Sepulang Sekolah, aku melihat rumahku ramai. Kakek dan saudara Ibu dari kampung datang ke rumah. Aku langsung menghambur ke pelukan mereka satu persatu dan berakhir di pangkuan Kakek.
Aku melihat begitu banyak bawaan mereka dari kampung. Ada dua karung beras, sayuran dan bumbu dapur. Ada sekitar 5 ekor Ayam kampung yang di ikat di belakang dapur.
Brak-kletak-kletak! terdengar bertumpuk dan saling berbenturan, bambu-bambu yang di ambil dari ladang.
Aku melihat Kakek. Kakek hanya tersenyum kecil dan senyuman Kakek seperti memberikan jawaban yang aku nantikan.
Yes!!! Komuni pertama ku di rayakan. Sebenarnya bukan suatu hal yang wajib harus bikin pesta, tapi saat itu hampir semua keluarga akan membuat pesta syukuran saat anak mereka menerima komuni pertama.
Aku melirik Ayahku, dia sedang sibuk dengan parang yang di ikat di pinggangnya, tubuhnya berkeringat namun pancaran semangatnya saat itu membuatku ingin menangis. Dia memang tidak pernah memujiku, memeluk ku atau bersikap lembut padaku, tetapi dia tau apa yang anaknya mau dan akan mengusahakannya.
Sebelumnya aku memang sempat bertanya, apakah nanti ada pesta saat aku menerima komuni pertama? Mereka menjawab dengan lantang, TIDAK! Saat itu aku ingin menangis, tetapi menahannya, karena aku hanya akan di omelin jika aku menangis.
Saat keluarga Ibu datang, aku tidak melakukan pekerjaan apapun. Aku merasakan, enaknya jadi anak kecil. Aku di pangku, di peluk dan sangat di manja oleh keluarga Ibu. Selama ini, karena mereka jauh, yang memperlakukan ku seperti itu hanya Nenek.
"Jangan terlalu di manja, nanti kebiasaan." Kata Ibuku, sambil melirik Kakek.
Kakek tidak perduli sama sekali, saat ada mereka kantong celanaku tidak pernah kosong, selalu ada isinya. Ada beberapa lembar uang seratus rupiah, dan juga lima ratus. Akhirnya aku merasakan memegang beberapa lembar uang bergambar orang hutan.
Aku bolak-balik ke kios untuk jajan. Aku menikmati hari-hari saat ada Kakek. Kakek ku seorang Guru, Ibuku dari keluarga berada tapi saat bersama Ayahku kenapa dia tiba-tiba hidup sangat kekurangan. Tapi anehnya, Ibu tidak pernah mengeluh sama sekali.