Everybody Has Gone Crazy

Eviannelise
Chapter #19

The First Time She Trusted Someone

Detektif Jean mendorong pintu penginapan itu tanpa mengetuk. Bau alkohol tua dan udara pengap langsung menyambutnya. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya senja masuk dengan malas—cukup untuk memperlihatkan kekacauan di dalam kamar. Kemeja putih teronggok kusut di tubuh pria itu, penuh noda yang tak lagi jelas asalnya. Rambut hitam kecoklatannya acak-acakan, jenggotnya tumbuh liar, wajahnya lebam di beberapa titik—seperti seseorang yang baru saja menghabiskan malam berkelahi dengan dunia, dan kalah.

Untuk pria yang biasanya selalu rapi, klimis, dan dingin seperti marmer, pemandangan itu nyaris mengenaskan. Tuan Winston duduk di lantai, bersandar pada ranjang. Sebotol wiski setengah kosong tergenggam di tangannya. Botol-botol lain berserakan di sekitar, sebagian pecah. Ia memejamkan mata, seolah dunia di depannya sudah terlalu melelahkan untuk ditatap.

Detektif Jean mendengus kesal. Ia berjongkok di hadapan pria itu, lalu menepuk-nepuk pipinya—tidak lembut, tidak juga kejam. Tepat di tengah.

“Sadarlah, Tuan,” katanya datar.

Kelopak mata itu bergerak. Tuan Winston mengerjap, fokusnya lambat menyatu. Bibirnya melengkung samar, senyum pahit yang nyaris tak ada.

“Oh,” gumamnya setengah meracau. “Detektif … kau di sini?”

Detektif Jean menahan diri agar tidak membanting botol di tangan pria itu.

“Aku tidak ingin sadar,” lanjut Tuan Winston, membenarkan posisi duduknya, namun tubuhnya tetap limbung. Matanya kini terbuka sepenuhnya—kosong, merah, dan terlalu jujur. “Fakta bahwa aku membunuh orang yang paling kucintai … itu menghancurkanku.”

Suaranya pecah di kata terakhir. Ia tertawa kecil—tawa yang tidak lucu, tidak waras. Air mata menetes tanpa izin.

“Aku mencintainya, Jean. Dengan cara paling pengecut yang pernah ada,” katanya lirih. “Aku melihatnya … dan aku tidak berani mengulurkan tangan.”

Detektif Jean diam. Ia membiarkan pria itu bicara, membiarkan luka itu menganga.

“Di pulau itu … milik Albert Clark,” Tuan Winston melanjutkan. “Aku terbangun begitu saja. Di lantai. Di samping tubuh Barbara.” Ia menelan ludah. “Dia tidak bergerak. Aku berlumuran darah. Aku tidak ingat apa-apa. Tidak satu pun.”

Tangannya gemetar saat menunjuk dirinya sendiri.

“Aku ketakutan. Aku lari. Seperti pengecut. Aku meninggalkannya demi reputasiku yang sialan.” Ia tertawa lagi, getir. “Dan yang paling kejam, Detektif … sebagian diriku masih berharap dia hidup. Entah di mana. Seolah dengan mempercayai kebohongan itu, aku bisa bernapas sedikit lebih lama.”

Detektif Jean menghela napas panjang. Berat. Dalam.

“Barbara sudah meninggal, Tuan,” katanya akhirnya. Suaranya tenang, tapi tegas. “Dan kau bukan pembunuhnya.”

Tuan Winston membeku.

Ia mengerjap, napasnya tersendat, seperti seseorang yang baru saja diseret keluar dari mimpi buruk—hanya untuk menemukan mimpi lain yang sama kejamnya.

“Tetap saja,” katanya pelan. “Aku meninggalkannya. Sendirian. Jika aku tinggal … jika aku menyelamatkannya—”

Detektif Jean tiba-tiba menarik kerah kemeja Winston, memaksanya menatap lurus ke matanya.

“Cukup,” katanya rendah, penuh tekanan. “Jika kau sungguh mencintainya, maka tunjukkan.”

Tuan Winston terdiam, napasnya tersangkut di dada.

“Kau bukan pembunuhnya,” lanjut Detektif Jean. “Jadi berhentilah menghukum dirimu sendiri atas dosa orang lain.”

Ia mengendurkan cengkeramannya, tapi suaranya kini justru semakin kuat.

“Bantulah aku,” katanya. “Bantulah Theo menemukan ibunya. Bantulah ibu Barbara bertemu jasad putrinya. Bantulah aku menyeret semua orang brengsek itu ke hadapan hukum.”

Detektif Jean menatap pria di depannya—bukan sebagai detektif pada tersangka, tapi sebagai seseorang yang meminta sekutu.

“Aku sadar … aku tidak bisa menyelesaikan ini sendirian.”

Hening menyelimuti kamar itu. Hanya suara napas mereka berdua. Detektif Jean berdiri perlahan, lalu mengulurkan tangannya.

“Kumohon, Tuan,” katanya, nada suaranya berubah—lebih jujur, lebih manusiawi. “Kembalilah.”

Ia menatap Tuan Winston lurus-lurus.

“Please, Mr. Winston,” ucapnya pelan namun mantap.

“Ride or die with me.”

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari, botol wiski itu terlepas dari genggaman Tuan Winston dan jatuh ke lantai—menggelinding tanpa suara.

***

Sesuai janjinya—dan dengan keyakinan penuh yang hanya dimiliki pria yang sedang jatuh cinta—Robert Cox menjemput Detektif Jean di bengkel milik Tom, tempat yang ia yakini sebagai “kediaman sederhana tapi berkarakter” wanita itu.

Detektif Jean nyaris tertawa saat melihat ekspresi puas Robert Cox menatap papan nama bengkel yang catnya mengelupas.

“Rumah yang … autentik,” komentar Cox bangga.

Detektif Jean mengangguk. “Keluarga kami memang suka gaya industrial.”

Dari kejauhan, Tom menjatuhkan kunci pasnya.

Perjalanan berlanjut ke bandara privat. Detektif Jean baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, dan ia harus mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya agar tidak terlihat seperti orang kampung yang baru menang lotre. Ia menahan diri untuk tidak memotret landasan pacu. Atau menyentuh badan pesawat. Atau bertanya apakah kursinya bisa dibawa pulang.

Ia duduk di dalam jet pribadi itu dengan punggung terlalu tegak, kaki disilangkan dengan disiplin militer. Di balik gaun mahal sewaan dari Sam dan paspor palsu buatan Max, Detektif Jean merasa … norak. Sangat norak. Tapi ia menyembunyikannya dengan ekspresi dingin khas “wanita yang terbiasa hidup seperti ini sejak lahir”.

Robert Cox menuangkan sampanye. Detektif Jean menyesapnya pelan. Terlalu pelan. Seperti minuman itu bisa menggigit.

Ia menoleh ke jendela pesawat. Awan menghampar seperti kapas. Pikirannya melayang—ke kamar penginapan semalam, ke Tuan Winston yang berantakan, ke tangan pria itu yang gemetar, ke tatapan yang akhirnya memilih untuk kembali berdiri.

Ia berharap pria itu akan datang ke Yunani. Ia membutuhkan Tuan Winston di negeri orang, di tempat di mana hukum bisa menjadi kabur dan bantuan tak selalu datang tepat waktu. Tapi tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada apa-apa.

Mungkin ia lebih memilih menghilang bersama rasa bersalahnya, pikir Detektif Jean pahit.

Santorini menyambut mereka dengan warna putih dan biru yang menyilaukan mata—bangunan seperti gula batu, laut seperti kaca cair. Cox membawa Detektif Jean ke sebuah hotel megah di tepi pantai.

King’s Hotel.

Detektif Jean menahan mulutnya. Tentu saja. Nama itu bukan sekadar nama—itu tanda kepemilikan.

Mereka mendapat kamar terpisah. Setidaknya secara administratif. Secara praktik, Robert Cox tampaknya menganggap itu hanya formalitas.

“Aku hanya ingin memastikan kau nyaman,” katanya sambil berdiri terlalu dekat di ambang pintu kamar Detektif Jean.

“Aku sangat nyaman … sendirian,” jawab Detektif Jean dengan senyum yang dipaksakan.

Pesta dimulai siang hari. Terang. Terbuka. Wajah-wajah terlihat jelas. Tidak ada bayangan untuk bersembunyi.

Detektif Jean nyaris mengumpat saat bercermin. Gaun satin elektrik biru—potongan rendah, terlalu rendah untuk matahari siang. Heels putih. Rambut disanggul sederhana. Anting dan kalung memantulkan cahaya laut. Ia tampak … mencolok. Terlalu mencolok untuk seorang detektif yang ingin tidak terlihat.

Tentu saja Robert Cox memilihkan semuanya.

Detektif Jean menggandeng tangan Robert Cox menuju pesta yang menghadap langsung ke laut Santorini—biru bertemu biru, gaun bertemu samudra. Musik lembut, gelas kristal, tawa mahal.

Robert Cox memperkenalkannya ke Hugo Frederick Kingsley—tuan rumah pesta, pemilik hotel, pria yang senyumnya seperti kontrak panjang dengan banyak catatan kecil.

Detektif Jean mulai sadar satu hal: orang-orang kaya tidak berpesta untuk bersenang-senang. Mereka berpesta untuk saling memamerkan.

Cox membawanya berkeliling, memperkenalkan Detektif Jean seperti trofi baru.

“Jen, ini kolegaku.”

“Jen, wanita yang kuceritakan.”

“Jen—ya, yang itu.”

Detektif Jean tersenyum, mengangguk, waspada. Matanya terus bergerak, menghindari beberapa nama: Albert Clark, Roland Watson, dan Patrick Mccarthy.

Terlambat.

Satu tatapan itu menangkapnya lebih dulu.

Albert Clark berhenti bicara. Gelas di tangannya tertahan di udara. Pria itu tertegun untuk beberapa saat. Hingga sebuah senyum tipis muncul—bukan senyum ramah. Senyum orang yang baru menemukan masalah lama di tempat yang salah.

Sial.

Detektif Jean berbalik. Terlalu cepat. Robert Cox akhirnya menyadari perubahan atmosfer itu.

“Jen …?”

Detektif Jean menatap pria itu. Tidak ada lagi senyum. “Aku minta maaf.”

Detektif Jean kemudian berlari. Gaun mahal atau tidak, Detektif Jean tetaplah detektif. Ia menerobos kerumunan, menuruni tangga batu. Teriakan pecah di belakangnya. Langkah-langkah berat menghantam lantai berniat mengejarnya.

Naas, satu heelsnya tersangkut.

Tidak sekarang.

Heels itu terlepas dari kakinya.

Detektif Jean berdecak kesal, mencabut heels satunya lalu menggenggamnya. Detektif Jean berlari tanpa alas kaki menyusuri jalanan putih di sepanjang pantai biru Santorini. Nafasnya berat. Pengawal-pengawal itu tidak berhenti.

Sebuah tangan tiba-tiba menariknya ke dalam bangunan putih.

Detektif Jean hampir menjerit—

Tapi suara itu tidak keluar. Ia melihat Tuan Winston berdiri di hadapannya.

Pria itu meletakkan telunjuk di bibirnya.

Diam.

Detektif Jean menatapnya, lalu tersenyum lega—napasnya masih terengah.

“Kau kembali, Tuan Winston,” bisiknya.

Lihat selengkapnya