Pernikahan lebih dari sebuah cincin di jari manis. Cincin itu menyimpan janji, kasih, hingga visi.
Di saat akad menandakan dimulainya semua itu, resepsi menjadi titik selebrasi sekaligus motivasi terbentuknya sepasang suami istri. Makanan, musik, hingga dekorasi akan dibungkus dalam acara bernuansa elegan nan eksklusif.
Hotel berbintang dengan perpaduan arsitektur kontemporer dan ornamen lokal di sebuah pinggiran kota akan menjadi tempat Rindu dan Kanda berias untuk menggantikan pemeran utama sebuah resepsi. Matahari belum terbit sepenuhnya, tetapi perias dan penata rambut telah berdatangan ke kamar Rindu.
Rindu berdiri tegap di hadapan cermin, menatap pantulan dirinya yang terbalut gaun putih selutut berbahan scuba dengan belahan dada rendah dan lengan balon sebahu. Matanya tak lepas dari rambut sanggul tingginya yang membiarkan anak rambutnya tergantung secara alami di pelipis.
“Lipstiknya bagus, Ci,” komentar perias rambut Rindu terhadap perias wanita yang tengah membersihkan alat-alat riasnya.
“Oh, jelas dong, Sis,” balas perias wanita tersebut sambil melebarkan sudut bibirnya hingga matanya menyipit. “Udah paling cocok warna oranye buat undertone kakaknya yang hangat ini. Tatanan rambutnya juga elegan, Sis.”
Perias dan penata rambut tersebut menatap pantulan Rindu dengan bungah.
“Loh, hampir lupa sama ini,” perias tersebut berujar sambil melirik sepasang anting dan kalung mutiara yang tergeletak di meja rias.
Rindu mengerjapkan matanya. “Ah, saya nggak terbiasa pakai anting.”
Baik perias maupun penata rambut menyengir.
“Tenang, Kak. Ini ada magnetnya kok, jadi nggak menusuk,” ucap sang penata rambut, masih menyengir.
Rindu meneguk ludahnya dengan perlahan saat perias mengalungkan kalung mutiara di lehernya dan sang penata rambut menyematkan anting mutiara di cuping telinga. Aksesoris-aksesoris tersebut bukan hanya terlihat mahal, tetapi juga sukses menyulapnya menjadi bak seorang putri dari era klasik.
“Nah, sudah selesai,” ucap sang perias sambil bertepuk tangan sekali. “Cantik. Mirip sama Ci Mira, nggak, sih?”
Penata rambut wanita tersebut manggut-manggut. “Udah betul kakaknya yang dibawa ke sini. Oh, ya, kita belum lihat pengganti pengantin prianya, ya, tadi?”
Alis Rindu terangkat begitu mendengar Kanda disebut.
“Iya. Kata tim rias sebelah. alisnya ditebelin sedikit biar mirip. Tapi mereka sendiri malah pangling,” ujar perias wanita dengan kekehan kecil.
Sementara itu, Kanda membenahi kerah kemeja hitamnya sembari menatap pantulan wajahnya di cermin. Alisnya yang sedikit ditebalkan nyaris membuatnya menyemburkan tawa sebelum teman laki-laki Mira sekaligus penata rambut pria di sampingnya berdehem keras.
“Inget, ya, lo nggak bakal sendirian sama Rindu di sana nanti,” ucap teman Mira. “Jangan overreacting, out of character, dan terapin gestur-gestur yang udah gue briefing tadi.”
Kanda menyeringai dengan anggukan kecil. “Easy. Gue udah biasa acting.”
Teman Mira menaikkan setengah alisnya. “Acting plengar-plenger biar ga dikira masih suka sama Rindu?”