Di masa depan yang bergerak tanpa suara, Realitas Tertambah atau Augmented Reality bukan lagi sekadar gawai genggam atau visor tebal yang kaku. Teknologi itu telah menyatu dengan estetika hari-hari, menyamar dalam bentuk bingkai kacamata baca biasa yang terhubung langsung ke jaringan global. Tanpa perlu pisau bedah, tanpa ada prosedur bius rumah sakit, atau cip silikon yang ditanam di bawah tempurung kepala—cukup sistem neural wireless gelombang mikro berdaya rendah, saraf optik manusia kini dapat mengalirkan data visual langsung dari pelupuk mata. Dunia nyata dan lapis digital melebur menjadi satu kanvas yang tak terbedakan.
Namun, kesempurnaan selalu menyisakan celah bagi kehancuran. Di balik kenyamanan navigasi tanpa jeda itu, entitas digital tanpa wajah yang dijuluki "Angel Virus" bergerak diam-diam. Virus itu tidak merusak perangkat keras; ia menyusup lewat jalur neural wireless, meretas impuls-impuls sinapsis otak manusia, lalu memadamkan kesadaran para korban dari dalam. Ratusan orang tewas secara misterius—sebagian ditemukan kaku begitu saja di kursi kerja tanpa ada riwayat penyakit, sementara yang lain tiba-tiba melompat dari ketinggian tanpa alasan yang logis, menyisakan cangkang kosong tanpa pernah tahu kapan kesadaran mereka dicuri.
Di sebuah unit apartemen sudut kota yang sunyi, jauh dari ingar-bingar lampu neon distrik komersial, udara terasa berat oleh debu dan kesendirian. Di ruang tamu yang remang-remang, sebuah televisi tabung tua menyala sendiri, memantulkan cahaya biru pucat ke dinding yang mulai mengelupas.
Seorang pria bernama Tigor terlelap di atas sofa usang, napasnya berat, mengenakan kaos polos kusut yang telah kehilangan bentuk aslinya. Di meja kopi di depannya, berkas-berkas tagihan menumpuk berserakan di sebelah cangkir kopi yang telah meninggalkan kerak hitam pekat.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu itu terdengar pelan, namun cukup tajam untuk merobek keheningan ruangan.
Tigor tersentak. Kelopak matanya mengerjap berat, melawan sisa-sisa kantuk yang menempel di pelipisnya. Dengan langkah gontai dan wajah yang dipenuhi kekusutan berminggu-minggu, dia menyeret kakinya menuju pintu utama.
Begitu daun pintu berderit terbuka, dua sosok pria berpostur tegap berdiri di ambang koridor. Mereka mengenakan setelan jas hitam formal berpotongan rapi, sepatu pantofel yang mengkilap, dan di pangkal hidung mereka, bertengger kacamata AR model terbaru yang memantulkan lampu lorong redup. Tigor sama sekali tidak mengenali wajah mereka; garis rahang dan mata asing itu menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang belum pernah ia temui seumur hidupnya.
"Tigor?" tanya pria yang berdiri di sebelah kiri, suaranya tenang namun berwibawa.
Tigor tidak langsung menjawab. Ia bersandar pada kusen pintu, sebelah tangannya menggaruk rambutnya yang berantakan dengan tatapan curiga. "Kalian salah alamat, atau memang sedang mencari masalah di malam buta begini? Aku tidak kenal kalian."
"Kami memang tidak saling kenal, Kapten," balas pria satunya sambil melangkah sedikit mendekat, meski tetap menjaga jarak aman. "Atau lebih tepatnya... mantan Kapten."
Tigor mendengus pelan, menatap sinis ke arah bingkai kacamata digital di wajah mereka. "Panggilan itu sudah mati bersama lencana yang kukubur lima tahun lalu. Masuklah, jika kalian tidak keberatan dengan bau ruangan ini."
Di ruang tamu yang sempit itu, kedua pria asing tersebut berdiri dengan canggung di antara tumpukan barang yang tak beraturan. Mereka mengamati sekeliling dengan tatapan prihatin yang tidak disembunyikan.
"Aku masih tidak habis pikir," pria pertama membuka suara sembari melipat tangannya di dada, matanya menyapu sudut ruangan yang kotor dan suram. "Bagaimana mungkin seorang legenda dari divisi intelijen siber rahasia, orang yang dulu ditakuti sindikat neural-hijacking internasional, sekarang hidup seperti pertapa di lubang tikus? Kau membiarkan dirimu membusuk di sini, Tigor."
Tigor berjalan ke arah dapur kecil, menuangkan air keran ke dalam gelas plastik usang, lalu meneguknya tanpa minat. "Kebusukan adalah bentuk kejujuran yang paling murni, kawan," jawab Tigor datar tanpa menoleh. "Di dunia luar sana, orang-orang mengenakan jas rapi dan kacamata mahal, tapi pikiran mereka telah menjadi budak dari algoritma yang tidak mereka mengerti. Setidaknya di sini, kotoran ini milikku sendiri."
Pria berjas itu terdiam sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan tujuannya. "Kami tidak datang untuk menceramahi pilihan hidupmu. Kasus kematian misterius... telah mencapai eskalasi yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi oleh kepolisian konvensional."
Tigor berbalik, menatap tajam kedua orang asing di hadapannya. "Lalu kenapa kalian mencariku? Pimpinan di atas sana tahu persis aku telah melepaskan sumpahku."
"Karena institusi sudah kehabisan orang yang memiliki cara berpikir di luar sistem," sahut pria kedua dengan nada mendesak. "Korban terus berjatuhan. Ratusan jiwa mati secara misterius—ada yang tiba-tiba tewas tergeletak tanpa sebab di kamar mereka, ada pula yang mendadak melompat bunuh diri dari gedung tinggi tanpa jejak peretasan konvensional yang tertinggal. Ini bukan lagi kejahatan siber biasa; ini adalah pembantaian massal yang terstruktur. Dunia butuh seseorang yang tidak hanya tahu cara meretas, tapi juga seseorang yang paham bagaimana kegelapan bekerja."
Tigor tertawa kecil, suara tawa yang hambar dan penuh kepahitan. "Mencari keadilan? Di era di mana setiap orang bisa melihat ilusi di depan mata mereka melalui lensa kaca, keadilan hanyalah produk digital yang bisa dihapus dengan satu klik. Aku sudah pensiun. Dan kuharap kalian mengerti arti kata itu."
Pria pertama menghela napas berat, menyadari bahwa memaksa Tigor hanya akan menemui jalan buntu. Dari saku jas dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kartu kecil berwarna perak legam—kartu identitas khusus bercap lambang rahasia yang tidak tercatat dalam arsip negara. Ia meletakkan kartu itu perlahan di atas meja kopi yang penuh debu.
"Kami tidak bisa memaksamu, Tigor," ucapnya pelan. "Tapi ingatlah apa yang dikatakan oleh Seneca ribuan tahun lalu: 'Bukan karena segalanya sulit maka kita tidak berani, tapi karena kita tidak berani makanya segala sesuatu menjadi sulit.' Kau bersembunyi bukan karena lelah, tapi karena kau takut melihat betapa kacaunya dunia di luar sana saat kau memilih untuk menutup mata."
Kedua orang asing itu berbalik, melangkah keluar apartemen tanpa suara. Pintu tertutup rapat kembali, meninggalkan Tigor seorang diri di dalam keheningan yang menekan.
Tigor terpaku di depan meja. Jemarinya terulur menyentuh kartu perak itu. Permukaannya terasa dingin di kulitnya. Ada badai emosi yang bergolak di dalam dadanya—campuran antara rindu pada ketangkasan masa lalu dan rasa jijik pada ketidakberdayaan yang ia pelihara selama bertahun-tahun. Namun, pada akhirnya, Tigor menarik tangannya, mendengus pelan, lalu mematikan televisi dan kembali merebahkan diri di atas sofa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti roda gerigi mesin pabrik yang tidak pernah kenal lelah. Pagi hari dimulai dengan alarm digital yang berisik, disusul perjalanan singkat menuju kantor administrasi tempat Tigor bekerja sebagai juru tulis arsip rendahan.
Rutinitasnya monoton hingga pada batas yang menyiksa. Duduk di balik bilik kubikal sempit selama delapan jam, menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka dan laporan inventaris, lalu pulang menumpang kereta komuter yang sesak oleh ribuan pekerja berwajah lelah.
Di dalam gerbong kereta yang melaju kencang membelah malam kota, Tigor berdiri berpegangan pada tali pegangan tangan. Cahaya lampu kota berkejaran di luar jendela kaca yang berembun. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca—pria paruh baya dengan lingkaran hitam di bawah mata, mengenakan kemeja abu-abu kusam yang sama setiap hari.