Eyẃ

Ntalagewang
Chapter #3

Bab 3

Jam empat pagi, aku dan kedua orang tuaku sudah bangun. Tante ku, adik dari Ibu, sudah menyiapkan peralatan make up nya, baju yang akan di pakai Bapak dan Ibu ke Gereja sudah menggantung rapi di paku dinding kamar. Baju yang mereka kenakan nanti sangat bagus. Aku tebak, baju-baju itu di sponsori oleh Kakek, atau mungkin adik dari Mama.

Aku dan Ibuku di make up secara bergantian, selesai make up, aku memakai gaun brokat putih panjang yang anggun. Rambutku yang panjang dibiarkan terurai, kali ini rambut keritingku sangat bagus dan rapi, dihiasi mahkota bunga putih yang melingkari bagian atas kepalanya. Mahkota tersebut tersusun dari rangkaian bunga-bunga kecil berwarna putih dengan beberapa aksen daun, sehingga tampak lembut dan feminin. Perpaduan gaun putih panjang dan mahkota bunga tersebut memberikan kesan anggun, polos, dan khidmat . Ini adalah hari yang paling bahagia bagiku, selama ini aku tidak pernah di rayakan.

Aku melihat pantulan wajahku di kaca. Bibirku berwarna merah tipis, pipiku ada warna pink nya juga, aku memuji kecantikan diriku namun sirna saat mendengar kata, "Jangan bersolek terus." Kata-kata dari Bapak membuatku langsung berhenti tersenyum di depan kaca.

Aku mengedarkan pandanganku, mencari sang penyelamat. Senyumku muncul saat Nenek melihatku.

"Cantik sekali cucuku ini." Kata Nenek, dia berkali-kali memberikan pujian padaku. Dialah yang membelikan baju, mahkota dan sepatu ku. Semua yang aku pakai di sponsor oleh Nenek ku. Aku kadang bingung, Nenek ku yang sangat sederhana itu, memiliki banyak uang. Aku lebih percaya Nenek ku punya banyak uang, di bandingkan dengan Ayahku punya banyak uang.

Ibuku mengenakan atasan brokat putih dengan rok tenun, dan Ayahku menggunakan baju putih dan Jas hitam. Aku melihat penampilannya saat itu, seperti melihat Kepala Sekolahku. Saat dia memakai, dia terlihat kaya di mataku.

Pagi itu, setiap jalan yang kami lewati menuju Gereja sangat ramai. Hampir semua jalanan yang di lewati ada tenda, musik pun mengalun mengiringi langkah kami. Di halaman Gereja warna putih mendominasi. Kami mulai berbaris sesuai urutan saat latihan, kedua orang tua kami berdiri di kiri dan kanan, mendampingi kami, anak-anak yang akan menerima komuni pertama. Di depanku, ada Edward dan kedua orang tuanya. Aku baru tau, kalau Ayahku dekat dengan Ayahnya Edward. Mereke berbicara tentang keluarga, yang aku kutip sedikit, kalau aku dan Edward adalah saudara yang bisa di jodohkan.

Aku menatap lilin panjang yang aku pegang saat itu, tiba-tiba, dengan sengaja Edward menghantam lilin ku , seolah-olah sedang bermain samurai. Belum sempat aku membalas, orang tua Edward langsung menegurnya, dan menyurug Edward untuk minta maaf.

Lonceng Gereja berbunyi, suasana mulai hening. Lagu koor terdengar dan satu persatu dari kami masuk ke dalam Gereja.

Misa Komuni Pertama di gereja berlangsung dalam suasana yang khidmat, sakral, dan penuh sukacita. Anak-anak yang mengikuti Komuni Pertama biasanya mengenakan pakaian putih yang rapi dan seragam sebagai simbol kesucian dan kesiapan mereka menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya. Mereka duduk dengan tertib di dalam gereja, mengikuti rangkaian misa bersama keluarga dan umat yang hadir.

Lihat selengkapnya