Exception

Amni Vora
Chapter #1

Sugar and Spices

Ketika sebuah perjalanan mempertemukan dua insan yang telah lama berpisah hanya untuk menyatukan mereka dalam sebuah rencana tidak masuk akal.

***

"Para penumpang yang terhormat. Saat ini kereta telah tiba di Stasiun—"

Seorang perempuan mengangkat pelipisnya dari bingkai jendela di sampingnya begitu mendengar suara pengumuman di dalam kereta. Matanya seketika tertuju pada tulisan di buku A5 yang dipangkunya.

12 Agustus 2025. Malioboro. Jangan lupa.

Perempuan itu menguap sesaat sebelum menutup buku catatannya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dekat jendela kemudian berjalan dari gerbong penumpang menuju gerbong makan.

Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselnya kala ia baru saja menyeberang ke gerbong makan. Pesan dari kontak bernama ‘Bunda’ membuat perempuan itu menatap ponselnya sesaat.

‘Niran, jangan lupa makan ya.’

Tanpa bisa dicegah, senyum lembut terbit di bibir merah meronanya.

‘Iya, Bunda’, balasnya dalam ketikan singkat.

Tidak butuh waktu yang lama bagi perempuan itu dalam memilih apa yang hendak dipesannya begitu sampai di depan meja kedai. Telunjuknya langsung bergerak ke gambar di buku menu yang menampilkan sebuah kudapan daging bersaus cokelat.

“Perjalanan dinas, Mbak?”

Perempuan itu menjawab pertanyaan sang pramusaji dengan senyum kecil dan gelengan pelan. “Bukan.”

Sang pramusaji mengangguk singkat sembari mengambil stok daging dari pendingin. “Saya hapal mbaknya karena hampir setiap hari mampir ke sini untuk beli rendang.”

Tawa hangat lolos dari bibir perempuan itu. “Saya suka jalan-jalan.”

Tatapan perempuan itu beralih pada jendela gerbong makan yang memperlihatkan betapa cepatnya kereta bergerak.

“Dan berada di mana saya bisa ke mana saja,” lanjut perempuan itu dengan suara yang lebih pelan.

Sang pramusaji tersenyum simpul sembari menuangkan rendang dari panci ke kotak makan. Senyum yang ditunjukkannya bukan sekadar senyum yang biasa digunakan sebagai bentuk formalitas, melainkan sebuah senyum yang mengandung kesepahaman dan pengertian.

Perempuan itu hendak membawa nasi rendangnya ke satu-satunya meja makan kosong di gerbong makan hingga seorang laki-laki tinggi berlengan dan bercelana panjang berhenti di meja yang sama pula.

“Ah, mau berbagi meja?” tanya laki-laki itu dengan sopan pada sang perempuan.

Lihat selengkapnya