Jatuh cinta bisa terasa seperti tiba-tiba menyukai minuman yang tadinya tidak kau suka.
***
Rindu dan Kanda berdiri di peron menghadap kereta yang diberangkatkan kembali dari Stasiun Tugu ke arah barat.
Dari sudut matanya, Rindu melirik was-was Kanda. Genggamannya pada teleskopik koper tidak melonggar seiring lirikannya pada Kanda kian waspada.
Seolah gerak-gerik Rindu tidak pernah luput dari perhatian Kanda, ia menoleh ke Rindu dengan cengiran lebar. “Ternyata lo turun di Jogja, ya. Rasanya seperti kebetulan karena lo juga nggak bisa menyembunyikan rasa penasaran lo, yang akibatnya gue juga jadi turun di Jogja.”
Rindu memutar bola matanya malas sebelum menggerutu, “Udah, ayo buruan. Gue mau tahu si Mira kenapa.”
Kanda terkekeh sebelum menggendong ranselnya dan mengikuti Rindu berjalan ke terowongan penyeberangan bawah tanah.
Begitu sampai di luar stasiun, Kanda langsung mengajak Rindu untuk berjalan mengikutinya menyeberang ke trotoar tempat kios-kios berjajar. Tidak ada sedikit pun omelan atau gerutuan lagi dari Rindu, berhubung rasa penasarannya lebih besar dari rasa kesalnya.
“Seperti yang kita tahu,” Kanda memulai dengan tenang, “Mira baru kemarin akad, kan? Nah, tapi sekarang—hari ini juga—dia dan suaminya malah ngilang. Resepsinya besok, padahal.”
Rindu menatap Kanda dengan kernyitan dahi dalam. “Hah?”
Melihat berbagai emosi tercurah di wajah Rindu, Kanda terkekeh di sebelahnya. Ekspresi Rindu sarat akan keterkejutan, kebingungan, kekhawatiran, dan penasaran.
“Ada urusan pekerjaan mendadak di Singapura. Cuma, yah, masalahnya teman-teman online-nya yang dari Eropa udah di Indonesia,” ucap Kanda, mengubah nada bicaranya menjadi serius. “Jadi lewat yang telepon gue tadi, dia minta kita gantiin posisinya sama suaminya buat resepsi doang.”
Rindu menghentikan langkahnya.
“Resepsi doang?” Mata Rindu membulat. “Doang, lo bilang?”
“Yah …,” Kanda menggaruk tengkuknya sambil menatap canggung delman-delman yang terparkir di samping trotoar. “Toh, di sana cuma ada teman-teman bulenya. Nggak ada kenalan kita.”
“Tetap aja!” Rindu berseru pada Kanda. “Telepon Mira sekarang!”
“Nggak bisa, sayang,” ucap Kanda dengan nada jengah sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan nama Mira dan panggilan keluar.