Ketika sebuah perjalanan mempertemukan dua insan yang telah lama berpisah hanya untuk menyatukan mereka dalam sebuah rencana tidak masuk akal.
***
“Para penumpang yang terhormat. Saat ini kereta telah tiba di Stasiun—”
Seorang perempuan mengangkat pelipisnya dari bingkai jendela di sampingnya begitu mendengar suara pengumuman di dalam kereta. Matanya seketika terpaku pada tulisan di buku catatan yang dipangkunya.
12 Agustus 2025. Malioboro. Jangan lupa.
Perempuan itu menguap sesaat sebelum menutup buku catatannya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dekat jendela kemudian berjalan dari gerbong penumpang menuju gerbong makan.
Ketika perempuan itu baru saja menginjakkan kakinya di depan konter pesanan, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya.
Bunda: Niran, jangan lupa makan. Pesan saja di kereta.
Senyum simpul terbit di bibir perempuan itu seketika. Dalam sekejap, ia mengirimkan balasan: ‘Iya, Bunda’.
Baru saja perempuan itu hendak memasukkan ponselnya ke tas selempang dan memesan, tiba-tiba seorang kondektur menghampirinya.
“Mbak, duduk di 17D?”
Pertanyaan tersebut mendongakkan wajah perempuan itu dan membuat senyumnya lenyap seketika. “Ya? Kenapa, Mas?”
Kondektur tersebut manggut-manggut sejenak sebelum berkata, “Gini, Mbak. Ada penumpang yang baru naik dari stasiun ini dan tanya kalau boleh minta tuker kursi sama Mbak. Yang bersangkutan duduk di 17C—sebelah Mbak persis.”
Perempuan itu mengangkat setengah alisnya. “Oh, iya, nggak apa-apa.”
Tampak raut wajah lega sekaligus penuh rasa hormat di wajah sang kondektur. “Boleh saya periksa tiketnya?”
Perempuan itu merogoh isi tas selempangnya lalu memberikan secarik kertas putih bergaris jingga kepada sang kondektur.
“Mbak … Puspa Rindu Nirani,” ucap kondektur itu seraya membaca nama yang tercetak pada tiket. Lalu, sang kondektur kembali menatap perempuan itu dengan senyum sopan. “Oke, Mbak. Terima kasih banyak atas kerja samanya.”
Perempuan itu mengangguk kepada sang kondektur. Barulah ketika sang kondektur menghilang di balik pintu pembatas gerbong, ia kembali menghadap konter pesanan dan berbicara kepada pramusaji di sana.
“Nasi rendang satu, ya,” ucap perempuan itu.
“Baik, Kak,” sahut sang pramusaji dengan senyum sopan sebelum membuka plastik pelindung sepiring nasi rendang.