aula pesta, lorong sempit, ruangan tertutup—semuanya harus punya titik di dunia nyata. Sebuah tempat yang bisa disentuh, bukan sekadar rekaman yang membayang.

Ketiga—yang paling berat—memastikan kebenaran tentang Tuan Winston.

Apakah pria itu benar-benar membunuh Barbara, atau hanya berdiri terlalu dekat dengan dosa orang lain hingga akhirnya ikut terkubur bersamanya.

Detektif Jean berhenti di depan papan itu, menatap satu foto lebih lama dari yang lain. Spidol terhenti di udara.

Ia sadar, semakin ia menggali, semakin besar kemungkinan ia menemukan sesuatu yang tidak ingin ia temukan. Tapi mundur bukan pilihan. Ia menarik napas panjang, lalu menarik satu garis baru—tegas, hitam, dan tak bisa dihapus begitu saja.

Permainan ini belum selesai.

Merasa benar-benar mentok, Detektif Jean melakukan satu-satunya hal yang masih masuk akal baginya— menguntit dengan penuh dedikasi.

Sejak pagi ia sudah parkir di seberang gedung Star Model Management, di dalam jeep-nya yang setia tapi tidak tahu malu. Ia sarapan di sana. Makan siang di sana. Bahkan sempat tidur dengan posisi leher patah seperti flamingo. Dua kali hampir ketahuan oleh penjaga gedung.

“Kalau aku mati di sini,” gumamnya sambil meneguk kopi dingin, “tolong tulis di batu nisan, wafat demi gosip orang kaya.”

Pukul sembilan malam tepat, pintu gedung terbuka. Roland Watson muncul—bersih, rapi, dan terlihat seperti pria yang hidupnya tidak pernah disentuh mie instan. Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam meluncur mulus dan berhenti di depannya. Mobil itu begitu sunyi sampai Detektif Jean refleks mengecek apakah mesin jeep-nya mati.

“Ya tentu,” dengus Detektif Jean. “Harganya saja bisa membeli apartemen Harrington.”

Ia membuntuti Roland Watson. 

Mobil itu berhenti di depan sebuah bar yang jelas-jelas bukan untuk manusia berjaket merah dan celana training. Dua penjaga berdiri di depan pintu, bahu mereka selebar masa depan Detektif Jean yang suram.

Detektif Jean menilai dirinya di kaca spion.

Jaket merah.

Celana training.

Jangan lupakan, sepatu kets yang sudah menyerah pada kehidupan.

“Baik,” katanya pada diri sendiri. “Kita lakukan cara bodoh yang kelihatan pintar.”

Kesempatan datang saat sebuah Lamborghini Aventador berhenti. Seorang pria setengah mabuk keluar sambil tertawa terlalu keras, ditemani wanita bergaun mahal. Pria itu melemparkan blazer mahalnya ke salah seorang petugas valet.

Detektif Jean bergerak. Ia menghampiri petugas valet tersebut dengan ekspresi profesional palsu.

“Maaf Tuan, saya asistennya. Tuan saya minta blazer-nya dibawa masuk. Dia alergi udara dingin.”

Petugas Valet itu ragu sepersekian detik—lalu menyerahkan blazer itu. Detektif Jean masuk dan mengenakannya. Sedikit kebesaran, tapi wibawa itu soal sikap, bukan ukuran.

Detektif Jean dengan kemampuan aktingnya berjalan ke pintu masuk sambil berpura-pura menelpon.

“Ya, aku sudah sampai. Robert sudah di dalam? Oke.”

Nama itu membuka pintu seperti mantra sihir. Di dalam, dunia berubah. Musik jazz rendah, lampu temaram, aroma alkohol mahal dan rahasia yang lebih mahal lagi.

Dan disanalah mereka.

Lihat selengkapnya