Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #2

2

Beberapa minggu setelah mereka mulai melangkah bersama, ujian pertama datang tanpa diduga. Kirana menerima pesan dari sosok masa lalunya yang selama ini membayangi pikirannya. Pesan itu singkat tapi cukup untuk mengguncang hatinya dan membuatnya meragukan segala sesuatu yang telah dibangun bersama Zayden.

Zayden yang mengetahui hal ini merasa resah. Ia tidak ingin menjadi batu sandungan bagi Kirana, namun ia juga tidak bisa membiarkan rasa cemburu dan ketidakpastian merusak hubungan yang baru mulai mereka bangun.

Malam itu, mereka duduk berdua di ruang tamu Kirana. Suasana hening dan tegang mengisi ruangan. Zayden akhirnya membuka pembicaraan.

"Kirana, aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu. Aku ingin kau jujur padaku," katanya dengan suara lembut.

Kirana menunduk, menahan air mata. "Dia... dia menghubungiku lagi. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku takut ini akan menghancurkan kita."

Zayden menghela napas, merasakan beratnya situasi. "Aku percaya padamu, Kirana. Tapi aku juga takut kehilanganmu."

Kirana mengangkat wajahnya dan melihat mata Zayden yang penuh harap. "Aku juga takut, tapi aku tidak ingin kehilanganmu."

Mereka saling menggenggam tangan, mencoba menenangkan hati masing-masing. Ujian ini bukan hanya tentang kehadiran orang lain, tapi tentang seberapa kuat kepercayaan yang mereka miliki.

Hari-hari berikutnya, Kirana berusaha untuk tegas dan jujur dalam menghadapi masa lalunya. Ia tidak menghindar, tapi juga tidak membiarkan masa lalu itu mengganggu hidupnya yang baru.

Zayden pun berusaha menunjukkan dukungan tanpa membebani Kirana dengan rasa cemburu yang berlebihan. Ia belajar untuk percaya dan memberi ruang bagi Kirana, meskipun hatinya terkadang tidak tenang.

Mereka melewati malam-malam dengan percakapan panjang, membicarakan rasa takut, harapan, dan janji-janji yang ingin mereka pegang bersama. Setiap kata menjadi pengikat yang menguatkan hubungan mereka.

Suatu malam, saat Kirana tertidur, Zayden duduk di sampingnya, menatap wajah yang damai. Ia berjanji dalam hati untuk selalu menjadi pelindung dan pendukung bagi wanita yang telah membuka hatinya.

Fading heartbeats mereka kini berdenyut lebih pasti, meskipun terkadang ada gangguan yang mencoba merusak irama itu. Namun, cinta yang tulus selalu menemukan jalannya untuk bertahan.

Beberapa minggu setelah ujian kepercayaan itu berlalu, Zayden dan Kirana merasa hubungan mereka semakin kuat. Namun, hidup selalu punya caranya sendiri untuk menguji keteguhan hati seseorang. Titik balik yang tak terduga datang ketika Zayden mendapat tawaran pekerjaan di luar kota, sebuah kesempatan yang sudah lama ia impikan.

Saat berita itu sampai ke telinga Kirana, hatinya berdebar campur aduk. Di satu sisi, ia tahu ini adalah peluang besar bagi Zayden. Namun, di sisi lain, bayangan akan jarak dan waktu yang memisahkan mereka membuatnya merasa takut kehilangan.

Malam itu, mereka duduk di balkon apartemen Zayden, menatap bintang-bintang yang berkelip di langit gelap. Suasana hening, hanya suara angin yang berbisik lembut.

"Kirana, aku ingin jujur padamu. Aku mendapat tawaran kerja di luar kota. Ini kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali," ujar Zayden dengan suara pelan.

Kirana menggigit bibir bawahnya, mencoba menyembunyikan gejolak perasaannya. "Aku tahu ini penting untukmu, Zayden. Tapi bagaimana dengan kita?"

Zayden menatap dalam mata Kirana. "Aku tidak mau kehilanganmu. Aku ingin kita tetap bersama, meski jarak memisahkan. Aku percaya cinta kita cukup kuat untuk melewati ini."

Lihat selengkapnya