Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #1

1

Di tengah keramaian kota yang tak pernah tidur, ada dua hati yang bertemu dalam keheningan yang tak terduga. Zayden, pria dengan masa lalu penuh luka, dan Kirana, wanita yang mencoba mengobati dirinya dari bayang-bayang kesendirian. Mereka datang dari dunia yang berbeda, dengan cerita yang saling bersinggungan tanpa pernah diduga sebelumnya.

Namun, seperti denyut nadi yang perlahan memudar, hubungan mereka pun diuji oleh waktu dan keadaan. Cinta yang awalnya bersemayam hangat, mulai terkikis oleh rasa takut, keraguan, dan kenyataan yang tak selalu manis.

Apakah mereka mampu mempertahankan asa yang tersisa? Ataukah semua akan berakhir seperti detak jantung yang perlahan menghilang dalam keheningan?

Ini adalah kisah tentang menemukan kembali diri sendiri, tentang keberanian untuk mencintai, dan tentang harapan yang tak pernah benar-benar padam. Sebuah perjalanan yang akan mengajarkan bahwa kadang, cinta sejati adalah tentang bertahan saat semuanya terasa rapuh.

Zayden menatap jam di dinding ruang kerjanya dengan mata yang mulai lelah. Satu jam lagi menuju akhir hari, tapi pikirannya masih berputar pada proposal yang harus ia kirimkan esok pagi. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang semakin menumpuk. Setiap hari terasa sama, penuh tekanan dan rutinitas tanpa ujung.

Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan, membasahi jalanan kota yang ramai. Suara rintikannya seperti mengiringi suasana hati Zayden yang berat. Ia menyesal tidak pernah memberi waktu untuk dirinya sendiri, apalagi untuk urusan hati yang pernah terluka beberapa tahun lalu.

Sementara itu, di sebuah kafe kecil tak jauh dari sana, Kirana duduk sambil menyesap kopi hangat. Matanya terpaku pada buku yang ia baca, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu yang belum sepenuhnya ia lepas. Hatinya yang dulu pernah pecah karena cinta, kini masih rapuh, membuatnya ragu membuka diri lagi.

Hari itu, seperti biasanya, Kirana datang ke kafe favoritnya untuk mencari ketenangan. Ia tak menyangka bahwa pertemuan sederhana akan mengubah arah hidupnya.

Pintu kafe terbuka dan angin dingin masuk, mengusik aroma kopi dan suara lembut musik jazz yang mengalun. Zayden masuk dengan jas yang sedikit basah oleh hujan, mencari tempat duduk kosong. Matanya langsung tertuju pada Kirana, yang duduk sendiri di sudut ruangan.

Ada sesuatu dalam tatapan Kirana yang membuat Zayden terhenti sejenak. Mungkin itu adalah kesendirian yang sama-sama mereka rasakan, atau kehangatan yang tersembunyi di balik wajah yang serius.

"Bolehkah saya duduk di sini?" tanya Zayden dengan suara rendah, berusaha menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba menyergap.

Kirana mengangkat pandangannya dan tersenyum kecil. "Silakan," jawabnya lembut.

Percakapan mereka dimulai dengan ringan, membahas cuaca dan kafe yang menjadi tempat pelarian mereka masing-masing. Tapi seiring waktu, obrolan itu berubah menjadi lebih dalam, membuka sisi diri yang selama ini tersembunyi.

Zayden merasa nyaman untuk pertama kali dalam waktu lama. Kirana pun merasakan sesuatu yang hangat dan berbeda, seperti harapan yang perlahan tumbuh kembali.

Hujan yang semakin deras di luar menjadi saksi bisu pertemuan dua hati yang mulai mencari jalan untuk sembuh dan saling mengisi kekosongan.

Di tengah hiruk-pikuk kota, di sebuah sudut kafe kecil, Zayden dan Kirana memulai bab baru dalam hidup mereka — bab yang penuh ketidakpastian tapi juga penuh kemungkinan.

Sejak pertemuan tak terduga di kafe itu, Zayden merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Biasanya, ia menghindari percakapan yang terlalu pribadi, tapi bersama Kirana, kata-kata mengalir begitu saja tanpa terasa berat. Mereka mulai sering bertemu, kadang hanya untuk minum kopi atau sekadar berbagi cerita.

Namun, di balik senyum dan tawa yang mereka bagi, keduanya menyimpan luka yang belum sembuh. Zayden teringat bagaimana dulu ia kehilangan seseorang yang sangat berarti—ibunya. Kehilangan itu membuatnya menutup hati, fokus pada pekerjaan agar tidak teringat kesedihan. Sedangkan Kirana, pernah dikhianati oleh orang yang paling ia cintai, membuatnya takut membuka diri kembali.

Pada suatu sore, mereka berjalan di taman kota. Daun-daun gugur berjatuhan, menyisakan udara dingin yang menusuk kulit. Kirana tampak termenung, sesekali menatap ke kejauhan.

"Ada apa, Kirana? Kau kelihatan berbeda hari ini," tanya Zayden lembut.

Lihat selengkapnya