Jatuh cinta bisa terasa seperti tiba-tiba menyukai minuman yang tadinya tidak kau suka.
***
“Kalau tebakan lo bener, gue bakal turun di stasiun berikutnya.”
Rindu melebarkan tatapannya. Ia seketika melirik kopi mereka yang sedikit bergetar akibat guncangan kereta.
“Soal alasan lo pesen kopi gula aren kayak gue,” Rindu menelan ludah sejenak, “atau alasan lo ada di si—”
“Bebas,” potong Kanda dengan senyum percaya diri. “Satu tebakan aja bener, gue bakal turun beneran.”
Mata Rindu terpaut pada mata Kanda. Terlepas dari senyum percaya dirinya nan santai, laki-laki itu tampak seolah tengah bersumpah melalui tatapannya. Alhasil, Rindu mengulang-ulang satu pertanyaan di kepalanya, yakni alasan Kanda bertaruh sejauh itu dengannya.
Setelah menarik napas panjang, Rindu akhirnya bertanya, “Dendam?”
Detik pertama, tidak ada jawaban. Detik kedua, Kanda hanya menatap Rindu datar. Barulah di detik ketiga, Kanda tersenyum penuh makna.
“Entah, ya.”
Jawaban ambigu Kanda mengerjapkan mata Rindu dan membuat keningnya mengernyit dalam.
“Dih! Mau lo apa, sih, sebenarnya?”
Saat Rindu membuang wajahnya ke jendela dengan pipi mengembang, Kanda tidak menghapus senyumnya. Laki-laki itu pun hanya menyeruput kopinya kembali, menatap Rindu dengan sudut matanya yang naik dan matanya yang bersinar.
Tatapan keduanya kembali bertemu ketika ponsel Kanda bergetar. Kanda menatap layar ponselnya sejenak sebelum mengangkat panggilan dengan tatapan ke arah jendela.
"Halo?" jawab Kanda.
Ekspresi terkejut Kanda membuat Rindu menatapnya penasaran. Namun, begitu Kanda menangkap keingintahuannya, Rindu kembali membuang wajah.
"Kenapa?" tanya Kanda dengan cengiran lebar. "Penasaran, ya?"
Rindu tidak menjawab, hanya menatap jendela dengan raut wajah pura-pura kesal.
“Ini soal Mira.”
Mendengar nama yang disebut Kanda, perhatian Rindu sontak terkunci pada wajahnya. Kanda pun tidak lagi menunjukkan senyum jenakanya.
“Tapi gue ceritakan di stasiun berikutnya aja, ya,” ujar Kanda dengan tenang sebelum menghabiskan kopinya.
“Jadi,” Rindu meneguk ludahnya susah payah, “kita bakal turun sebentar sebelum lo balik ke ….”
Beranjaknya Kanda dari kursi meja makan memotong ucapan Rindu seketika.
“Nggak. Gue bakal turun sepenuhnya di Jogja.”
Hening sejenak hingga suara pengumuman memenuhi gerbong kereta.
“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kereta akan tiba di Stasiun Yogyakarta. Bagi penumpang yang akan mengakhiri perjalannya di Stasiun Yogyakarta …”