SD - Tahun 2000 -2002 (Gretha kelas 4 - kelas 6)
Tak! Tak! Tak!
Bilah parang menghantam batang kayu yang dibelah Ibu, menciptakan bunyi nyaring yang memecah keheningan pagi. Setiap tebasan disusul suara kayu yang retak perlahan, krek... krek... sebelum akhirnya terbelah menjadi dua.
Begitu bunyi itu terdengar, mataku akan otomatis terbuka. Tidak ada jeda untuk menggeliat malas atau merapatkan selimut tebal yang kubagikan bersama Nenek ku. Tubuh kecilku sudah dilatih oleh keadaan untuk langsung bangkit.
Aku membuka kelambu yang di tutup rapat oleh Nenek, agar tidak ada satu nyamuk pun yang bisa masuk.
Sebelum berangkat Sekolah, aku sudah punya pekerjaan rumah, anak kecil berusia sepuluh tahun ini mendapatkan tugas untuk membersihkan rumah, mencuci piring dan menyapu halaman.
Setiap pagi, aku harus menyapu lantai semen rumah kami yang tak pernah benar-benar bersih. Permukaan semen itu sudah banyak yang terkelupas, menyisakan debu halus berwarna abu-abu yang selalu kembali muncul setiap kali diusap.
Kadang, Ibu menyuruhku untuk mengepel lantai dengan sisa ampas kelapa atau menggunakan minyak tanah dan di campur dengan lilin yang sudah di lelehkan, katanya agar lantainya mengkilap, alih-alih mengkilap, lantainya malah penuh dengan tapak kaki adik-adik ku.
Bau kayu bakar memenuhi seisi rumah. Sesekali, ketika angin berembus, asap itu terbawa masuk ke rumah dan membuat mata sedikit perih.
Aku tidak pernah membantah. Di usia sekecil itu, aku adalah anak yang sangat pemalu dan penakut. Suara nada tinggi sedikit saja dari orang dewasa sudah cukup untuk membuat tenggorokanku tercekat dan mataku panas.
Namaku Gretha, aku anak pertama dari 3 bersaudara, aku satu-satunya perempuan. Adik ku berusia delapan tahun dan lima tahun. Menjadi anak perempuan satu-satunya, bukan berarti aku di manja. Aku di didik sangat keras oleh Ayahku. Ayahku memiliki suara yang keras, jika dia marah tak hanya suara bentakannya yang terdengar namun tangannya pun akan bergerak. Di usiaku yang sekecil itu, aku sudah lupa kapan aku di peluk Ayahku.
Ayahku tidak jahat, hanya saja cara mendidiknya sangat mengerikan. Di bagian atas pintu dapur, ada sebuah kayu rotan panjang yang akan dia gunakan jika dia sedang menghukumku atau adik-adik ku.
Orang-orang tua di sekitar rumah sering memujiku. "Duh, rajin sekali anak ini, masih kecil sudah pintar bantu-bantu orang tua." Namun, pujian itu tidak pernah terasa seperti satu hal yang membuatku bangga. Bagiku, itu adalah stempel yang mengikatku. Itu bukan pilihan yang kubuat karena kerelaan hati, melainkan mode bertahan hidup yang dipaksakan oleh keadaan.
Rasa lelah fisik di usia delapan tahun mungkin bisa hilang setelah aku menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-temanku. Tapi, aku punya waktu bermain. Pukul empat sore, aku sudah harus kembali ke rumah, jika tidak Ayahku akan menyusul sambil berteriak memanggilku. Jika dia tidak membawa kayu rotannya, dia akan mengambil kayu apapun yang ada di sekitarnya untuk memukulku.
Aku punya seorang Sahabat baik, rumahnya berada persis di samping rumhaku. Namanya There. Dia dari keluarga berada. Dia juga melakukan pekerjaannya sebelum berangkat ke Sekolah walaupun ada Kakak-kakaknya yang bisa saja membantu untuk membersihkan rumah dan lainnya. There membantu untuk mendapatkan tambahan uang jajan atau hadiah, tetapi aku melakukannya untuk bertahan.